Menjadi Penyambung Lidah Allah
Menjadi Penyambung Lidah Allah
Dalam Bilangan 4:15–20, kita melihat bagaimana Tuhan
memberikan petunjuk yang sangat terperinci mengenai tugas orang Kehat dalam
mengangkut perlengkapan Kemah Suci. Sebelum orang Kehat menjalankan tugasnya,
Harun dan anak-anaknya harus terlebih dahulu menutupi barang-barang kudus
tersebut. Orang Kehat tidak boleh menyentuh atau melihat barang-barang itu
secara langsung, sebab pelanggaran terhadap ketetapan Tuhan dapat mendatangkan
kematian. Melalui Musa, Tuhan menyampaikan aturan tersebut agar pelayanan orang
Kehat dapat berlangsung dengan benar dan mereka tidak mengalami kebinasaan.
Bagian ini memperlihatkan bahwa pelayanan terhadap perkara-perkara kudus harus
dilakukan sesuai dengan ketetapan Tuhan. Ketentuan tersebut tidak boleh
diabaikan hanya karena seseorang sedang menjalankan tugas yang penting. Dalam
penerapan yang lebih luas, hal ini mengingatkan kita bahwa orang yang
menyampaikan firman Tuhan juga memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan
kebenaran dengan setia, bukan menggantinya dengan keinginan pribadi. Musa tidak
menyampaikan pemikirannya sendiri, melainkan meneruskan perintah yang
diterimanya dari Tuhan. Ia memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan firman
dengan setia, sekalipun perintah itu mengandung batasan-batasan yang harus
dipatuhi umat. Hal ini mengajarkan bahwa menjadi penyambung lidah Allah bukan
sekadar memiliki keberanian untuk berbicara, melainkan juga memiliki kesetiaan
untuk menyampaikan kebenaran sesuai dengan kehendak-Nya.
Sebagai orang percaya, kita juga dipanggil untuk menjadi
penyambung lidah Allah di tengah dunia. Namun, kita perlu memahami bahwa
tanggung jawab ini bukan berarti kita bebas berbicara atas nama Tuhan
berdasarkan keinginan atau pemikiran pribadi. Kita harus menyampaikan kebenaran
berdasarkan firman-Nya, bukan memanipulasi firman untuk membenarkan kepentingan
sendiri. Kita tidak memiliki hak untuk mengubah kebenaran Tuhan demi
menyenangkan manusia. Sebaliknya, kita dipanggil untuk menyampaikan kebenaran dengan
kasih, kerendahan hati, dan kesetiaan. Selain itu, bagian ini mengingatkan kita
bahwa dalam melayani Tuhan ada batasan-batasan yang harus dihormati. Orang Kehat
memang dipercayakan tugas yang penting, tetapi mereka tidak diperbolehkan
melakukan segala sesuatu sesuka hati. Tuhan menentukan tugas, tanggung jawab,
dan cara pelaksanaannya. Demikian pula dalam kehidupan kita, semangat melayani
tidak boleh membuat kita mengabaikan ketetapan Tuhan, melampaui tanggung jawab
orang lain, atau menganggap bahwa tujuan yang baik membenarkan segala cara.
Ketaatan bukan hanya terlihat ketika kita melakukan apa yang Tuhan perintahkan,
tetapi juga ketika kita bersedia tidak melakukan apa yang Tuhan larang.
Tanggung jawab kita sebagai penyambung lidah Allah juga tidak berhenti pada
perkataan. Dalam 2 Korintus 3:2–3, Paulus menggambarkan orang percaya sebagai
surat Kristus yang dapat dikenal dan dibaca oleh semua orang. Gambaran ini
mengingatkan kita bahwa kesaksian Kristen tidak berhenti pada apa yang kita
katakan, tetapi juga terlihat dalam cara kita memperlakukan sesama dan
menjalankan tanggung jawab. Artinya, kehidupan kita menjadi kesaksian yang
dapat diamati oleh orang lain. Mereka
melihat bagaimana kita berbicara, bekerja, memperlakukan sesama, menyelesaikan
konflik, dan menjalankan tanggung jawab. Karena itu, kita tidak cukup hanya
berbicara tentang kasih jika kita sendiri tidak mengasihi; tidak cukup
mengajarkan kejujuran jika kita masih hidup dalam ketidakjujuran; dan tidak
cukup memberitakan pengampunan jika kita terus memelihara kebencian.
Saudara,
apakah perkataan dan tindakan kita sudah
mencerminkan kebenaran Allah, atau justru lebih banyak mencerminkan keinginan
pribadi? Biarlah kiranya kita menjadi penyambung
lidah Allah yang setia, menghormati batasan-batasan yang ditetapkan-Nya, dan
menghadirkan nilai-nilai Kerajaan-Nya melalui kehidupan sehari-hari. Biarlah
perkataan kita menyampaikan kebenaran, tindakan kita mencerminkan kasih, dan
seluruh kehidupan kita menjadi surat Kristus yang terbuka, sehingga melalui
diri kita, orang lain dapat mengenal dan memuliakan Allah. (FS)

Komentar
Posting Komentar