Jangan Manfaatkan Orang yang Sedang Jatuh

Kamis, 10 September 2026
Jangan Manfaatkan Orang yang Sedang Jatuh 
Bacaan Alkitab : Imamat 25:39-43

Imamat 25:39–43 berbicara tentang seorang Israel yang jatuh miskin dan karena keadaan ekonominya terpaksa menjual dirinya untuk bekerja kepada sesamanya. Namun, Tuhan memberikan batas yang tegas: “Janganlah ia melakukan pekerjaan seorang budak.” Bagian ini perlu dipahami dalam konteks kehidupan Israel sebagai umat perjanjian. Kondisi seorang Israel yang miskin tidak boleh disamakan begitu saja dengan sistem perbudakan yang kejam dalam sejarah manusia, di mana manusia dapat diperlakukan sebagai barang milik. Orang Israel yang miskin tetap adalah saudara dan tetap umat Allah yang telah ditebus Tuhan dari Mesir. Kondisi ekonominya dapat berubah, tetapi kedudukannya sebagai bagian dari umat Allah tidak berubah. Karena itu, ayat 42 memberikan alasan yang sangat penting: “Karena mereka adalah hamba-hamba-Ku yang Kubawa keluar dari tanah Mesir.” Mereka bukan milik manusia secara mutlak. Mereka adalah milik Tuhan.

Orang yang sedang jatuh secara ekonomi berada dalam posisi yang lebih lemah. Ia membutuhkan pekerjaan, membutuhkan pinjaman, membutuhkan bantuan, atau membutuhkan kesempatan untuk bangkit. Dalam keadaan seperti itu, orang yang lebih kuat memiliki pilihan: menolong atau memanfaatkan. Sayangnya, kita bisa dengan mudah melihat kebutuhan orang lain sebagai kesempatan untuk mendapatkan keuntungan lebih besar. Seseorang sedang membutuhkan uang, kita memberikan pinjaman dengan tuntutan yang mencekik. Seseorang membutuhkan pekerjaan, kita memberikan upah yang tidak layak karena tahu ia tidak memiliki pilihan lain. Seseorang sedang berada dalam kesulitan, kita memanfaatkan keadaannya untuk mendapatkan keuntungan bagi diri sendiri. Secara sederhana, kita mungkin berpikir, “Dia sendiri yang membutuhkan.” Tetapi prinsip Imamat 25 mengingatkan bahwa kebutuhan seseorang tidak pernah menjadi izin bagi kita untuk memperlakukannya tanpa belas kasih. Menariknya, Tuhan menghubungkan larangan untuk berlaku kejam dengan takut akan Allah. Mengapa? Karena ketika kita memiliki kekuatan atas seseorang, kita perlu mengingat bahwa kita sendiri berada di bawah kekuasaan Allah. Kita mungkin memiliki uang lebih banyak, jabatan lebih tinggi, bisnis yang lebih besar, atau posisi yang lebih kuat. Tetapi kekuatan tersebut bukan diberikan supaya kita dapat mengambil keuntungan dari orang yang lebih lemah. Kekuatan adalah sebuah kepercayaan.

Saudara, pernahkah kita memanfaatkan kelemahan, kebutuhan, atau keterdesakan seseorang demi keuntungan kita sendiri? Biarlah kiranya kita tidak menjadi orang yang menggunakan kelemahan orang lain untuk memperbesar keuntungan diri sendiri. Ketika Tuhan menempatkan seseorang yang sedang jatuh di hadapan kita, kiranya kita tidak melihatnya sebagai kesempatan untuk mengambil lebih banyak, tetapi sebagai kesempatan untuk menunjukkan kasih, keadilan, dan kemurahan hati. (FS)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gaung Kekudusan Hidup

Kesiapan dalam Kesucian