Jangan Manfaatkan Orang yang Sedang Jatuh
Jangan Manfaatkan Orang yang Sedang Jatuh
Imamat 25:39–43 berbicara tentang seorang
Israel yang jatuh miskin dan karena keadaan ekonominya terpaksa menjual dirinya
untuk bekerja kepada sesamanya. Namun, Tuhan memberikan batas yang tegas: “Janganlah
ia melakukan pekerjaan seorang budak.” Bagian ini perlu dipahami dalam
konteks kehidupan Israel sebagai umat perjanjian. Kondisi seorang Israel yang
miskin tidak boleh disamakan begitu saja dengan sistem perbudakan yang kejam
dalam sejarah manusia, di mana manusia dapat diperlakukan sebagai barang milik.
Orang Israel yang miskin tetap adalah saudara
dan tetap umat Allah yang telah ditebus Tuhan dari Mesir. Kondisi ekonominya
dapat berubah, tetapi kedudukannya sebagai bagian dari umat Allah tidak
berubah. Karena itu, ayat 42 memberikan alasan yang sangat penting: “Karena
mereka adalah hamba-hamba-Ku yang Kubawa keluar dari tanah Mesir.” Mereka
bukan milik manusia secara mutlak. Mereka adalah milik Tuhan.
Orang yang sedang jatuh secara ekonomi berada
dalam posisi yang lebih lemah. Ia membutuhkan pekerjaan, membutuhkan pinjaman,
membutuhkan bantuan, atau membutuhkan kesempatan untuk bangkit. Dalam keadaan
seperti itu, orang yang lebih kuat memiliki pilihan: menolong atau memanfaatkan. Sayangnya, kita bisa dengan mudah
melihat kebutuhan orang lain sebagai kesempatan untuk mendapatkan keuntungan
lebih besar. Seseorang sedang membutuhkan uang, kita memberikan pinjaman dengan
tuntutan yang mencekik. Seseorang membutuhkan pekerjaan, kita memberikan upah
yang tidak layak karena tahu ia tidak memiliki pilihan lain. Seseorang sedang
berada dalam kesulitan, kita memanfaatkan keadaannya untuk mendapatkan
keuntungan bagi diri sendiri. Secara sederhana, kita mungkin berpikir, “Dia
sendiri yang membutuhkan.” Tetapi prinsip Imamat 25 mengingatkan bahwa kebutuhan seseorang tidak pernah menjadi izin
bagi kita untuk memperlakukannya tanpa belas kasih. Menariknya, Tuhan
menghubungkan larangan untuk berlaku kejam dengan takut akan Allah. Mengapa? Karena ketika kita memiliki kekuatan
atas seseorang, kita perlu mengingat bahwa kita sendiri berada di bawah
kekuasaan Allah. Kita mungkin memiliki uang lebih banyak, jabatan lebih tinggi,
bisnis yang lebih besar, atau posisi yang lebih kuat. Tetapi kekuatan tersebut
bukan diberikan supaya kita dapat mengambil keuntungan dari orang yang lebih
lemah. Kekuatan adalah sebuah kepercayaan.
Saudara, pernahkah kita memanfaatkan kelemahan,
kebutuhan, atau keterdesakan seseorang demi keuntungan kita sendiri? Biarlah kiranya kita tidak menjadi orang
yang menggunakan kelemahan orang lain untuk memperbesar keuntungan diri
sendiri. Ketika Tuhan menempatkan seseorang yang sedang jatuh di hadapan kita,
kiranya kita tidak melihatnya sebagai kesempatan untuk mengambil lebih banyak,
tetapi sebagai kesempatan untuk menunjukkan kasih, keadilan, dan kemurahan
hati. (FS)

Komentar
Posting Komentar