Sin Of Omission – Dosa Kelalaian
Sin Of Omission – Dosa Kelalaian
Bagian pertama dalam pasal 5 ini
menyoroti jenis dosa yang sering tampak kecil, tersembunyi bahkan tidak
disengaja dalam kehidupan sehari-hari. Dosa-dosa tersebut muncul ketika
seseorang berdosa karena diam saat mengetahui kebenaran, ketika ia menjadi najis
tanpa sadar karena menyentuh yang najis, atau ketika ia mengucapkan sumpah
secara ceroboh. Hal ini mungkin terlihat sepele di mata manusia, tetapi tidak
di hadapan Allah yang kudus. Pada ay. 5-6 Allah menuliskan bahwa dosa-dosa
tersebut tetap memerlukan pengakuan dan penebusan melalui korban penebus dosa
berupa kambing atau domba betina yang tidak bercela. Sehingga, Imam dapat
mengadakan pendamaian dengan Allah.
Saudara, salah satu dosa yang
disebut di atas adalah dosa karena diam. Para ahli perjanjian lama melihat ayat
ini sebagai gambaran dari apa yang disebut
dosa kelalaian (sin of omission). Sin of omission terjadi
saat hati kita tahu apa yang benar, tangan kita mampu untuk melakukannya,
tetapi kita memilih untuk tidak bergerak. Dosa bukan hanya saat kita melakukan
yang salah, tetapi juga saat kita gagal melakukan yang benar ketika Allah
memberikan kesempatan, pengetahuan, dan kemampuan untuk melakukannya. Prinsip
ini ditegaskan kembali dalam Perjanjian Baru, “ Jika seseorang tahu bagaimana
ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” (Yakobus 4:
17). Alkitab memberikan gambaran nyata tentang dosa ini melalui suatu
perumpamaan yang sangat kita kenal, yaitu kisah orang Samaria yang murah hati
dalam Lukas 10: 25-37. Imam dan orang Lewi tidak memukul atau merampok orang
yang terluka itu. Namun mereka berdosa karena memilih untuk tidak menolong
meskipun mereka melihat dengan jelas ada orang yang membutuhkan pertolongan.
Pada masa kini mungkin kita tidak
pernah melakukan kejahatan besar. Namun, mungkinkah kita sering berjalan
melewati “orang yang terluka” dalam hidup kita? Kita diam saat melihat
ketidakadilan di tempat kerja, tidak menolong saat sebenarnya kita mampu menolong,
tidak menegur dalam kasih saat melihat saudara jatuh dalam dosa, tidak
mendoakan saat Allah telah menggerakkan hati kita. Semua itu dapat menjadi
bentuk sin of omission. Dosa ini berbahaya karena terlihat tidak
berbahaya. Ia akan menjadikan hati menjadi tumpul tanpa kita sadari dan
perlahan mengikis kasih dalam diri kita. Karena itu, Firman Tuhan hari ini
mengajak kita bukan hanya untuk menghindari kejahatan, tetapi juga untuk peka
terhadap kesempatan berbuat kebaikan yang Tuhan letakkan di sekitar kita. Jika
hari ini Roh Kudus menyadarkan kita akan kelalaian-kelalaian tersebut, jangan
mengeraskan hati. Datanglah kepada Tuhan, akui dosa itu di hadapan-Nya, dan
mintalah pertolongan-Nya agar kita bertumbuh dalam kesalehan dan kepekaan
rohani. Mungkin hari ini kita tidak melakukan kejahatan apa pun. Tetapi
mungkinkah kita telah melewatkan banyak kesempatan untuk melakukan kebaikan?
Mari evaluasi hati dan sikap kita dengan jujur di hadapan Allah. Jika kita
menyadari ada sin of omission – dosa kelalaian yang kita lakukan mari
akui dan bertumbuh dalam kesalehan di hadapan-Nya. (TH)

Komentar
Posting Komentar