Gaung Kekudusan Hidup

Senin, 18 Mei 2026
Gaung Kekudusan Hidup

Bacaan Alkitab : Imamat 8 : 31-36


Imamat 8 menjelaskan tentang upacara penahbisan Harun dan anak-anaknya menjadi imam serta pelayan bagi umat Israel di Kemah Suci. Upacara ini dilakukan secara terbuka di hadapan umat Israel dan terdiri dari berbagai prosesi yang sangat rinci serta memerlukan waktu yang panjang. Dimulai dari pembasuhan dengan air sebagai lambang pengudusan hingga penyampaian ketentuan Tuhan yang harus ditaati oleh Harun dan anak-anaknya. Dari ayat di atas terdapat sebuah kalimat yang sangat menarik: “Kamu harus melakukan kewajibanmu terhadap TUHAN dengan setia, supaya jangan kamu mati, karena demikianlah diperintahkan kepadaku.” Ini merupakan peringatan yang sangat keras bagi Harun dan anak-anaknya. Para imam harus hidup dengan hormat dan gentar di hadapan Allah. Karena seperti yang tertulis dalam Ulangan 4:24 “Sebab TUHAN, Allahmu, adalah api yang menghanguskan.”

Saudara Allah bukanlah pribadi yang pemarah tanpa alasan, tetapi kekudusan-Nya tidak dapat dihampiri dengan sembarangan. Manusia berdosa berada dalam ancaman di hadapan kekudusan Allah. Hanya karena kasih karunia-Nya manusia dimungkinkan untuk datang dan berdiri di hadapan-Nya. Namun, setelah hidup dalam kasih karunia bukan berarti manusia bebas hidup sesuka hati. Mungkin masih ada yang berpikir: karena Allah Maha Pengampun, maka setelah berdosa cukup meminta ampun, lalu mengulanginya lagi terus-menerus. Memohon ampun tapi tanpa pertobatan dan penyesalan sejati, dan hanya seremoni dan formalitas belaka. Saudara, jangan menipu diri sendiri. Allah tidak dapat dipermainkan dengan logika seperti itu. Galatia 6:7 berkata: “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” Teguran Allah ini  lahir bukan karena Ia membenci manusia, tetapi karena Ia mengasihi umat-Nya dan ingin mereka hidup dalam kekudusan, supaya mereka dapat bersekutu dengan-Nya.

 

Dalam perkembangan selanjutnya, pesan ini bukan hanya ditujukan kepada para imam atau pelayan Tuhan, melainkan kepada seluruh umat percaya. Dalam 1 Petrus 2:9, umat Tuhan disebut sebagai “imamat yang rajani,” yang berarti bahwa setiap orang percaya dipanggil untuk menjalankan fungsi dan peran keimaman dalam kehidupannya. Gaung pesan ini juga terlihat dalam tulisan Rasul Paulus di 1 Korintus 9:27: “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.”

Anugerah Allah bukanlah alasan untuk bebas dari tuntutan moral. Sebaliknya, anugerah adalah kekuatan yang Allah berikan supaya kita dimampukan untuk hidup melakukan kehendak-Nya dan bertumbuh dalam standar kekudusan yang berasal dari-Nya. (TM)


Refleksi     : Apakah saudara menyadari bahwa saudara dipanggil untuk menjalankan fungsi dan peran keimaman dalam kehidupan saudara?.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Yesus Disalibkan