Kebebasan yang Bertanggung Jawab
Kebebasan yang Bertanggung Jawab
Ketika membaca Bilangan 3:5-10, perhatian kita segera
tertuju pada tugas orang Lewi yang dipilih Tuhan untuk melayani di Kemah Suci.
Mereka diberikan tanggung jawab khusus untuk membantu pelayanan imam dan
menjaga segala sesuatu yang berkaitan dengan ibadah kepada Allah. Namun di
tengah penjelasan tersebut terdapat peringatan yang sangat tegas: “orang awam yang mendekat harus dihukum mati”
(ay. 10). Kekudusan-Nya bukan sesuatu yang dapat diperlakukan secara
sembarangan. Orang awam dalam konteks ini bukan berarti orang yang lebih rendah
nilainya di hadapan Tuhan, melainkan orang-orang yang tidak termasuk dalam
kelompok yang diberi kewenangan khusus
untuk menjalankan tugas pelayanan tertentu di Kemah Suci. Tuhan
menetapkan batas-batas yang jelas mengenai siapa yang diberikan kewenangan untuk melaksanakan Tugas
di Kemah Suci Dengan kata lain, pelayanan kepada Tuhan tidak boleh dilakukan
berdasarkan keinginan manusia semata, tetapi berdasarkan ketetapan Allah.
Prinsip ini masih relevan bagi orang percaya saat ini.
Sering kali seseorang memiliki semangat yang besar untuk melayani Tuhan.
Semangat itu baik, tetapi semangat saja tidak cukup. Pelayanan yang benar harus
berjalan seiring dengan kebenaran. Niat baik tidak dapat menggantikan ketaatan
kepada firman Tuhan. Dalam kehidupan rohani, kita tidak dipanggil untuk
melakukan apa yang menurut kita benar, melainkan apa yang memang Tuhan nyatakan
sebagai benar. Karena itu, bagian ini mengajarkan sebuah prinsip penting: tujuan yang baik tidak membuat kita
bebas mengabaikan kehendak Allah. Seseorang mungkin berkata,
“Yang penting hasilnya baik,” atau, “Yang penting untuk pekerjaan Tuhan.” Namun
Alkitab menunjukkan bahwa Allah tidak hanya melihat hasil akhir, melainkan juga
prosesnya. Tuhan peduli bukan hanya pada apa yang kita lakukan, tetapi juga
bagaimana kita melakukannya. Pelayanan yang dilakukan dengan mengabaikan
kehendak Allah tetap merupakan ketidaktaatan, sekalipun dibungkus dengan alasan
yang terlihat mulia. Jika prinsip
ini kita hubungkan dengan keseluruhan kisah pembebasan Israel dari Mesir, kita
melihat bahwa kebebasan yang diberikan Allah bukanlah kebebasan tanpa
arah. Israel telah dibebaskan dari
perbudakan Mesir. Mereka mengalami kebebasan
dari penindasan dan ikatan lama. Namun Tuhan tidak membebaskan mereka
agar hidup tanpa arah. Ia memberi mereka panggilan, aturan, dan tanggung jawab.
Allah membebaskan mereka untuk
hidup sebagai menjadi umat Allah yang hidup sesuai kehendak-Nya.
Saudara, apakah kita menggunakan kebebasan dalam Kristus
untuk semakin taat kepada-Nya? Demikian
pula bagi kita. Melalui Kristus, kita dibebaskan dari kuasa dosa, dan
penghukuman serta dipanggil untuk hidup sebagai orang yang telah menerima
anugerah-Nya. kebebasan itu bukan izin untuk hidup sesuka hati. Sebaliknya,
kebebasan itu membawa kita pada kehidupan menaati Tuhan, melayani-Nya dengan benar, dan hidup
dalam kekudusan. Kebebasan Kristen bukanlah hidup tanpa batas, melainkan hidup
dalam relasi yang benar dengan Allah. Biarlah
kiranya kita mengingat bahwa Tuhan yang membebaskan kita adalah Tuhan
yang sama yang memanggil kita untuk hidup dalam ketaatan. Kiranya kebebasan
yang kita terima di dalam Kristus tidak membuat kita hidup semaunya sendiri,
tetapi mendorong kita untuk melayani-Nya dengan benar, menghormati
kekudusan-Nya, dan berjalan seturut kehendak-Nya setiap hari. (FS)

Komentar
Posting Komentar