Dipanggil Melayani Bukan Berarti Bebas dari Ketaatan
Dipanggil Melayani Bukan Berarti Bebas dari Ketaatan
Bacaan Alkitab : Bilangan 3:1-4
Bilangan 3:1–4 kembali membawa kita
kepada keluarga Harun dan pelayanan mereka sebagai imam. Harun bersama
anak-anaknya telah ditetapkan dan diurapi untuk menjalankan Tugas sebagai imam.
Namun di tengah penjelasan itu, Musa kembali menyebut Nadab dan Abihu, yang
telah mati di hadapan TUHAN ketika mempersembahkan api yang tidak diperintahkan
Tuhan. Sementara itu, Eleazar dan Itamar tetap menjalankan tugas sebagai imam. Dengan
demikian, bagian ini memperlihatkan bahwa pelayanan imam terus berlangsung
meskipun Nadab dan Abihu telah mati. Tugas yang telah dipercayakan kepada
keluarga Harun tetap harus dijalankan oleh mereka yang masih hidup.
Dalam gambaran tersebut, penyebutan
Nadab dan Abihu menjadi sangat penting. Di satu sisi, Eleazar dan Itamar tetap
ditugaskan untuk menjalankan pelayanan sebagai imam. Namun di sisi lain, di
tengah penugasan itu terdapat sebuah peringatan yang tidak dapat diabaikan:
mereka melihat apa yang terjadi kepada Nadab dan Abihu, saudara mereka sendiri,
yang mati di hadapan TUHAN ketika menjalankan tugas imam dengan cara yang tidak
diperkenankan-Nya. Dengan demikian, penugasan dan peringatan hadir secara
bersamaan. Mereka dipanggil untuk melanjutkan pelayanan, tetapi mereka juga
diingatkan bahwa pelayanan kepada Tuhan bukanlah ruang untuk bertindak sesuka
hati. Panggilan untuk melayani tidak pernah berarti bebas dari ketaatan. Justru
karena pelayanan itu dipercayakan oleh Tuhan, pelayanan harus dijalankan dengan
menghormati kekudusan dan kehendak-Nya.
Hal yang sama perlu menjadi perhatian
kita hari ini. Kita mungkin dipercaya memimpin, berkhotbah, menjadi pelayan
musik, mengajar, atau mengerjakan berbagai bentuk pelayanan di gereja. Namun
kepercayaan untuk melayani tidak pernah membuat kita bebas untuk hidup menurut
kemauan sendiri. Justru ketika Tuhan memberikan tanggung jawab kepada kita,
kita perlu semakin serius menjaga ketaatan kepada-Nya. Jangan sampai kita
begitu sibuk mempertahankan pelayanan, tetapi mengabaikan kehidupan yang
seharusnya berjalan sesuai dengan firman Tuhan. Tuhan bukan hanya memanggil
kita untuk melakukan pekerjaan-Nya, tetapi juga memanggil kita untuk
melakukannya dengan cara yang berkenan kepada-Nya.
Refleksi: Ketika Tuhan memberikan kepercayaan
untuk melayani, apakah kehidupan kita juga semakin serius mengikuti
kehendak-Nya? Pada akhirnya, kesetiaan dalam pelayanan harus berjalan seiring dengan
kesetiaan dalam hidup. (RT)

Komentar
Posting Komentar