Tidak Semua Orang Memiliki Apa yang Kita Miliki
Tidak Semua Orang Memiliki Apa yang Kita Miliki
Imamat 25:44-46 berbicara
tentang budak laki-laki dan perempuan yang diperoleh bangsa Israel dari
bangsa-bangsa di sekitar mereka. Bahkan, status tersebut dapat diwariskan
kepada keturunan mereka. Bagi kita, bagian ini tentu terdengar asing dan sulit.
Karena itu, kita perlu melihat dunia yang melatarbelakangi teks ini. Israel
adalah bangsa yang telah dibebaskan Allah dari Mesir dan kemudian diberikan
tanah sebagai tanah perjanjian. Tanah itu menjadi sumber kehidupan bagi mereka,
tetapi tidak semua orang yang hidup di tengah Israel memiliki tanah sebagai
warisan. Ada orang-orang asing yang tinggal bersama mereka dan tidak memiliki
hak warisan tanah seperti orang Israel. Dalam masyarakat agraris pada waktu
itu, kepemilikan tanah dan sumber daya sangat menentukan kemampuan seseorang
untuk mempertahankan hidup. Dalam konteks dunia kuno, perbedaan status tersebut
dapat berkaitan dengan berbagai bentuk ketergantungan, termasuk perhambaan.
Karena itu, ketika kita membaca kata “budak” dalam bagian ini, kita tidak boleh
langsung menyamakannya dengan perdagangan budak Afrika ke Amerika yang disertai
eksploitasi rasial dan kekerasan. Konteks sejarah dan sosialnya berbeda.
Bagian ini juga
mengingatkan kita bahwa dalam kehidupan masyarakat tidak semua orang memiliki
keadaan dan sumber daya yang sama. Ada yang memiliki tanah, harta, dan
kemampuan ekonomi, sementara ada yang hidup sebagai pendatang dan tidak
memiliki warisan seperti yang dimiliki orang Israel. Perbedaan ini tidak dapat
dilepaskan dari sejarah Israel sebagai umat perjanjian. Tanah Kanaan diberikan
Allah kepada Israel bukan karena Israel lebih berharga daripada bangsa-bangsa
lain, tetapi karena tanah itu merupakan bagian dari janji Allah kepada Abraham
dan keturunannya serta menjadi tempat bagi Israel untuk hidup sebagai umat yang
dipanggil dan dibentuk oleh-Nya. Karena itu, tanah memiliki hubungan erat
dengan identitas dan kehidupan Israel sebagai umat Tuhan. Orang Israel menerima
tanah sebagai warisan, sedangkan orang asing yang tinggal di tengah mereka
tidak menerima pembagian tanah dengan hak warisan yang sama. Dari sinilah
muncul perbedaan status antara orang Israel dan orang asing dalam sistem sosial
Israel kuno. Orang Israel memiliki hak-hak tertentu yang tidak dimiliki orang
asing. Bagi pembaca modern, ketentuan ini merupakan bagian yang sulit karena
memperlihatkan bahwa hukum Israel kuno tidak menghapus seluruh bentuk
ketidaksetaraan sosial. Namun ketika kita membaca keseluruhan Imamat 25, kita
melihat bahwa Tuhan tidak pernah memisahkan kehidupan ekonomi dari tanggung
jawab terhadap sesama. Tuhan mengatur bagaimana orang yang memiliki sumber daya
memperlakukan mereka yang berada dalam posisi yang berbeda. Karena itu, kita
dapat melihat sebuah prinsip penting: apa yang kita miliki seharusnya tidak
hanya berhenti untuk kepentingan diri sendiri, tetapi dapat menjadi sarana
untuk menopang kehidupan orang lain.
Hari ini pun tidak semua orang memiliki apa yang kita miliki. Ada orang yang memiliki pekerjaan, sementara yang lain sedang mencari pekerjaan. Ada yang memiliki rumah, pendidikan, modal, dan koneksi, sementara yang lain bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena itu, ketika Tuhan memberikan kita sesuatu yang lebih, mungkin itu bukan hanya untuk kita nikmati sendiri. Kita dapat menjadi berkat melalui apa pun yang Tuhan percayakan: membuka pekerjaan, berbagi makanan, membantu pendidikan, memberikan kesempatan, menggunakan keterampilan, atau sekadar hadir bagi seseorang yang sedang membutuhkan. Kita tidak harus memiliki banyak untuk menjadi berkat. Yang penting adalah kesediaan menggunakan apa yang kita punya untuk menolong mereka yang tidak memiliki seperti kita. Sebab berkat yang Tuhan berikan kepada kita akan menjadi lebih berarti ketika melalui hidup kita, orang lain juga dapat merasakan kebaikan Tuhan.
Refleksi: Apa yang Tuhan percayakan kepada kita, sudahkah menjadi berkat bagi orang lain? Kiranya apa yang kita miliki tidak hanya kita nikmati sendiri, tetapi juga menjadi jalan bagi orang lain untuk merasakan kebaikan Tuhan. (RT)

Komentar
Posting Komentar