Tidak Lagi Hidup Sesuka Hati

Rabu, 23 September 2026
Tidak Lagi Hidup Sesuka Hati 
Bacaan Alkitab : Imamat 27:9-13


Dalam Imamat 27:9–13, Musa menjelaskan mengenai hewan yang telah dinazarkan kepada Tuhan. Ketika seekor hewan yang layak dipersembahkan kepada Tuhan dinazarkan, maka hewan tersebut menjadi kudus, dan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang dapat diperlakukan sesuka hati. Hewan tersebut harus diperlakukan sesuai dengan ketetapan yang Tuhan berikan. Bahkan ketika seseorang ingin menebusnya kembali, terdapat aturan tertentu yang harus diikuti. Hal ini menunjukkan bahwa sesuatu yang telah dikhususkan bagi Tuhan memiliki konsekuensi dalam cara memperlakukannya. Menyerahkan sesuatu kepada Tuhan bukan sekadar tindakan mengucapkan janji, tetapi juga berarti mengakui bahwa apa yang telah dikhususkan itu berada di bawah aturan Tuhan.

Dari bagian ini kita melihat sebuah prinsip penting: Nazar kepada Tuhan bukanlah komitmen yang dapat diperlakukan menurut kehendak kita sendiri, tetapi menurut kehendak Tuhan. ketika sesuatu telah diserahkan kepada Tuhan maka orang yang bernazar harus menghormati status dan ketentuan yang Tuhan berikan atasnya. Dengan demikian, penyerahan kepada Tuhan bukan hanya berbicara tentang tindakan memberikan sesuatu, tetapi juga tentang kesediaan untuk menghormati ketetapan Tuhan atas sesuatu yang telah diserahkan itu. Ada perubahan dalam cara memperlakukannya karena ada perubahan dalam hubungannya dengan Tuhan.

Tentu bagian ini secara langsung berbicara tentang hewan yang dinazarkan, bukan tentang seluruh kehidupan manusia. Namun, di balik ketentuan tersebut terdapat prinsip yang dapat kita renungkan: komitmen kepada Tuhan tidak boleh diperlakukan dengan sembarangan. Prinsip ini mengingatkan kita pada kehidupan yang kita akui sebagai milik Tuhan. Jika kita mengaku menyerahkan hidup kepada-Nya, pengakuan itu seharusnya memiliki konsekuensi terhadap cara kita menjalani hidup. Keputusan, perkataan, pekerjaan, hubungan dengan orang lain, bahkan cara kita menggunakan apa yang Tuhan percayakan kepada kita, semuanya perlu diarahkan oleh kehendak-Nya. Menyerahkan hidup kepada Tuhan bukan hanya berkata, “Tuhan, hidupku milik-Mu,” tetapi juga bersedia berkata, “Karena hidupku milik-Mu, maka aku mau menjalankannya sesuai dengan kehendak-Mu.” Sebab, hidup yang sungguh-sungguh diserahkan kepada Tuhan bukan hanya berubah dalam pengakuannya, tetapi juga dalam cara hidupnya. 

Refleksi: Jika kita mengakui bahwa hidup kita milik Tuhan, apakah cara hidup kita sehari-hari sudah menunjukkan bahwa kita tunduk kepada kehendak-Nya?Ketahuilah, hidup yang kita serahkan kepada Tuhan bukan lagi hidup yang bebas kita jalani sesuka hati, melainkan hidup yang dipanggil untuk tunduk kepada kehendak-Nya. (RT)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gaung Kekudusan Hidup

Jangan Manfaatkan Orang yang Sedang Jatuh

Kesiapan dalam Kesucian