Tidak Lagi Hidup Sesuka Hati
Tidak Lagi Hidup Sesuka Hati
Dalam Imamat 27:9–13, Musa menjelaskan
mengenai hewan yang telah dinazarkan kepada Tuhan. Ketika seekor hewan yang
layak dipersembahkan kepada Tuhan dinazarkan, maka hewan tersebut menjadi
kudus, dan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang dapat diperlakukan sesuka
hati. Hewan tersebut harus diperlakukan sesuai dengan ketetapan yang Tuhan
berikan. Bahkan ketika seseorang ingin menebusnya kembali, terdapat aturan
tertentu yang harus diikuti. Hal ini menunjukkan bahwa sesuatu yang telah
dikhususkan bagi Tuhan memiliki konsekuensi dalam cara memperlakukannya.
Menyerahkan sesuatu kepada Tuhan bukan sekadar tindakan mengucapkan janji,
tetapi juga berarti mengakui bahwa apa yang telah dikhususkan itu berada di
bawah aturan Tuhan.
Dari bagian ini kita melihat sebuah
prinsip penting: Nazar kepada Tuhan bukanlah komitmen yang dapat
diperlakukan menurut kehendak kita sendiri, tetapi menurut kehendak Tuhan.
ketika sesuatu telah diserahkan kepada Tuhan maka orang yang bernazar harus
menghormati status dan ketentuan yang Tuhan berikan atasnya. Dengan demikian,
penyerahan kepada Tuhan bukan hanya berbicara tentang tindakan memberikan
sesuatu, tetapi juga tentang kesediaan untuk menghormati ketetapan Tuhan atas
sesuatu yang telah diserahkan itu. Ada perubahan dalam cara memperlakukannya
karena ada perubahan dalam hubungannya dengan Tuhan.
Tentu bagian ini secara langsung
berbicara tentang hewan yang dinazarkan, bukan tentang seluruh kehidupan
manusia. Namun, di balik ketentuan tersebut terdapat prinsip yang dapat kita
renungkan: komitmen kepada Tuhan tidak boleh diperlakukan dengan sembarangan.
Prinsip ini mengingatkan kita pada kehidupan yang kita akui sebagai milik
Tuhan. Jika kita mengaku menyerahkan hidup kepada-Nya, pengakuan itu seharusnya
memiliki konsekuensi terhadap cara kita menjalani hidup. Keputusan, perkataan,
pekerjaan, hubungan dengan orang lain, bahkan cara kita menggunakan apa yang
Tuhan percayakan kepada kita, semuanya perlu diarahkan oleh kehendak-Nya.
Menyerahkan hidup kepada Tuhan bukan hanya berkata, “Tuhan, hidupku milik-Mu,”
tetapi juga bersedia berkata, “Karena hidupku milik-Mu, maka aku mau
menjalankannya sesuai dengan kehendak-Mu.” Sebab, hidup yang sungguh-sungguh
diserahkan kepada Tuhan bukan hanya berubah dalam pengakuannya, tetapi juga
dalam cara hidupnya.
Refleksi: Jika kita mengakui bahwa hidup kita milik Tuhan, apakah cara hidup kita sehari-hari sudah menunjukkan bahwa kita tunduk kepada kehendak-Nya?Ketahuilah, hidup yang kita serahkan kepada Tuhan bukan lagi hidup yang bebas kita jalani sesuka hati, melainkan hidup yang dipanggil untuk tunduk kepada kehendak-Nya. (RT)

Komentar
Posting Komentar