Komitmen Pribadi di Hadapan Allah
Komitmen Pribadi di Hadapan Allah
Imamat 27:1–8 berisi ketentuan mengenai seseorang yang secara khusus mengucapkan nazar kepada Tuhan. Bagian ini berbicara tentang nazar yang berkaitan dengan orang dan orang tersebut dinilai berdasarkan jenis kelamin dan usia dalam bentuk syikal perak. Jika orang yang bernazar tidak mampu memenuhi nilai yang telah ditetapkan, imam dapat menyesuaikannya dengan kemampuan orang tersebut. Jadi, bagian ini bukan berbicara tentang denda karena kesalahan, melainkan tentang bagaimana nazar yang bersifat sukarela diterjemahkan menjadi persembahan nyata kepada Tuhan melalui aturan yang telah ditetapkan. Dengan demikian, perikop ini memperlihatkan bahwa ketika seseorang secara sukarela mengucapkan nazar kepada Tuhan, nazar tersebut memiliki konsekuensi konkret dan harus dijalankan menurut ketentuan yang telah ditetapkan.
Saudara, nazar merupakan komitmen sukarela seseorang kepada Tuhan yang dapat lahir dari pengalaman, pergumulan, atau rasa syukur. Namun, ketika komitmen itu telah diucapkan secara sukarela kepada Tuhan. Maka ketentuan dalam perikop ini menunjukkan bahwa komitmen tersebut tidak boleh diperlakukan secara sembarangan. Artinya, perkataan kepada Tuhan memiliki bobot. Seseorang tidak boleh mengucapkan sesuatu kepada Allah hanya karena sedang terbawa emosi, kemudian melupakannya ketika keadaan sudah berubah. Imamat 27 tidak sedang mengajarkan bahwa kita harus bernazar kepada Tuhan, tetapi menunjukkan bahwa komitmen yang kita nyatakan kepada Tuhan harus diperlakukan dengan sungguh-sungguh.
Prinsip ini sangat relevan bagi kita hari ini. Kita mungkin tidak lagi menjalankan nazar seperti dalam Imamat 27, tetapi kita sering membuat komitmen kepada Tuhan: “Tuhan, saya akan lebih setia,” “Tuhan, saya mau melayani-Mu,” atau “Tuhan, saya akan berubah.” Pertanyaannya bukan hanya apa yang kita katakan kepada Tuhan ketika sedang membutuhkan pertolongan, tetapi apakah kita sungguh-sungguh menjalankannya setelah pertolongan itu datang. Karena itu, jangan membuat komitmen kepada Allah hanya karena emosi sesaat. Tetapi jika kita telah menyatakan komitmen kepada-Nya, mari menjalaninya dengan kesadaran, sukarela, dan kesungguhan hati.
Refleksi : Adakah komitmen kepada Tuhan
yang pernah saya ucapkan, tetapi sampai hari ini belum saya jalankan dengan
sungguh-sungguh? Saudara, jangan hanya serius meminta kepada Tuhan ketika
berada dalam pergumulan; belajarlah juga untuk serius menjalankan apa yang
telah kita komitmenkan kepada-Nya. (TH)

Komentar
Posting Komentar