Ketulusan Di balik Pemberian
Ketulusan Di balik Pemberian
Imamat 27:30–34 berbicara tentang persepuluhan yang menjadi bagian
Tuhan. Ayat 30 menegaskan bahwa sepersepuluh dari hasil tanah dan hasil pohon
adalah milik Tuhan. Demikian juga persepuluhan dari lembu dan kambing domba
memiliki aturan yang jelas. Setiap hewan kesepuluh yang lewat di bawah tongkat
harus menjadi kudus bagi Tuhan. Melalui ketentuan ini, Tuhan mengajar Israel
untuk mengakui bahwa sebagian dari hasil yang mereka terima adalah milik Tuhan
dan harus diperlakukan sebagai sesuatu yang kudus bagi-Nya. Ketika kita menerapkannya
dalam kehidupan kita, kita dapat bertanya: dengan hati seperti apa kita memberikan
persembahkan kita kepada Tuhan ?
Kita bisa saja memberi kepada Tuhan, tetapi sebelumnya sudah menghitung
dengan sangat hati-hati: “Bagaimana saya tetap terlihat taat, tetapi pemberian
saya tidak terlalu mengurangi kenyamanan saya?” Secara lahiriah mungkin kita
sudah memberikan sesuatu, tetapi di dalam hati sebenarnya kita sedang berusaha
mempertahankan sebanyak mungkin untuk diri sendiri. Di sinilah Tuhan
mengingatkan kita tentang ketulusan. Ketulusan berarti ada keselarasan antara
apa yang keluar dari tangan dengan apa yang ada di dalam hati. Jangan sampai
tangan kita memberi, tetapi hati kita menahan. Jangan sampai kita berkata, “Ini
untuk Tuhan,” sementara batin kita sebenarnya berkata, “Saya tidak rela
memberikannya.” Seseorang dapat memberi tetapi hatinya tidak rela. Ia mungkin
tetap memberikan sesuatu karena merasa wajib, takut dinilai, atau sekadar ingin
memenuhi aturan. Namun Tuhan tidak hanya melihat apa yang tampak di luar.
Pemberian kepada Tuhan seharusnya menjadi ekspresi penghormatan dan kasih
kepada- Nya. Karena itu, pertanyaan yang perlu kita tanyakan bukan hanya,
“Apakah saya sudah memberi?”, tetapi juga, “Dengan hati seperti apa saya
memberi?” Ketika kita menyadari bahwa apa yang kita miliki berasal dari Tuhan,
kita tidak lagi melihat “memberi” hanya sebagai kewajiban yang harus dipenuhi,
tetapi sebagai bentuk pengakuan bahwa Tuhan adalah sumber kehidupan dan berkat
kita. Kita tidak sibuk mencari celah agar tetap dianggap benar tetapi tidak merasa
kehilangan. Kasih justru membuat kita ingin menghormati Tuhan dengan apa yang
kita miliki. Persepuluhan mengingatkan kita bahwa apa yang kita miliki pada
akhirnya tidak hanya berbicara tentang hasil usaha kita sendiri. Ada Tuhan yang
menjadi sumber berkat dan kehidupan kita. Karena itu, ketika kita memberi
kepada-Nya, kita sedang mengakui bahwa Tuhan layak mendapatkan tempat yang
utama. Mari kita belajar memiliki hati yang tulus. Jangan sampai pemberian kita
benar secara lahiriah, tetapi hati kita penuh keberatan. Jangan sampai tangan
kita menyerahkan, sementara batin kita masih menggenggam erat.
Saudara, “Ketika saya memberi kepada
Tuhan, apakah hati saya sungguh rela, atau saya hanya berusaha memenuhi kewajiban
tanpa kehilangan kenyamanan saya?” Biarlah kiranya apa yang kita berikan kepada
Tuhan selaras dengan apa yang ada di dalam hati kita. Sebab pemberian yang
menghormati Tuhan bukan hanya tentang apa yang kita lepaskan, tetapi juga
tentang kasih dan ketulusan hati ketika kita melepaskannya. (FS)

Komentar
Posting Komentar