Ketulusan Di balik Pemberian

Selasa, 29 September 2026
Ketulusan Di balik Pemberian 
Bacaan Alkitab : Imamat 27:30-34


Imamat 27:30–34 berbicara tentang persepuluhan yang menjadi bagian Tuhan. Ayat 30 menegaskan bahwa sepersepuluh dari hasil tanah dan hasil pohon adalah milik Tuhan. Demikian juga persepuluhan dari lembu dan kambing domba memiliki aturan yang jelas. Setiap hewan kesepuluh yang lewat di bawah tongkat harus menjadi kudus bagi Tuhan. Melalui ketentuan ini, Tuhan mengajar Israel untuk mengakui bahwa sebagian dari hasil yang mereka terima adalah milik Tuhan dan harus diperlakukan sebagai sesuatu yang kudus bagi-Nya. Ketika kita menerapkannya dalam kehidupan kita, kita dapat bertanya: dengan hati seperti apa kita memberikan persembahkan kita kepada Tuhan ?

Kita bisa saja memberi kepada Tuhan, tetapi sebelumnya sudah menghitung dengan sangat hati-hati: “Bagaimana saya tetap terlihat taat, tetapi pemberian saya tidak terlalu mengurangi kenyamanan saya?” Secara lahiriah mungkin kita sudah memberikan sesuatu, tetapi di dalam hati sebenarnya kita sedang berusaha mempertahankan sebanyak mungkin untuk diri sendiri. Di sinilah Tuhan mengingatkan kita tentang ketulusan. Ketulusan berarti ada keselarasan antara apa yang keluar dari tangan dengan apa yang ada di dalam hati. Jangan sampai tangan kita memberi, tetapi hati kita menahan. Jangan sampai kita berkata, “Ini untuk Tuhan,” sementara batin kita sebenarnya berkata, “Saya tidak rela memberikannya.” Seseorang dapat memberi tetapi hatinya tidak rela. Ia mungkin tetap memberikan sesuatu karena merasa wajib, takut dinilai, atau sekadar ingin memenuhi aturan. Namun Tuhan tidak hanya melihat apa yang tampak di luar. Pemberian kepada Tuhan seharusnya menjadi ekspresi penghormatan dan kasih kepada- Nya. Karena itu, pertanyaan yang perlu kita tanyakan bukan hanya, “Apakah saya sudah memberi?”, tetapi juga, “Dengan hati seperti apa saya memberi?” Ketika kita menyadari bahwa apa yang kita miliki berasal dari Tuhan, kita tidak lagi melihat “memberi” hanya sebagai kewajiban yang harus dipenuhi, tetapi sebagai bentuk pengakuan bahwa Tuhan adalah sumber kehidupan dan berkat kita. Kita tidak sibuk mencari celah agar tetap dianggap benar tetapi tidak merasa kehilangan. Kasih justru membuat kita ingin menghormati Tuhan dengan apa yang kita miliki. Persepuluhan mengingatkan kita bahwa apa yang kita miliki pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang hasil usaha kita sendiri. Ada Tuhan yang menjadi sumber berkat dan kehidupan kita. Karena itu, ketika kita memberi kepada-Nya, kita sedang mengakui bahwa Tuhan layak mendapatkan tempat yang utama. Mari kita belajar memiliki hati yang tulus. Jangan sampai pemberian kita benar secara lahiriah, tetapi hati kita penuh keberatan. Jangan sampai tangan kita menyerahkan, sementara batin kita masih menggenggam erat.

        Saudara, “Ketika saya memberi kepada Tuhan, apakah hati saya sungguh rela, atau saya hanya berusaha memenuhi kewajiban tanpa kehilangan kenyamanan saya?” Biarlah kiranya apa yang kita berikan kepada Tuhan selaras dengan apa yang ada di dalam hati kita. Sebab pemberian yang menghormati Tuhan bukan hanya tentang apa yang kita lepaskan, tetapi juga tentang kasih dan ketulusan hati ketika kita melepaskannya. (FS)


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gaung Kekudusan Hidup

Jangan Manfaatkan Orang yang Sedang Jatuh

Kesiapan dalam Kesucian