Ketika Tuhan Memegang Hari Esok

Sabtu, 5 September 2026
Ketika Tuhan Memegang Hari Esok 
Bacaan Alkitab : Imamat 25: 18-22

          Dalam bagian Firman Tuhan yang baru saja kita baca, kita melihat bagian penutup dari perikop berjudul “Tahun Sabat dan Tahun Yobel.” Bagian penutup ini diawali dengan perintah Tuhan agar bangsa Israel berpegang pada ketetapan dan berpegang pada peraturan Allah dan melakukannya. Ketetapan tersebut berkaitan dengan perintah Allah untuk melaksanakan tahun sabat dan yobel, dimana tanah diistirahatkan dan dikembalikan. Perintah ini disertai dengan janji berkat dan kehidupan yang tentram. Janji berkat ini disertai juga dengan hikmat untuk mengelola tanah sebelum tahun Sabat dilaksanakan pada tahun ke-7.

          Saudara, perintah Allah di atas mendatangkan kekhawatiran pada orang Israel “Apakah yang akan kami makan pada tahun ketujuh itu, bukankah kami tidak boleh menabur dan tidak boleh mengumpulkan hasil tanah kami?” (ay. 20). Allah menjawab kekhawatiran mereka bukan dengan mengatakan bahwa mereka tidak perlu takut, tapi dengan memberikan janji yang konkret bahwa ia akan menyediakan segala kebutuan mereka. Allah memerintahkan mereka untuk bekerja pada tahun ke-6 dan Ia akan memberkati tahun keenam sehingga hasilnya cukup untuk kebutuhan mereka selama masa ketika mereka tidak menabur dan menuai.  Sehingga, hasil panen tersebut akan cukup bahkan sampai tahun ke-9. Sebab, tahun ke-7 mereka tidak menanam apapun, tahun ke-8 mereka mulai kembali menabur dan menanam. Tahun ke-9 mereka baru kembali menuai hasilnya. Artinya tahun ke- 7-9 mereka akan makan dari hasil panen di tahun ke-6.

          Saudara, ada sesuatu yang dapat kita renungkan dari pembacaan Firman diatas. Berkaitan dengan panen yang melimpah di tahun ke-6 akan dikelola untuk 3 tahun, ada sinergitas antara anugerah Tuhan dan pengelolaannya. Artinya, berkat Tuhan harus dilihat bukan hanya untuk dinikmati hari ini, tetapi juga untuk mempersiapkan hari esok. Tahun keenam menjadi tahun yang istimewa. Tuhan memberikan hasil yang cukup untuk menghadapi masa ketika mereka tidak menabur dan tidak menuai seperti biasanya. Dengan kata lain, Tuhan mengajar umat-Nya untuk tidak hidup hanya berdasarkan kebutuhan hari ini. Ini sangat relevan bagi kehidupan jemaat sekarang. Kita hidup dalam zaman konsumsi. Banyak orang memiliki prinsip: selama ada uang, belanjakan; selama ada kesempatan, nikmati; selama masih mampu, ambil. Akibatnya, ketika masa sulit datang, tidak ada cadangan, tidak ada kesiapan, bahkan harus berutang untuk memenuhi kebutuhan. Firman Tuhan mengajarkan sebuah prinsip yang berbeda: jangan hanya memikirkan hari ini; belajarlah mengelola berkat Tuhan untuk menghadapi musim kehidupan yang berbeda. Karena itu, hikmat rohani bukan hanya kemampuan menikmati berkat, tetapi kemampuan mengelola berkat sehingga kita tetap dapat berjalan dalam kesetiaan ketika musim berubah.

Refleksi : Saudara, apakah saya sedang mempersiapkan masa depan dengan hikmat, atau sedang menimbun karena ketakutan bahwa Tuhan tidak akan mencukupkan saya? Mari berdoa dan meminta pertolongan-Nya agar setiap kita dapat mengelola berkat Tuhan dengan bijaksana. Ketika Allah memegang hari esok maka tidak ada satu pun yang perlu kita khawatirkan. (TH)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gaung Kekudusan Hidup

Kesiapan dalam Kesucian

Keadilan yang Berkenan kepada Allah