Ketika Tuhan Memegang Hari Esok
Ketika Tuhan Memegang Hari Esok
Dalam bagian Firman Tuhan yang baru
saja kita baca, kita melihat bagian penutup dari perikop berjudul “Tahun Sabat
dan Tahun Yobel.” Bagian penutup ini diawali dengan perintah Tuhan agar bangsa
Israel berpegang pada ketetapan dan berpegang pada peraturan Allah dan
melakukannya. Ketetapan tersebut berkaitan dengan perintah Allah untuk
melaksanakan tahun sabat dan yobel, dimana tanah diistirahatkan dan
dikembalikan. Perintah ini disertai dengan janji berkat dan kehidupan yang
tentram. Janji berkat ini disertai juga dengan hikmat untuk mengelola tanah
sebelum tahun Sabat dilaksanakan pada tahun ke-7.
Saudara, perintah Allah di atas
mendatangkan kekhawatiran pada orang Israel “Apakah yang akan kami makan pada
tahun ketujuh itu, bukankah kami tidak boleh menabur dan tidak boleh
mengumpulkan hasil tanah kami?” (ay. 20). Allah menjawab kekhawatiran mereka
bukan dengan mengatakan bahwa mereka tidak perlu takut, tapi dengan memberikan
janji yang konkret bahwa ia akan menyediakan segala kebutuan mereka. Allah
memerintahkan mereka untuk bekerja pada tahun ke-6 dan Ia akan memberkati tahun
keenam sehingga hasilnya cukup untuk kebutuhan mereka selama masa ketika mereka
tidak menabur dan menuai. Sehingga, hasil
panen tersebut akan cukup bahkan sampai tahun ke-9. Sebab, tahun ke-7 mereka
tidak menanam apapun, tahun ke-8 mereka mulai kembali menabur dan menanam.
Tahun ke-9 mereka baru kembali menuai hasilnya. Artinya tahun ke- 7-9 mereka
akan makan dari hasil panen di tahun ke-6.
Saudara, ada sesuatu yang dapat kita renungkan dari pembacaan Firman diatas. Berkaitan dengan panen yang melimpah di tahun ke-6 akan dikelola untuk 3 tahun, ada sinergitas antara anugerah Tuhan dan pengelolaannya. Artinya, berkat Tuhan harus dilihat bukan hanya untuk dinikmati hari ini, tetapi juga untuk mempersiapkan hari esok. Tahun keenam menjadi tahun yang istimewa. Tuhan memberikan hasil yang cukup untuk menghadapi masa ketika mereka tidak menabur dan tidak menuai seperti biasanya. Dengan kata lain, Tuhan mengajar umat-Nya untuk tidak hidup hanya berdasarkan kebutuhan hari ini. Ini sangat relevan bagi kehidupan jemaat sekarang. Kita hidup dalam zaman konsumsi. Banyak orang memiliki prinsip: selama ada uang, belanjakan; selama ada kesempatan, nikmati; selama masih mampu, ambil. Akibatnya, ketika masa sulit datang, tidak ada cadangan, tidak ada kesiapan, bahkan harus berutang untuk memenuhi kebutuhan. Firman Tuhan mengajarkan sebuah prinsip yang berbeda: jangan hanya memikirkan hari ini; belajarlah mengelola berkat Tuhan untuk menghadapi musim kehidupan yang berbeda. Karena itu, hikmat rohani bukan hanya kemampuan menikmati berkat, tetapi kemampuan mengelola berkat sehingga kita tetap dapat berjalan dalam kesetiaan ketika musim berubah.
Refleksi
: Saudara, apakah saya sedang
mempersiapkan masa depan dengan hikmat, atau sedang menimbun karena ketakutan
bahwa Tuhan tidak akan mencukupkan saya? Mari berdoa dan meminta
pertolongan-Nya agar setiap kita dapat mengelola berkat Tuhan dengan bijaksana.
Ketika Allah memegang hari esok maka tidak ada satu pun yang perlu kita
khawatirkan. (TH)

Komentar
Posting Komentar