Keadilan yang Berkenan kepada Allah
Keadilan yang Berkenan kepada Allah
Imamat 19 merupakan bagian dari
panggilan Allah agar umat Israel hidup kudus karena Dia adalah Allah yang
kudus. Kekudusan yang Allah kehendaki tidak hanya diwujudkan melalui ibadah
atau ritual keagamaan, tetapi juga melalui cara umat-Nya memperlakukan sesama.
Dalam Imamat 19:15, Allah memberikan sebuah prinsip yang sangat penting: "Janganlah
kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah memihak kepada orang miskin dan
janganlah menyembah orang besar, tetapi engkau harus mengadili sesamamu dengan
adil." Perintah ini menunjukkan bahwa keadilan adalah bagian dari karakter
Allah yang harus tercermin dalam kehidupan umat-Nya.
Sekilas, larangan untuk tidak memihak
orang kaya mungkin mudah dipahami. Namun, ayat ini juga melarang memihak orang
miskin. Allah tidak sedang mengajarkan agar umat-Nya mengabaikan belas kasihan
kepada mereka yang lemah, tetapi Ia mengingatkan bahwa keadilan tidak boleh
dikaburkan oleh status sosial, rasa iba, maupun kepentingan pribadi. Kebenaran
harus tetap menjadi dasar setiap penilaian. Matthew Henry menjelaskan bahwa
keadilan sejati tidak boleh dipengaruhi oleh kekayaan maupun kemiskinan. Gordon
J. Wenham juga menegaskan bahwa Allah menolak segala bentuk keberpihakan yang
lahir dari tekanan, rasa takut, atau simpati yang membuat seseorang mengabaikan
kebenaran. Dengan demikian, orang percaya dipanggil untuk menilai setiap
perkara berdasarkan kebenaran, bukan berdasarkan siapa orangnya.
Prinsip ini sangat relevan bagi kehidupan kita saat ini. Walaupun kita bukan hakim di ruang pengadilan, setiap hari kita membuat penilaian terhadap orang lain. Kita bisa saja memberikan perlakuan istimewa kepada seseorang karena jabatan atau kekayaannya, atau sebaliknya membela seseorang hanya karena merasa kasihan tanpa mengetahui seluruh kenyataannya. Bahkan di era media sosial, banyak orang terburu-buru memihak berdasarkan opini yang sedang berkembang tanpa lebih dahulu mencari kebenaran. Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk mencerminkan karakter Allah yang adil. Yesus sendiri tidak memandang muka. Ia mengasihi semua orang, tetapi tetap menyatakan kebenaran kepada siapa pun, baik kepada orang berdosa maupun kepada para pemimpin agama. Karena itu, marilah kita belajar menilai dengan jujur, bertindak tanpa pilih kasih, dan menjadikan kebenaran sebagai dasar setiap keputusan. Melalui kehidupan yang adil, dunia dapat melihat kekudusan Allah dinyatakan melalui umat-Nya.
Saudara, apakah saya pernah memperlakukan seseorang secara berbeda karena status,
jabatan, kekayaan, atau kedekatannya dengan saya?
Kekudusan tidak hanya terlihat dari kesetiaan kita kepada Allah, tetapi juga
dari keadilan kita dalam memperlakukan sesama. (RT)

Komentar
Posting Komentar