Keadilan yang Berkenan kepada Allah

Rabu, 29 Juli 2026
Keadilan yang Berkenan kepada Allah 
Bacaan Alkitab : Imamat 19:15–18

 

Imamat 19 merupakan bagian dari panggilan Allah agar umat Israel hidup kudus karena Dia adalah Allah yang kudus. Kekudusan yang Allah kehendaki tidak hanya diwujudkan melalui ibadah atau ritual keagamaan, tetapi juga melalui cara umat-Nya memperlakukan sesama. Dalam Imamat 19:15, Allah memberikan sebuah prinsip yang sangat penting: "Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah memihak kepada orang miskin dan janganlah menyembah orang besar, tetapi engkau harus mengadili sesamamu dengan adil." Perintah ini menunjukkan bahwa keadilan adalah bagian dari karakter Allah yang harus tercermin dalam kehidupan umat-Nya.

Sekilas, larangan untuk tidak memihak orang kaya mungkin mudah dipahami. Namun, ayat ini juga melarang memihak orang miskin. Allah tidak sedang mengajarkan agar umat-Nya mengabaikan belas kasihan kepada mereka yang lemah, tetapi Ia mengingatkan bahwa keadilan tidak boleh dikaburkan oleh status sosial, rasa iba, maupun kepentingan pribadi. Kebenaran harus tetap menjadi dasar setiap penilaian. Matthew Henry menjelaskan bahwa keadilan sejati tidak boleh dipengaruhi oleh kekayaan maupun kemiskinan. Gordon J. Wenham juga menegaskan bahwa Allah menolak segala bentuk keberpihakan yang lahir dari tekanan, rasa takut, atau simpati yang membuat seseorang mengabaikan kebenaran. Dengan demikian, orang percaya dipanggil untuk menilai setiap perkara berdasarkan kebenaran, bukan berdasarkan siapa orangnya.

Prinsip ini sangat relevan bagi kehidupan kita saat ini. Walaupun kita bukan hakim di ruang pengadilan, setiap hari kita membuat penilaian terhadap orang lain. Kita bisa saja memberikan perlakuan istimewa kepada seseorang karena jabatan atau kekayaannya, atau sebaliknya membela seseorang hanya karena merasa kasihan tanpa mengetahui seluruh kenyataannya. Bahkan di era media sosial, banyak orang terburu-buru memihak berdasarkan opini yang sedang berkembang tanpa lebih dahulu mencari kebenaran. Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk mencerminkan karakter Allah yang adil. Yesus sendiri tidak memandang muka. Ia mengasihi semua orang, tetapi tetap menyatakan kebenaran kepada siapa pun, baik kepada orang berdosa maupun kepada para pemimpin agama. Karena itu, marilah kita belajar menilai dengan jujur, bertindak tanpa pilih kasih, dan menjadikan kebenaran sebagai dasar setiap keputusan. Melalui kehidupan yang adil, dunia dapat melihat kekudusan Allah dinyatakan melalui umat-Nya.

        Saudara, apakah saya pernah memperlakukan seseorang secara berbeda karena status, jabatan, kekayaan, atau kedekatannya dengan saya?
Kekudusan tidak hanya terlihat dari kesetiaan kita kepada Allah, tetapi juga dari keadilan kita dalam memperlakukan sesama. (RT)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Gaung Kekudusan Hidup

Kesiapan dalam Kesucian