Ketika Teguran Tuhan Tidak Lagi Mengubah Hati
Ketika Teguran Tuhan Tidak Lagi Mengubah Hati
Bacaan Alkitab : Imamat 26: 21-26
Saudara-saudara, dalam Imamat
26:21–26, kita melihat kelanjutan dari peringatan Tuhan kepada Israel. Setelah
menjelaskan konsekuensi ketidaktaatan pada ayat-ayat sebelumnya, Tuhan
menunjukkan bahwa apabila umat tetap menolak-Nya, penderitaan yang mereka alami
akan menjadi semakin berat. Pada ayat 21–22, Tuhan menyebutkan
binatang-binatang liar yang akan mendatangkan kehancuran: mereka akan merampas
anak-anak, memusnahkan ternak, dan membuat jumlah umat semakin berkurang.
Kemudian pada ayat 23–26, ancaman itu meningkat: Tuhan berbicara tentang
pedang, penyakit sampar, musuh yang datang, serta kelangkaan makanan. Bahkan
ketika mereka mengumpulkan persediaan makanan, hasilnya tidak mencukupi
kebutuhan mereka.
Saudara, Tuhan di dalam ayat-ayat ini menggambarkan
peningkatan sanksi perjanjian ketika umat terus-menerus menolak untuk
mendengarkan-Nya. Berkali-kali muncul gagasan, “Jika kamu masih tidak
mendengarkan Aku...” (lih. ay. 18, 21, 23). Artinya, yang sedang digambarkan
bukan hanya beratnya hukuman, tetapi juga ketekunan umat dalam menolak peringatan
Tuhan. Tuhan telah menyatakan kehendak-Nya, umat
menolak; konsekuensi yang telah dinyatakan di dalam perjanjian; tetapi
penolakan itu terus berlanjut, sehingga konsekuensinya semakin berat. Dengan
demikian, bagian ini memperlihatkan keseriusan pemberontakan yang terus
dipertahankan. Masalahnya bukan bahwa Tuhan tidak memberikan peringatan. Justru
peringatan itu telah diberikan berulang kali. Yang menjadi persoalan adalah
bagaimana umat merespons ketika mereka telah diperingatkan dan mengalami
konsekuensi dari ketidaktaatan mereka.
Saudara, ada perbedaan antara mendengar
teguran dan merespons teguran. Kita dapat mendengar firman setiap minggu,
memahami kebenarannya, bahkan menyetujuinya, tetapi tetap tidak mengubah
kehidupan. Kita dapat mengetahui bahwa ada sesuatu yang salah, tetapi memilih
untuk terus mempertahankannya. Jika demikian, teguran yang seharusnya membawa
kita kepada pemeriksaan diri justru dapat kita abaikan. Imamat 26 mengingatkan
kita untuk tidak sembarangan menyimpulkan bahwa setiap kesulitan yang dialami
seseorang pasti merupakan hukuman Tuhan atas dosa. Bagian ini berbicara dalam
konteks perjanjian Tuhan dengan Israel dan bentuk sanksi perjanjian yang khusus
bagi bangsa itu. Karena itu, ketika Tuhan menunjukkan sesuatu yang perlu
dibereskan dalam hidup kita belajarlah memeriksa apa yang sedang Tuhan
nyatakan. Teguran seharusnya membawa kita kepada kerendahan hati, pengakuan,
dan perubahan hidup. Jangan menunggu sampai penolakan terhadap Tuhan menjadi
pola yang semakin dalam.
Refleksi : Ketika
Tuhan menegur saya, apakah saya sungguh-sungguh meresponsnya, atau saya justru
mencari alasan untuk mempertahankan diri? Imamat 26:21–26 memperlihatkan bahwa
penolakan yang terus-menerus terhadap Tuhan membawa umat semakin jauh ke dalam
konsekuensi pemberontakan mereka. Karena itu, teguran Tuhan tidak boleh
dipandang sebagai sesuatu yang dapat terus-menerus diabaikan. Ketika Tuhan
menyatakan kesalahan kita, itulah saat untuk berhenti, memeriksa diri, dan
kembali kepada ketaatan. (RT)
Komentar
Posting Komentar