Ketika Saudara Jatuh, Jangan Biarkan Ia Sendirian
Ketika Saudara Jatuh, Jangan Biarkan Ia Sendirian
Bacaan Alkitab : Imamat
25:47–55
Imamat 25:47–55 menggambarkan situasi ketika seorang
Israel jatuh miskin dan akhirnya menjual dirinya sebagai pekerja kepada seorang
pendatang atau orang asing yang tinggal di tengah-tengah Israel. Menariknya,
Allah tidak mengatakan bahwa karena ia miskin, maka ia kehilangan statusnya
sebagai saudara dalam, komunitas Israel. Karena itu, Allah memberikan jalan
agar ia dapat ditebus. Jika orang itu menjadi miskin dan menjual dirinya kepada
orang asing, maka kerabatnya memiliki
kesempatan untuk menebusnya. Seorang saudara, paman, sepupu, atau
kerabat dekat dapat mengambil tanggung jawab untuk membebaskannya. Dengan
demikian, kemiskinan seseorang bukan hanya persoalan pribadi. Ada tanggung
jawab komunitas, terutama keluarga, untuk memperhatikan saudaranya yang sedang
jatuh. Hal ini penting karena Alkitab
tidak pernah menjadikan kekayaan sebagai ukuran nilai seseorang. Orang Israel
pun dapat mengalami kemiskinan. Menjadi bagian dari umat Allah tidak berarti
seseorang akan selalu hidup berkecukupan secara ekonomi.
Kita sering hidup dalam budaya yang secara tidak sadar
mengukur keberhasilan melalui apa yang dimiliki. Rumah, kendaraan, pekerjaan,
jabatan, penghasilan, bahkan gaya hidup dapat menjadi ukuran untuk menentukan
apakah seseorang dianggap berhasil atau tidak. Akibatnya, ketika seseorang
mengalami kegagalan ekonomi, kita mudah memberikan label: “Mungkin dia
kurang bekerja keras,” “Mungkin dia tidak pandai mengatur uang,” atau
bahkan, “Mungkin hidupnya tidak diberkati Tuhan.” Namun Imamat 25
mengingatkan kita: kemiskinan tanda
kegagalan rohani. Orang Israel yang menjadi miskin tetap disebut sebagai
saudara. Kondisi ekonominya berubah, tetapi identitasnya tidak berubah.
Ia tetap bagian dari umat Allah dan tetap memiliki martabat. Karena itu, ketika
seseorang jatuh, respons umat Allah bukanlah menghakimi, tetapi menghadirkan
pertolongan. Kerabat dalam bagian ini bukan sekadar memiliki hak untuk menebus;
ia memiliki tanggung jawab untuk
bertindak ketika saudaranya berada dalam kesulitan. Kasih dalam keluarga
tidak berhenti pada hubungan emosional, tetapi diwujudkan dalam kesediaan
menanggung beban. Ini menantang kita untuk melihat kembali cara kita memandang
orang yang sedang mengalami kesulitan ekonomi.
Saudara, apakah kita menghargai seseorang karena siapa
dirinya, atau karena apa yang dimilikinya? Imamat 25:55 menutup bagian ini
dengan sebuah pengingat bahwa orang Israel adalah milik Tuhan, karena Tuhanlah
yang membawa mereka keluar dari Mesir. Karena itu, kehidupan mereka tidak boleh
dibangun hanya berdasarkan keuntungan, kepemilikan, dan kekuatan ekonomi.
Biarlah ketika saudara kita mengalami kesulitan, kita tidak bertanya terlebih
dahulu, “Apa yang menyebabkan dia jatuh?” tetapi bertanya, “Apa yang dapat aku lakukan untuk membantunya
bangkit?” Sebab dalam keluarga umat Allah, ketika satu orang jatuh, yang
lain tidak dipanggil untuk menonton dari kejauhan. Kita dipanggil untuk
mendekat, menopang, dan bila perlu, ikut menanggung beban. (FS)

Komentar
Posting Komentar