Ketika Saudara Jatuh, Jangan Biarkan Ia Sendirian

Sabtu, 12 September 2026
Ketika Saudara Jatuh, Jangan Biarkan Ia Sendirian

Bacaan Alkitab : Imamat 25:47–55


Imamat 25:47–55 menggambarkan situasi ketika seorang Israel jatuh miskin dan akhirnya menjual dirinya sebagai pekerja kepada seorang pendatang atau orang asing yang tinggal di tengah-tengah Israel. Menariknya, Allah tidak mengatakan bahwa karena ia miskin, maka ia kehilangan statusnya sebagai saudara dalam, komunitas Israel. Karena itu, Allah memberikan jalan agar ia dapat ditebus. Jika orang itu menjadi miskin dan menjual dirinya kepada orang asing, maka kerabatnya memiliki kesempatan untuk menebusnya. Seorang saudara, paman, sepupu, atau kerabat dekat dapat mengambil tanggung jawab untuk membebaskannya. Dengan demikian, kemiskinan seseorang bukan hanya persoalan pribadi. Ada tanggung jawab komunitas, terutama keluarga, untuk memperhatikan saudaranya yang sedang jatuh.  Hal ini penting karena Alkitab tidak pernah menjadikan kekayaan sebagai ukuran nilai seseorang. Orang Israel pun dapat mengalami kemiskinan. Menjadi bagian dari umat Allah tidak berarti seseorang akan selalu hidup berkecukupan secara ekonomi.

Kita sering hidup dalam budaya yang secara tidak sadar mengukur keberhasilan melalui apa yang dimiliki. Rumah, kendaraan, pekerjaan, jabatan, penghasilan, bahkan gaya hidup dapat menjadi ukuran untuk menentukan apakah seseorang dianggap berhasil atau tidak. Akibatnya, ketika seseorang mengalami kegagalan ekonomi, kita mudah memberikan label: “Mungkin dia kurang bekerja keras,” “Mungkin dia tidak pandai mengatur uang,” atau bahkan, “Mungkin hidupnya tidak diberkati Tuhan.” Namun Imamat 25 mengingatkan kita: kemiskinan tanda kegagalan rohani. Orang Israel yang menjadi miskin tetap disebut sebagai saudara. Kondisi ekonominya berubah, tetapi identitasnya tidak berubah. Ia tetap bagian dari umat Allah dan tetap memiliki martabat. Karena itu, ketika seseorang jatuh, respons umat Allah bukanlah menghakimi, tetapi menghadirkan pertolongan. Kerabat dalam bagian ini bukan sekadar memiliki hak untuk menebus; ia memiliki tanggung jawab untuk bertindak ketika saudaranya berada dalam kesulitan. Kasih dalam keluarga tidak berhenti pada hubungan emosional, tetapi diwujudkan dalam kesediaan menanggung beban. Ini menantang kita untuk melihat kembali cara kita memandang orang yang sedang mengalami kesulitan ekonomi.

Saudara, apakah kita menghargai seseorang karena siapa dirinya, atau karena apa yang dimilikinya? Imamat 25:55 menutup bagian ini dengan sebuah pengingat bahwa orang Israel adalah milik Tuhan, karena Tuhanlah yang membawa mereka keluar dari Mesir. Karena itu, kehidupan mereka tidak boleh dibangun hanya berdasarkan keuntungan, kepemilikan, dan kekuatan ekonomi. Biarlah ketika saudara kita mengalami kesulitan, kita tidak bertanya terlebih dahulu, “Apa yang menyebabkan dia jatuh?” tetapi bertanya, “Apa yang dapat aku lakukan untuk membantunya bangkit?” Sebab dalam keluarga umat Allah, ketika satu orang jatuh, yang lain tidak dipanggil untuk menonton dari kejauhan. Kita dipanggil untuk mendekat, menopang, dan bila perlu, ikut menanggung beban. (FS)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gaung Kekudusan Hidup

Jangan Manfaatkan Orang yang Sedang Jatuh

Kesiapan dalam Kesucian