Hati yang Berhenti Mendengarkan
Hati yang Berhenti Mendengarkan
Saudara-saudara, setelah menyampaikan
berkat bagi Israel dalam Imamat 26:1–13, Tuhan kemudian berbicara tentang
konsekuensi apabila umat-Nya tidak hidup dalam ketaatan. Ayat 14 membuka bagian
ini dengan perkataan, “Tetapi, jikalau kamu tidak mendengarkan Aku dan tidak
melakukan segala perintah ini.” Kata “tetapi” menunjukkan perubahan yang sangat
jelas: sebelumnya Tuhan berbicara tentang berkat bagi umat yang hidup menurut
ketetapan-Nya, tetapi sekarang perhatian diarahkan kepada umat yang menolak
mendengarkan dan menaati-Nya.
Dalam bagian ayat yang baru saja kita baca
masalah terbesar adalah Israel telah menerima hukum dan mengetahui apa yang
Tuhan kehendaki tetapi menolak ketetapan dan melanggar perjanjian yang telah
Tuhan nyatakan kepada mereka. Ayat 15 bahkan menggambarkan
perkembangan penolakan itu: mereka menolak ketetapan Tuhan, merasa muak
terhadap peraturan-Nya, tidak melakukan perintah-Nya, dan akhirnya melanggar
perjanjian-Nya. Jadi, penolakan terhadap Tuhan tidak terjadi dalam satu langkah.
Ada proses ketika hati semakin tidak bersedia menerima firman yang telah
didengarnya. Karena itu, bagian ini mengajarkan bahwa mendengarkan Tuhan dalam
pengertian Alkitab bukan sekadar mendengar suara atau mengetahui isi firman.
Mendengarkan berarti menerima perkataan Tuhan dengan sikap tunduk dan bersedia
melakukannya. Seseorang dapat mengetahui apa yang benar, tetapi tetap memilih
untuk tidak melakukannya. Di situlah masalah ketaatan dimulai.
Prinsip ini dapat kita terapkan dalam kehidupan kita saat ini, bahwa kemunduran rohani tidak selalu dimulai dengan dosa yang besar dan terbuka. Kadang-kadang dimulai dari respons yang sederhana di dalam hati: “Saya tahu Tuhan menghendaki ini, tetapi saya belum mau melakukannya.” Kita tahu bahwa kita harus mengampuni, tetapi memilih terus memelihara kepahitan. Kita mengetahui bahwa suatu keputusan tidak benar, tetapi tetap mengambilnya karena menguntungkan. Kita memahami bahwa ada sikap yang harus diubah, tetapi terus berkata, “Nanti saja.” Jika respons seperti itu terus dipelihara, persoalannya bukan lagi sekadar satu tindakan yang salah. Hati sedang belajar untuk tidak lagi tunduk kepada firman Tuhan. Karena itu, ketika firman Tuhan menunjukkan sesuatu yang perlu diperbaiki, respons pertama bukanlah mencari alasan untuk membela diri. Kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: “Tuhan, apa yang sedang Engkau tunjukkan kepada saya melalui firman-Mu?” Kemudian kita mengakuinya dengan jujur dan mengambil langkah ketaatan.
Refleksi : Apa yang sebenarnya sudah Tuhan katakan kepada saya melalui firman-Nya, tetapi sampai hari ini saya masih tidak mau melakukannya? Imamat 26:14–20 mengingatkan kita bahwa persoalan besar dalam kehidupan rohani dapat dimulai dari hati yang tidak lagi mau mendengarkan. Tuhan telah berbicara, dan firman-Nya memanggil kita kepada ketaatan. Karena itu, jangan hanya menjadi orang yang mengetahui firman, tetapi jadilah orang yang bersedia tunduk dan melakukannya. (TH)
Komentar
Posting Komentar