Bernazar Dengan Kesungguhan

Sabtu, 26 September 2026
Bernazar Dengan Kesungguhan

Bacaan Alkitab : Imamat 27:22–25



Imamat 27:22–25 berbicara tentang seseorang yang mempersembahkan tanah yang telah dibelinya kepada Tuhan sebagai nazar. Berbeda dengan tanah pusaka, tanah yang dibeli memiliki batas waktu sampai tahun Yobel. Karena itu, nilai tanah yang dinazarkan diperhitungkan berdasarkan jumlah tahun yang tersisa sampai tahun Yobel. Jika kita melihat konteksnya, nazar tanah bukanlah sesuatu yang kecil. Tanah pada zaman Israel memiliki nilai yang sangat penting. Tanah bukan hanya sebuah aset atau benda yang dapat dimiliki, tetapi berkaitan dengan kehidupan, tempat tinggal, sumber penghasilan, dan masa depan seseorang. Karena itu, ketika seseorang menyerahkan tanahnya sebagai nazar kepada Tuhan, ia sedang menyerahkan sesuatu yang memiliki nilai besar dalam kehidupannya. Bisa dikatakan bahwa nazar tanah merupakan salah satu bentuk nazar yang besar, karena yang diserahkan bukan sekadar sesuatu yang mudah digantikan. Ada nilai, ada pengorbanan, dan ada konsekuensi dari keputusan tersebut. Namun, bagian ini juga mengingatkan kita bahwa bukan perkara yang ringan. Ada sesuatu yang bernilai yang dikhususkan kepada Tuhan, dan keputusan itu memiliki konsekuensi. Karena itu, komitmen kepada Tuhan seharusnya diberikan dengan hati yang sungguh-sungguh dan rela

Nazar seharusnya tidak lahir dari emosi sesaat. Jangan sampai ketika sedang mengalami masalah, kita dengan mudah berkata, “Tuhan, kalau Engkau menolong saya, saya akan memberikan ini kepada-Mu.” Tetapi setelah keadaan berubah, kita mulai menyesali apa yang sudah kita ucapkan. Kerelaan hati berarti kita sadar bahwa apa yang kita serahkan kepada Tuhan bukan lagi sesuatu yang boleh kita perlakukan dengan sembarangan. Kita bernazar bukan karena dipaksa, bukan karena ingin terlihat rohani, dan bukan untuk membuat Tuhan berutang kepada kita. Kita bernazar karena hati kita sungguh-sungguh ingin menghormati Tuhan. Karena itu, sebelum bernazar, kita perlu berpikir dan mempertimbangkannya dengan sungguh-sungguh. Jangan mudah membuat janji kepada Tuhan hanya karena perasaan sedang kuat. Tetapi ketika kita sudah mengucapkannya dengan sadar, kita juga perlu belajar menghargai komitmen tersebut. Hal ini berlaku bukan hanya mengenai tanah atau harta. Dalam kehidupan kita, mungkin ada pelayanan, waktu, tenaga, kemampuan, atau sesuatu yang pernah kita serahkan kepada Tuhan. Jangan sampai apa yang awalnya kita berikan dengan sukacita, kemudian kita ambil kembali ketika pengorbanannya mulai terasa. Karena itu, jangan membuat nazar secara gegabah. Pertimbangkan dengan sungguh-sungguh apa yang kita janjikan kepada Tuhan, dan apabila kita telah mengucapkannya dengan sadar, hormatilah komitmen tersebut.

Saudara, ketika saya memberikan sesuatu kepada Tuhan, apakah saya memberikannya dengan kerelaan hati, atau sebenarnya saya sedang berharap mendapatkan sesuatu sebagai balasannya? Biarlah kiranya setiap nazar, persembahan, pelayanan, dan komitmen yang kita berikan kepada Tuhan lahir dari hati yang rela. Sebab yang berharga di hadapan Tuhan bukan hanya seberapa besar yang kita serahkan, tetapi seberapa sungguh hati kita ketika menyerahkannya. Apa yang kita serahkan kepada Tuhan, biarlah kita serahkan dengan tulus, sukacita, dan hati yang menghormati Dia. (FS)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gaung Kekudusan Hidup

Jangan Manfaatkan Orang yang Sedang Jatuh

Kesiapan dalam Kesucian