Bernazar Dengan Kesungguhan
Bernazar Dengan Kesungguhan
Bacaan Alkitab : Imamat 27:22–25
Imamat 27:22–25 berbicara
tentang seseorang yang mempersembahkan tanah yang telah dibelinya kepada Tuhan
sebagai nazar. Berbeda dengan tanah pusaka, tanah yang dibeli memiliki batas
waktu sampai tahun Yobel. Karena itu, nilai tanah yang dinazarkan
diperhitungkan berdasarkan jumlah tahun yang tersisa sampai tahun Yobel. Jika
kita melihat konteksnya, nazar tanah bukanlah sesuatu yang
kecil. Tanah pada
zaman Israel memiliki nilai yang sangat penting. Tanah bukan hanya sebuah aset
atau benda yang dapat dimiliki, tetapi berkaitan dengan kehidupan, tempat
tinggal, sumber penghasilan, dan masa depan seseorang. Karena itu, ketika
seseorang menyerahkan tanahnya sebagai nazar kepada Tuhan, ia sedang
menyerahkan sesuatu yang memiliki nilai besar dalam kehidupannya. Bisa
dikatakan bahwa nazar tanah merupakan salah satu bentuk nazar
yang besar, karena
yang diserahkan bukan sekadar sesuatu yang mudah digantikan. Ada nilai, ada
pengorbanan, dan ada konsekuensi dari keputusan tersebut. Namun, bagian ini
juga mengingatkan kita bahwa bukan perkara yang ringan. Ada sesuatu yang
bernilai yang dikhususkan kepada Tuhan, dan keputusan itu memiliki konsekuensi.
Karena itu, komitmen kepada Tuhan seharusnya diberikan dengan hati yang
sungguh-sungguh dan rela
Nazar seharusnya tidak lahir
dari emosi sesaat. Jangan sampai ketika sedang mengalami masalah, kita dengan
mudah berkata, “Tuhan, kalau Engkau menolong saya, saya akan memberikan ini
kepada-Mu.” Tetapi setelah keadaan berubah, kita mulai menyesali apa yang sudah
kita ucapkan. Kerelaan hati berarti kita sadar bahwa apa yang kita serahkan
kepada Tuhan bukan lagi sesuatu yang boleh kita perlakukan dengan sembarangan.
Kita bernazar bukan karena dipaksa, bukan karena ingin terlihat rohani, dan
bukan untuk membuat Tuhan berutang kepada kita. Kita bernazar karena hati kita
sungguh-sungguh ingin menghormati Tuhan. Karena itu, sebelum bernazar, kita
perlu berpikir dan mempertimbangkannya dengan sungguh-sungguh. Jangan mudah
membuat janji kepada Tuhan hanya karena perasaan sedang kuat. Tetapi ketika
kita sudah mengucapkannya dengan sadar, kita juga perlu belajar menghargai
komitmen tersebut. Hal ini berlaku bukan hanya mengenai tanah atau harta. Dalam
kehidupan kita, mungkin ada pelayanan, waktu, tenaga, kemampuan, atau sesuatu
yang pernah kita serahkan kepada Tuhan. Jangan sampai apa yang awalnya kita
berikan dengan sukacita, kemudian kita ambil kembali ketika pengorbanannya
mulai terasa. Karena itu, jangan
membuat nazar secara gegabah. Pertimbangkan dengan sungguh-sungguh apa yang
kita janjikan kepada Tuhan, dan apabila kita telah mengucapkannya dengan sadar,
hormatilah komitmen tersebut.
Saudara, ketika
saya memberikan sesuatu kepada Tuhan, apakah saya memberikannya dengan kerelaan
hati, atau sebenarnya saya sedang berharap mendapatkan sesuatu sebagai
balasannya? Biarlah kiranya setiap nazar, persembahan,
pelayanan, dan komitmen yang kita berikan kepada Tuhan lahir dari hati yang
rela. Sebab yang berharga di hadapan Tuhan bukan hanya seberapa besar yang kita serahkan, tetapi seberapa sungguh hati kita
ketika menyerahkannya.
Apa yang kita serahkan kepada Tuhan, biarlah kita serahkan dengan tulus,
sukacita, dan hati yang menghormati Dia. (FS)

Komentar
Posting Komentar