Berakar Pada Perjanjian

Selasa, 15 September 2026
Berakar Pada Perjanjian

Bacaan Alkitab : Imamat 26:3-13



Ketika membaca Imamat 26:3-13, perhatian kita sering tertuju pada daftar berkat yang dijanjikan Tuhan: hujan pada waktunya, panen yang melimpah, keamanan, kemenangan atas musuh, dan kehidupan yang sejahtera. Namun, inti dari bagian ini bukanlah berkat itu sendiri, melainkan hubungan perjanjian antara Allah dan umat-Nya. Tuhan memulai dengan berkata, “Jikalau kamu hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada perintah-Ku...” (ay. 3). Ketaatan Israel bukanlah usaha untuk mendapatkan status sebagai umat Allah. Sebaliknya, Mereka telah terlebih dahulu dipanggil menjadi umat perjanjian, dan karena itu mereka juga dipanggil untuk hidup sesuai dengan perjanjian tersebut.  Allah terlebih dahulu membebaskan mereka dari Mesir, memilih mereka sebagai milik-Nya, lalu memanggil mereka untuk hidup sesuai dengan identitas tersebut. Inilah prinsip penting yang sering terlupakan. Ketaatan bukanlah cara untuk membeli atau memperoleh kasih Allah. Ketaatan merupakan respons umat terhadap kasih dan kesetiaan Allah dalam perjanjian.  Bangsa Israel menaati Tuhan karena mereka telah lebih dahulu menerima anugerah-Nya. Karena itu, berkat-berkat yang disebutkan dalam ayat 4-13 juga harus dipahami sebagai berkat perjanjian. Berkat tersebut merupakan  tanda kesetiaan Allah kepada umat yang telah diikat-Nya dalam hubungan perjanjian. Melalui semua itu, Allah menunjukkan bahwa Ia hadir, memelihara, dan menjaga umat-Nya.

 

Ketika bagian ini ditarik ke masa kini, kita perlu berhati-hati. Providensia Allah bekerja dengan cara yang berbeda-beda pada setiap orang. Tidak semua orang percaya mengalami bentuk berkat yang sama. Ada yang diberi kelimpahan materi, ada yang hidup sederhana. Ada yang segera melihat jawaban doa, ada yang harus menunggu dalam waktu yang panjang. Namun perbedaan itu tidak berarti Allah lebih mengasihi yang satu daripada yang lain. Bahkan dalam sejarah Israel sendiri, berkat tidak berarti hidup tanpa masalah. Mereka tetap menghadapi peperangan, ancaman, dan berbagai kesulitan. Namun Tuhan memberikan sesuatu yang jauh lebih besar daripada kenyamanan, yaitu penyertaan-Nya. Puncak dari seluruh janji dalam bagian ini terdapat pada ayat 12: “Aku akan hadir di tengah-tengahmu dan Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku.” Pada akhirnya, berkat terbesar bukanlah kehidupan yang bebas dari persoalan, melainkan kehadiran Allah di tengah persoalan itu. Sebagai umat Allah, kita pun memiliki pengharapan bahwa Tuhan menyertai umat-Nya. Dalam terang Perjanjian Baru, penyertaan Allah itu dinyatakan secara penuh dalam Kristus dan kehadiran Roh Kudus.

Saudara, apakah saya menaati Tuhan karena mengasihi-Nya sebagai Allah perjanjian, atau hanya karena mengharapkan berkat dari-Nya? Biarlah kiranya kita tidak hanya bersukacita karena berkat-berkat yang Tuhan berikan, tetapi terlebih karena Tuhan sendiri hadir dalam hidup kita. Ketika jalan hidup terasa mudah maupun sulit, kiranya hati kita tetap berakar pada perjanjian kasih karunia-Nya, percaya bahwa Allah yang telah memanggil kita menjadi umat-Nya tidak akan pernah meninggalkan kita. Sebab berkat terbesar yang kita miliki bukanlah hidup tanpa masalah, melainkan Tuhan yang setia berjalan bersama kita di setiap musim kehidupan. (FS)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gaung Kekudusan Hidup

Jangan Manfaatkan Orang yang Sedang Jatuh

Kesiapan dalam Kesucian