Berakar Pada Perjanjian
Berakar Pada Perjanjian
Bacaan Alkitab : Imamat 26:3-13
Ketika membaca Imamat 26:3-13, perhatian kita
sering tertuju pada daftar berkat yang dijanjikan Tuhan: hujan pada waktunya,
panen yang melimpah, keamanan, kemenangan atas musuh, dan kehidupan yang
sejahtera. Namun, inti dari bagian ini bukanlah berkat itu sendiri, melainkan
hubungan perjanjian antara Allah dan umat-Nya. Tuhan memulai dengan berkata,
“Jikalau kamu hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada
perintah-Ku...” (ay. 3). Ketaatan Israel bukanlah usaha untuk mendapatkan
status sebagai umat Allah. Sebaliknya, Mereka telah terlebih dahulu dipanggil
menjadi umat perjanjian, dan karena itu mereka juga dipanggil untuk
hidup sesuai dengan perjanjian tersebut.
Allah terlebih dahulu membebaskan mereka dari Mesir, memilih mereka
sebagai milik-Nya, lalu memanggil mereka untuk hidup sesuai dengan identitas
tersebut. Inilah prinsip penting yang sering terlupakan. Ketaatan bukanlah cara
untuk membeli atau memperoleh kasih Allah. Ketaatan merupakan respons umat
terhadap kasih dan kesetiaan Allah dalam perjanjian. Bangsa Israel menaati Tuhan karena mereka
telah lebih dahulu menerima anugerah-Nya. Karena itu, berkat-berkat yang
disebutkan dalam ayat 4-13 juga harus dipahami sebagai berkat perjanjian.
Berkat tersebut merupakan tanda
kesetiaan Allah kepada umat yang telah diikat-Nya dalam hubungan perjanjian.
Melalui semua itu, Allah menunjukkan bahwa Ia hadir, memelihara, dan menjaga
umat-Nya.
Ketika bagian ini ditarik ke masa kini, kita
perlu berhati-hati. Providensia Allah bekerja dengan cara yang berbeda-beda
pada setiap orang. Tidak semua orang percaya mengalami bentuk berkat yang sama.
Ada yang diberi kelimpahan materi, ada yang hidup sederhana. Ada yang segera
melihat jawaban doa, ada yang harus menunggu dalam waktu yang panjang. Namun
perbedaan itu tidak berarti Allah lebih mengasihi yang satu daripada yang lain.
Bahkan dalam sejarah Israel sendiri, berkat tidak berarti hidup tanpa masalah.
Mereka tetap menghadapi peperangan, ancaman, dan berbagai kesulitan. Namun
Tuhan memberikan sesuatu yang jauh lebih besar daripada kenyamanan, yaitu
penyertaan-Nya. Puncak dari seluruh janji dalam bagian ini terdapat pada ayat
12: “Aku akan hadir di tengah-tengahmu
dan Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku.” Pada
akhirnya, berkat terbesar bukanlah kehidupan yang bebas dari persoalan,
melainkan kehadiran Allah di tengah persoalan itu. Sebagai umat Allah, kita pun
memiliki pengharapan bahwa Tuhan menyertai umat-Nya. Dalam terang Perjanjian
Baru, penyertaan Allah itu dinyatakan secara penuh dalam Kristus dan kehadiran
Roh Kudus.
Saudara, apakah saya menaati Tuhan karena
mengasihi-Nya sebagai Allah perjanjian, atau hanya karena mengharapkan berkat
dari-Nya? Biarlah kiranya
kita tidak hanya bersukacita karena berkat-berkat yang Tuhan berikan, tetapi
terlebih karena Tuhan sendiri hadir dalam hidup kita. Ketika jalan hidup terasa
mudah maupun sulit, kiranya hati kita tetap berakar pada perjanjian kasih
karunia-Nya, percaya bahwa Allah yang telah memanggil kita menjadi umat-Nya
tidak akan pernah meninggalkan kita. Sebab berkat terbesar yang kita miliki
bukanlah hidup tanpa masalah, melainkan Tuhan yang setia berjalan bersama kita
di setiap musim kehidupan. (FS)
Komentar
Posting Komentar