Bahagia Karena Telah Dibebaskan

Rabu, 9 September 2026
Bahagia Karena Telah Dibebaskan 
Bacaan Alkitab : Imamat 25:35-38

Dalam bagian Firman Tuhan yang baru saja kita baca, kita dapat melihat ketetapan Allah berkaitan dengan sesama yang jatuh miskin. Kemiskinan tidak menghilangkan kedudukannya sebagai anggota komunitas perjanjian. Karena itu, respons yang diperintahkan bukan mengambil keuntungan, tetapi: “engkau harus menyokong dia.” Bahkan membantu pemulihan ekonominya dengan cara memberikan pinjaman dengan  tujuan mempertahankan kehidupan (ay, 36). Dengan kata lain, kondisi ekonomi ditempatkan di bawah tujuan yang lebih besar: memelihara kehidupan komunitas umat Allah.

Pada ayat 38 terdapat suatu dasar teologis: “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir…” Para sarjana PB menuliskan bahwa dasar ini penting karena berarti bahwa perintah sosial tersebut tidak berdiri sendiri. Israel harus memperlakukan sesamanya yang jatuh miskin dengan belas kasihan karena mereka sendiri adalah umat yang telah mengalami belas kasihan dan pembebasan Allah. Bangsa Israel pernah menjadi budak di Mesir. Mereka pernah berada dalam posisi tidak berdaya. Kemudian Allah membebaskan mereka dan memberikan tanah kepada mereka. Karena itu, bangsa Israel tidak diizinkan untuk membangun masyarakat baru yang mengulangi pola penindasan yang mereka sendiri pernah alami. Dengan demikian, Israel harus menjaga kehidupan sesamanya dengan belas kasihan dengan penebusan Allah sebagai dasar dari tindakan tersebut.

Saudara, Israel diperintahkan untuk menyokong saudaranya yang jatuh miskin bukan karena seolah-olah mereka sedang membayar utang kepada Allah. Mereka menolong karena mereka adalah umat yang telah mengalami sendiri pembebasan Allah dari Mesir. Hal ini sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita pernah mengalami seseorang menolong kita ketika sedang kesulitan, jangan biarkan pengalaman itu berhenti sebagai kenangan. Biarkan pengalaman itu membentuk cara kita memperlakukan orang lain. Ketika kita pernah mengalami pengampunan, jangan menjadi orang yang sulit mengampuni. Ketika kita pernah menerima kesempatan kedua, jangan menjadi orang yang tidak memberikan kesempatan kepada orang lain. Ketika kita pernah mengalami seseorang percaya kepada kita ketika kita gagal, jadilah orang yang juga berani percaya dan menopang orang lain ketika mereka sedang jatuh. Dengan demikian, kebahagiaan karena telah ditolong Allah tidak dimaksudkan untuk berhenti pada diri kita. Ketika kita sungguh-sungguh mengalami kasih-Nya, kita akan rindu orang lain mengalami kasih yang sama melalui hidup kita.

Pertanyaan Refleksi : Bagaimana melalui hidup saya seseorang dapat merasakan bahwa Allah itu baik dan masih memberikan harapan? Ingatlah bahwa Allah tidak membebaskan kita supaya kita menikmati kebebasan itu seorang diri. Ia membebaskan kita supaya melalui kehidupan kita, orang lain juga dapat merasakan kebebasan, pertolongan, dan kebaikan yang telah kita alami. (TH)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gaung Kekudusan Hidup

Kesiapan dalam Kesucian

Keadilan yang Berkenan kepada Allah