Bahagia Karena Telah Dibebaskan
Bahagia Karena Telah Dibebaskan
Dalam bagian
Firman Tuhan yang baru saja kita baca, kita dapat melihat ketetapan Allah
berkaitan dengan sesama yang jatuh miskin. Kemiskinan tidak menghilangkan
kedudukannya sebagai anggota komunitas perjanjian. Karena itu, respons yang
diperintahkan bukan mengambil keuntungan, tetapi: “engkau harus menyokong dia.”
Bahkan membantu pemulihan ekonominya dengan cara memberikan pinjaman dengan tujuan mempertahankan kehidupan (ay, 36). Dengan
kata lain, kondisi ekonomi ditempatkan di bawah tujuan yang lebih besar: memelihara
kehidupan komunitas umat Allah.
Pada ayat 38
terdapat suatu dasar teologis: “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa kamu keluar
dari tanah Mesir…” Para sarjana PB menuliskan bahwa dasar ini penting karena berarti
bahwa perintah sosial tersebut tidak berdiri sendiri. Israel harus
memperlakukan sesamanya yang jatuh miskin dengan belas kasihan karena mereka
sendiri adalah umat yang telah mengalami belas kasihan dan pembebasan Allah.
Bangsa Israel pernah menjadi budak di Mesir. Mereka pernah berada dalam posisi
tidak berdaya. Kemudian Allah membebaskan mereka dan memberikan tanah kepada
mereka. Karena itu, bangsa Israel tidak diizinkan untuk membangun masyarakat
baru yang mengulangi pola penindasan yang mereka sendiri pernah alami. Dengan
demikian, Israel harus menjaga kehidupan sesamanya dengan belas kasihan dengan
penebusan Allah sebagai dasar dari tindakan tersebut.
Saudara, Israel diperintahkan untuk menyokong saudaranya yang jatuh miskin bukan karena seolah-olah mereka sedang membayar utang kepada Allah. Mereka menolong karena mereka adalah umat yang telah mengalami sendiri pembebasan Allah dari Mesir. Hal ini sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita pernah mengalami seseorang menolong kita ketika sedang kesulitan, jangan biarkan pengalaman itu berhenti sebagai kenangan. Biarkan pengalaman itu membentuk cara kita memperlakukan orang lain. Ketika kita pernah mengalami pengampunan, jangan menjadi orang yang sulit mengampuni. Ketika kita pernah menerima kesempatan kedua, jangan menjadi orang yang tidak memberikan kesempatan kepada orang lain. Ketika kita pernah mengalami seseorang percaya kepada kita ketika kita gagal, jadilah orang yang juga berani percaya dan menopang orang lain ketika mereka sedang jatuh. Dengan demikian, kebahagiaan karena telah ditolong Allah tidak dimaksudkan untuk berhenti pada diri kita. Ketika kita sungguh-sungguh mengalami kasih-Nya, kita akan rindu orang lain mengalami kasih yang sama melalui hidup kita.
Pertanyaan Refleksi : Bagaimana melalui hidup saya
seseorang dapat merasakan bahwa Allah itu baik dan masih memberikan harapan?
Ingatlah bahwa Allah tidak membebaskan kita supaya kita menikmati kebebasan itu
seorang diri. Ia membebaskan kita supaya melalui kehidupan kita, orang lain
juga dapat merasakan kebebasan, pertolongan, dan kebaikan yang telah kita
alami. (TH)

Komentar
Posting Komentar