Pemulihan Pribadi Mendahului Pelayanan
Pemulihan Pribadi Mendahului Pelayanan
Bacaan Alkitab : Imamat 16:11-14
Hari
Pendamaian merupakan salah satu peristiwa paling penting dalam kehidupan rohani
bangsa Israel. Pada hari itu, Imam Besar Harun mendapat kehormatan sekaligus
tanggung jawab besar untuk masuk ke Ruang Mahakudus, tempat hadirat Allah
dinyatakan secara khusus. Namun, sebelum ia membawa pendamaian bagi seluruh
bangsa Israel, Allah memberikan satu perintah yang sangat penting: Harun harus
terlebih dahulu mempersembahkan korban penghapus dosa bagi dirinya sendiri dan
keluarganya. Firman Tuhan berkata, "Harun harus mengadakan pendamaian bagi dirinya sendiri
dan keluarganya terlebih dahulu" (ay. 11). Perintah ini
menunjukkan bahwa Allah menghendaki agar pelayanan lahir dari hati yang telah
diperdamaikan dengan-Nya. Karena itu, kondisi rohani seorang pelayan tidak
dapat dipisahkan dari pelayanannya. Harun adalah imam besar yang dipilih Allah,
tetapi ia tetap seorang manusia yang berdosa dan karena itu membutuhkan
pengampunan. Sebelum berdiri sebagai perantara bagi umat, ia harus terlebih
dahulu berdamai dengan Allah. Dengan kata lain, pemulihan pribadi selalu
mendahului pelayanan kepada sesama.
Prinsip
ini tetap berlaku bagi setiap orang percaya pada masa kini. Tidak sedikit orang
yang aktif melayani di gereja, memimpin kelompok kecil, mengajar firman Tuhan,
atau terlibat dalam berbagai kegiatan rohani, tetapi tanpa disadari mulai
mengabaikan kehidupan pribadinya bersama Tuhan. Kesibukan melayani dapat
membuat seseorang terlihat rohani di hadapan orang lain, tetapi diam-diam
kehilangan keintiman dengan Allah. Waktu untuk berdoa menjadi semakin sedikit,
firman Tuhan tidak lagi direnungkan dengan sungguh-sungguh, dan hati mulai
dipenuhi kelelahan, kepahitan, atau kesombongan rohani. Allah tidak pernah
menghendaki pelayanan yang hanya terlihat baik dari luar, tetapi lahir dari
hati yang kosong. Ia rindu agar setiap pelayanan mengalir dari kehidupan yang
terlebih dahulu mengalami pembaruan oleh kasih karunia-Nya. Pelayanan yang
berasal dari hati yang dipulihkan akan membawa kehidupan, karena bukan kekuatan
manusia yang bekerja, melainkan anugerah Tuhan yang nyata melalui dirinya.
Saudara, apakah kita lebih sibuk melayani
Tuhan daripada membangun hubungan pribadi dengan Tuhan? Karena
itu, marilah kita tidak hanya mengejar kesibukan dalam pelayanan, tetapi juga
menjaga hubungan pribadi dengan Tuhan. Luangkan waktu untuk datang kepada-Nya,
mengakui setiap dosa, menerima pengampunan-Nya, dan membiarkan Roh Kudus terus
membentuk karakter kita. Sebab sebelum Tuhan memakai tangan kita untuk melayani
banyak orang, Ia terlebih dahulu ingin memulihkan hati kita. Dari hati yang
dipenuhi hadirat-Nya akan lahir pelayanan yang tulus, rendah hati, dan menjadi
saluran berkat bagi banyak orang. Biarlah kiranya, kita tidak hanya dikenal sebagai
orang yang sibuk melayani, tetapi sebagai pribadi yang setiap hari hidup dekat
dengan Tuhan. Sebab pelayanan yang paling berkenan kepada Allah selalu dimulai
dari hati yang telah dipulihkan oleh kasih dan anugerah-Nya. (FS)

Komentar
Posting Komentar