Menghormati Ikatan yang dikuduskan Allah
Menghormati Ikatan yang dikuduskan Allah
Bacaan Alkitab : Imamat
18:11-18
Imamat 18:11–18 berisi larangan hubungan seksual dengan anggota keluarga yang
memiliki hubungan karena pernikahan (affinal relationship), seperti anak
tiri, bibi karena pernikahan, menantu perempuan, dan ipar. Bagian ini ditutup
dengan penegasan Allah bahwa tindakan tersebut adalah "perbuatan
mesum" (Ibr. זִמָּה – zimmah), yaitu perbuatan yang keji, amoral, dan
merusak tatanan yang telah Allah tetapkan (Imamat 18:17).
Secara teologis, larangan ini
menunjukkan bahwa Allah tidak hanya mengakui hubungan darah, Allah menetapkan
dan menguduskan relasi yang lahir melalui pernikahan sebagai bagian dari
tatanan ciptaan-Nya. C. F. Keil -Teolog PL- menjelaskan bahwa anggota keluarga
yang menjadi kerabat melalui pernikahan harus diperlakukan sebagai keluarga
sendiri. Dasarnya adalah prinsip "satu daging" (בָּשָׂר אֶחָד – basar echad) dalam Kejadian 2:24, di mana
Allah sendiri mempersatukan suami dan istri dalam suatu ikatan perjanjian (covenant). Karena itu,
pelanggaran terhadap relasi tersebut bukan sekadar penyimpangan moral,
melainkan pelanggaran terhadap kekudusan pernikahan yang Allah dirikan. Dalam
terang Perjanjian Baru, prinsip ini tetap berlaku. Pernikahan dipandang sebagai
gambaran hubungan Kristus dengan jemaat (Efesus 5:31–32), sehingga kesetiaan,
kemurnian, dan penghormatan terhadap batas-batas relasi keluarga menjadi bagian
dari kesaksian hidup orang percaya (Ibrani 13:4).
Di tengah budaya yang semakin mengaburkan batas moral, firman Tuhan mengingatkan bahwa keluarga harus menjadi tempat yang aman, penuh kasih, dan saling menghormati. Bentuk pelanggaran terhadap kekudusan keluarga pada masa kini tidak hanya berupa hubungan seksual yang dilarang, tetapi juga pelecehan seksual dalam keluarga, perselingkuhan, penyalahgunaan relasi kuasa, pornografi, maupun hubungan emosional yang melampaui batas sehingga merusak kepercayaan dalam keluarga. Allah memanggil setiap orang percaya untuk menghormati batas-batas yang telah Ia tetapkan bukan hanya dengan keluarga sedarah tetapi juga keluarga yang lahir dari hubungan pernikahan. Ketaatan kepada firman-Nya bukanlah kehilangan kebebasan, melainkan jalan menuju keluarga yang sehat, relasi yang penuh hormat, dan kehidupan yang mencerminkan kekudusan Allah. Dengan demikian, mari semakin tumbuhkan kasih, kesabaran dan penguasaan diri kepada seluruh anggota keluarga dan ciptakan keluarga menjadi rumah yang aman, penuh dengan kasih dan rasa hormat satu dengan yang lain. (TH)

Komentar
Posting Komentar