Masih Dekatkah Aku dengan Tuhan?
Masih Dekatkah Aku dengan Tuhan?
Dalam
Imamat 16:15–19, Harun mempersembahkan darah korban penghapus dosa untuk
mengadakan pendamaian dan menyucikan Tempat Mahakudus, Kemah Pertemuan, serta
mezbah dari kenajisan akibat dosa umat Israel. Melalui ritual ini, Allah
menunjukkan bahwa dosa tidak dapat dianggap sepele karena mengganggu
persekutuan antara Allah yang kudus dengan umat-Nya. Bahkan tempat kudus tempat
dimana Allah berdiam pun harus disucikan karena dosa umat mencemarinya. Oleh
sebab itu, Hari Pendamaian ditetapkan sebagai perayaan yang dilaksanakan sekali dalam setahun
(Im. 16:34).
Pelaksanaan yang dilakukan setiap tahun
bukan sekadar rutinitas keagamaan. Hari Pendamaian menjadi saat di mana seluruh
bangsa Israel kembali diingatkan akan kondisi rohani mereka di hadapan Allah.
Mereka menyadari bahwa tanpa anugerah pendamaian, mereka tidak layak berdiri di
hadapan Tuhan yang kudus. Hari itu menjadi momentum untuk mengakui dosa, memperbarui pertobatan, dan kembali hidup
dalam persekutuan dengan Allah.
Jika dalam Perjanjian Lama tempat kudus
perlu terus disucikan karena dosa umat, maka dalam Perjanjian Baru Allah
memanggil umat-Nya untuk terus hidup dalam pertobatan karena mereka kini
menjadi bait Roh Kudus. Bagi orang percaya pada masa kini, kita memang tidak
lagi merayakan Hari Pendamaian karena Kristus telah mempersembahkan diri-Nya
sebagai korban yang sempurna satu kali untuk selama-lamanya (Ibr. 10:10).
Namun, prinsip untuk secara teratur memeriksa kehidupan rohani tetap sangat
relevan. Di tengah kesibukan, pelayanan, pekerjaan, dan rutinitas sehari-hari,
kita mudah merasa bahwa keadaan rohani kita baik-baik saja, padahal hati kita
mungkin mulai menjauh dari Tuhan. Karena itu, setiap orang percaya membutuhkan
waktu-waktu khusus untuk berhenti sejenak dan mengevaluasi dirinya di hadapan
Allah. Bukan untuk mempertanyakan apakah keselamatan kita masih berlaku,
melainkan untuk bertanya: Apakah kasih saya kepada Tuhan masih sama seperti dahulu?
Apakah saya masih hidup dalam pertobatan? Apakah saya masih peka terhadap suara
Tuhan? Ataukah hati saya perlahan menjadi dingin? Yesus
sendiri mengajarkan bahwa Allah mencari penyembah yang menyembah dalam roh dan kebenaran
(Yoh. 4:23–24). Ketika berbicara kepada perempuan Samaria, Yesus mengatakan
bahwa akan tiba saatnya penyembahan tidak lagi ditentukan oleh tempat—baik di
Gunung Gerizim maupun di Yerusalem (Yoh. 4:21)—melainkan oleh kondisi hati yang
sungguh-sungguh datang kepada Allah. Dengan demikian, yang terutama bukan lagi
lokasi kita beribadah, melainkan posisi rohani kita di hadapan Allah.
Pertanyaan : Bagaimana saya dapat menyediakan waktu
secara teratur untuk datang kepada Tuhan dan memperbarui kehidupan rohani saya?
Marilah kita menyediakan waktu secara teratur untuk datang kepada Tuhan,
membuka hati, mengakui dosa, memperbarui pertobatan, dan membiarkan Roh Kudus
menilai kehidupan kita. Sebab kehidupan rohani yang sehat tidak dibangun hanya
melalui ibadah yang rutin, tetapi melalui hati yang terus diperbarui dan hidup
dalam persekutuan yang benar dengan Allah. (TH)

Komentar
Posting Komentar