Masih Dekatkah Aku dengan Tuhan?

Jumat, 10 Juli 2026
Masih Dekatkah Aku dengan Tuhan? 
Bacaan Alkitab : Imamat 16:15-19


          Dalam Imamat 16:15–19, Harun mempersembahkan darah korban penghapus dosa untuk mengadakan pendamaian dan menyucikan Tempat Mahakudus, Kemah Pertemuan, serta mezbah dari kenajisan akibat dosa umat Israel. Melalui ritual ini, Allah menunjukkan bahwa dosa tidak dapat dianggap sepele karena mengganggu persekutuan antara Allah yang kudus dengan umat-Nya. Bahkan tempat kudus tempat dimana Allah berdiam pun harus disucikan karena dosa umat mencemarinya. Oleh sebab itu, Hari Pendamaian ditetapkan sebagai perayaan yang dilaksanakan sekali dalam setahun (Im. 16:34).


Pelaksanaan yang dilakukan setiap tahun bukan sekadar rutinitas keagamaan. Hari Pendamaian menjadi saat di mana seluruh bangsa Israel kembali diingatkan akan kondisi rohani mereka di hadapan Allah. Mereka menyadari bahwa tanpa anugerah pendamaian, mereka tidak layak berdiri di hadapan Tuhan yang kudus. Hari itu menjadi momentum untuk mengakui dosa, memperbarui pertobatan, dan kembali hidup dalam persekutuan dengan Allah.

Jika dalam Perjanjian Lama tempat kudus perlu terus disucikan karena dosa umat, maka dalam Perjanjian Baru Allah memanggil umat-Nya untuk terus hidup dalam pertobatan karena mereka kini menjadi bait Roh Kudus. Bagi orang percaya pada masa kini, kita memang tidak lagi merayakan Hari Pendamaian karena Kristus telah mempersembahkan diri-Nya sebagai korban yang sempurna satu kali untuk selama-lamanya (Ibr. 10:10). Namun, prinsip untuk secara teratur memeriksa kehidupan rohani tetap sangat relevan. Di tengah kesibukan, pelayanan, pekerjaan, dan rutinitas sehari-hari, kita mudah merasa bahwa keadaan rohani kita baik-baik saja, padahal hati kita mungkin mulai menjauh dari Tuhan. Karena itu, setiap orang percaya membutuhkan waktu-waktu khusus untuk berhenti sejenak dan mengevaluasi dirinya di hadapan Allah. Bukan untuk mempertanyakan apakah keselamatan kita masih berlaku, melainkan untuk bertanya: Apakah kasih saya kepada Tuhan masih sama seperti dahulu? Apakah saya masih hidup dalam pertobatan? Apakah saya masih peka terhadap suara Tuhan? Ataukah hati saya perlahan menjadi dingin? Yesus sendiri mengajarkan bahwa Allah mencari penyembah yang menyembah dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:23–24). Ketika berbicara kepada perempuan Samaria, Yesus mengatakan bahwa akan tiba saatnya penyembahan tidak lagi ditentukan oleh tempat—baik di Gunung Gerizim maupun di Yerusalem (Yoh. 4:21)—melainkan oleh kondisi hati yang sungguh-sungguh datang kepada Allah. Dengan demikian, yang terutama bukan lagi lokasi kita beribadah, melainkan posisi rohani kita di hadapan Allah.

 

Pertanyaan : Bagaimana saya dapat menyediakan waktu secara teratur untuk datang kepada Tuhan dan memperbarui kehidupan rohani saya? Marilah kita menyediakan waktu secara teratur untuk datang kepada Tuhan, membuka hati, mengakui dosa, memperbarui pertobatan, dan membiarkan Roh Kudus menilai kehidupan kita. Sebab kehidupan rohani yang sehat tidak dibangun hanya melalui ibadah yang rutin, tetapi melalui hati yang terus diperbarui dan hidup dalam persekutuan yang benar dengan Allah. (TH)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Gaung Kekudusan Hidup

Kesaksian Paulus dalam Penjara