Ladang Hati
Ladang Hati
Imamat 19 merupakan bagian dari apa yang
sering disebut sebagai Holiness Code (Kode
Kekudusan), yaitu kumpulan hukum yang Allah berikan kepada bangsa Israel
setelah mereka keluar dari Mesir. Melalui berbagai ketentuan dalam hukum-Nya, Allah juga
menunjukkan perhatian kepada kelompok-kelompok yang rentan, termasuk orang
miskin dan orang asing yang tinggal di tengah-tengah bangsa Israel. Allah memanggil umat-Nya untuk
hidup kudus bukan hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam kehidupan sosial. Pada
ayat 9-10, Allah memerintahkan para pemilik ladang agar tidak menuai habis
hasil panennya dan tidak memungut sisa-sisa yang tertinggal. Sebagian hasil itu
harus dibiarkan bagi orang miskin dan orang asing. Di tengah budaya yang
mendorong seseorang mengumpulkan sebanyak mungkin hasil kerja, Allah justru
mengajarkan bahwa berkat bukan hanya untuk dinikmati sendiri, melainkan juga
menjadi saluran pemeliharaan bagi mereka yang berkekurangan. Kekudusan ternyata
tidak hanya terlihat di bait Allah, tetapi juga di ladang kehidupan
sehari-hari.
Perintah ini memperlihatkan hati Allah yang penuh belas kasih dan keadilan. Tuhan tidak memerintahkan orang miskin untuk meminta-minta, melainkan memberi mereka kesempatan bekerja dengan memungut sisa panen yang ditinggalkan. Di sisi lain, Allah sedang mendidik para pemilik ladang agar tidak dikuasai oleh keserakahan. Mereka diajak menyadari bahwa seluruh hasil panen sesungguhnya berasal dari Tuhan. Meninggalkan sebagian hasil panen adalah bentuk pengakuan bahwa Allah adalah Pemilik sejati atas segala sesuatu. Kedermawanan bukanlah tindakan kehilangan, melainkan ungkapan iman bahwa Tuhan sanggup mencukupkan kebutuhan orang yang mau berbagi. Tuhan tidak pernah memberkati kita agar memiliki lebih banyak daripada orang lain, tetapi agar melalui hidup kita, lebih banyak orang dapat merasakan kasih-Nya."
Pertanyaan
: Saudara
bagaimana kita hari ini? Mungkin kita tidak memiliki ladang gandum atau kebun
anggur, tetapi setiap orang memiliki "ladang" yang Tuhan percayakan:
waktu, kemampuan, penghasilan, perhatian, bahkan kesempatan untuk menolong
sesama. Janganlah kita menggenggam semua berkat hanya untuk diri sendiri.
Sisakan ruang dalam hidup kita untuk menjadi jawaban doa bagi orang lain.
Gereja yang kudus bukan hanya dipenuhi orang yang rajin beribadah, tetapi juga
dipenuhi orang yang murah hati. Ketika kita belajar berbagi, kita sedang
mencerminkan karakter Allah yang lebih dahulu bermurah hati kepada kita melalui
Kristus. (SH)

Komentar
Posting Komentar