Kudusnya Pernikahan

Senin, 20 Juli 2026
Kudusnya Pernikahan

Bacaan Alkitab : Imamat 18:6–10



Ayat-ayat ini berisi larangan untuk melakukan hubungan seksual dengan ibu atau istri ayah, saudara perempuan, dan cucu perempuan. Namun, maksud Allah bukan sekadar memberikan daftar larangan. Melalui perintah-perintah ini, Allah sedang membentuk umat-Nya agar hidup berbeda dari bangsa-bangsa di sekeliling mereka yang tidak memiliki pemahaman yang benar tentang kekudusan hubungan dalam keluarga. Pada masa itu, praktik hubungan seksual antarkerabat dekat dikenal di Mesir. Keluarga kerajaan dan kaum bangsawan melakukannya untuk mempertahankan eksklusivitas garis keturunan mereka yang diyakini berasal dari darah para dewa. Mereka berusaha menjaga agar garis keturunan mereka tidak bercampur dengan orang di luar kelompoknya.

Allah dengan tegas menentang praktik seperti itu karena hubungan inses—hubungan seksual antara orang-orang yang memiliki hubungan keluarga dekat—merusak tatanan keluarga yang telah Allah tetapkan. Identitas setiap anggota keluarga menjadi kabur. Bagaimana mungkin seorang saudara sekaligus menjadi pasangan hidup? Seorang ibu sekaligus menjadi istri? Seorang kakek sekaligus menjadi suami? Ketika batas-batas yang Allah tetapkan dilanggar, peran dalam keluarga menjadi rusak. Pemimpin keluarga yang seharusnya menjadi pribadi yang dapat dipercaya, memberikan rasa aman, perlindungan, dan kasih, justru menyalahgunakan otoritas yang dimilikinya.

Ungkapan "Akulah TUHAN" menegaskan bahwa dasar moral dalam keluarga bukanlah budaya, kebiasaan, atau keinginan manusia, melainkan otoritas Allah sendiri. Meskipun praktik inses sering tersembunyi dan tidak banyak dibicarakan, kenyataannya penyimpangan dalam relasi keluarga masih terjadi hingga saat ini. Firman Tuhan mengingatkan bahwa kekudusan keluarga harus tetap dijaga. Di dalam Kristus, Allah bukan hanya memulihkan hubungan manusia dengan diri-Nya, tetapi juga memanggil setiap keluarga untuk mencerminkan kasih, kesetiaan, dan kekudusan-Nya. Melalui karya Roh Kudus, orang percaya dimampukan membangun keluarga yang hidup menurut kehendak Allah. Karena itu, pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah: apakah keluarga yang kita bangun benar-benar berdiri di atas otoritas Firman Allah dan ketaatan kepada kehendak-Nya? Ataukah justru dibangun di atas kebiasaan, budaya zaman ini, atau keinginan manusia yang terus menuntut untuk dipuaskan, meskipun bentuk penyimpangannya berbeda?. Marilah kita memeriksa kembali bagaimana kita menjalin dan membangun keluarga kita. Kiranya Tuhan senantiasa menolong, memelihara, dan menguduskan setiap keluarga kita agar menjadi keluarga yang berkenan kepada-Nya. (TM)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Gaung Kekudusan Hidup

Kesiapan dalam Kesucian