Kudusnya Pernikahan
Kudusnya Pernikahan
Bacaan Alkitab
: Imamat 18:6–10
Ayat-ayat ini berisi larangan untuk melakukan hubungan seksual dengan
ibu atau istri ayah, saudara perempuan, dan cucu perempuan. Namun, maksud Allah
bukan sekadar memberikan daftar larangan. Melalui perintah-perintah ini, Allah
sedang membentuk umat-Nya agar hidup berbeda dari bangsa-bangsa di sekeliling
mereka yang tidak memiliki pemahaman yang benar tentang kekudusan hubungan
dalam keluarga. Pada masa itu, praktik hubungan seksual antarkerabat dekat
dikenal di Mesir. Keluarga kerajaan dan kaum bangsawan melakukannya untuk
mempertahankan eksklusivitas garis keturunan mereka yang diyakini berasal dari
darah para dewa. Mereka berusaha menjaga agar garis keturunan mereka tidak
bercampur dengan orang di luar kelompoknya.
Allah dengan tegas menentang praktik seperti itu karena hubungan
inses—hubungan seksual antara orang-orang yang memiliki hubungan keluarga
dekat—merusak tatanan keluarga yang telah Allah tetapkan. Identitas setiap
anggota keluarga menjadi kabur. Bagaimana mungkin seorang saudara sekaligus
menjadi pasangan hidup? Seorang ibu sekaligus menjadi istri? Seorang kakek
sekaligus menjadi suami? Ketika batas-batas yang Allah tetapkan dilanggar,
peran dalam keluarga menjadi rusak. Pemimpin keluarga yang seharusnya menjadi
pribadi yang dapat dipercaya, memberikan rasa aman, perlindungan, dan kasih,
justru menyalahgunakan otoritas yang dimilikinya.
Ungkapan "Akulah TUHAN" menegaskan bahwa dasar moral dalam keluarga bukanlah budaya, kebiasaan, atau keinginan manusia, melainkan otoritas Allah sendiri. Meskipun praktik inses sering tersembunyi dan tidak banyak dibicarakan, kenyataannya penyimpangan dalam relasi keluarga masih terjadi hingga saat ini. Firman Tuhan mengingatkan bahwa kekudusan keluarga harus tetap dijaga. Di dalam Kristus, Allah bukan hanya memulihkan hubungan manusia dengan diri-Nya, tetapi juga memanggil setiap keluarga untuk mencerminkan kasih, kesetiaan, dan kekudusan-Nya. Melalui karya Roh Kudus, orang percaya dimampukan membangun keluarga yang hidup menurut kehendak Allah. Karena itu, pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah: apakah keluarga yang kita bangun benar-benar berdiri di atas otoritas Firman Allah dan ketaatan kepada kehendak-Nya? Ataukah justru dibangun di atas kebiasaan, budaya zaman ini, atau keinginan manusia yang terus menuntut untuk dipuaskan, meskipun bentuk penyimpangannya berbeda?. Marilah kita memeriksa kembali bagaimana kita menjalin dan membangun keluarga kita. Kiranya Tuhan senantiasa menolong, memelihara, dan menguduskan setiap keluarga kita agar menjadi keluarga yang berkenan kepada-Nya. (TM)
Komentar
Posting Komentar