Kekudusan Dimulai dari Rumah
Kekudusan Dimulai dari Rumah
Bacaan Alkitab : Imamat 19:1-4
Imamat 19 merupakan
bagian dari Holiness Code yang berisi berbagai ketetapan Allah agar umat
Israel hidup kudus di tengah bangsa-bangsa yang tidak mengenal-Nya. Bagian ini
diawali dengan perintah yang sangat penting, "Kuduslah kamu, sebab Aku,
TUHAN Allahmu, kudus" (ay. 2). Menariknya, setelah memanggil umat-Nya
untuk hidup kudus, Allah tidak langsung berbicara mengenai korban atau ibadah
di Kemah Suci. Sebaliknya, perintah pertama yang diberikan adalah agar setiap
orang menghormati ibu dan ayahnya, memelihara hari Sabat, dan menjauhkan diri
dari penyembahan berhala (ay. 3–4). Bersama dengan penghormatan kepada orang
tua, Allah juga memerintahkan pemeliharaan Sabat dan penolakan terhadap
penyembahan berhala. Ketiganya menunjukkan bahwa kekudusan mencakup relasi
dengan keluarga, ibadah kepada Allah, dan kesetiaan kepada-Nya. Hal ini
menunjukkan bahwa kekudusan bukan hanya tampak dalam ibadah, tetapi juga
diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, dimulai dari relasi yang paling dekat,
yaitu keluarga.
Saudara, Imamat 19:1–4
mengajarkan bahwa kehidupan yang kudus dimulai dengan ketaatan kepada Allah
melalui penghormatan terhadap otoritas yang telah Ia tetapkan. Perintah untuk
menghormati orang tua ditempatkan sebelum berbagai ketetapan lainnya untuk menunjukkan
bahwa kekudusan harus terlebih dahulu terlihat dalam kehidupan keluarga.
Beberapa penafsir seperti Gordon J. Wenham, Jacob Milgrom, dan Keil &
Delitzsch sepakat bahwa kekudusan dalam bagian ini tidak terbatas pada ibadah,
tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan, termasuk relasi dalam keluarga. Oleh
karena itu, menghormati orang tua bukan sekadar kewajiban sosial atau budaya,
melainkan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah yang menetapkan otoritas
dalam keluarga. Ketika seseorang belajar menghormati orang tua, ia sedang
menunjukkan sikap hormat kepada Allah yang memberikan perintah tersebut.
Bagi orang percaya masa
kini, bagian ini mengingatkan bahwa kekudusan tidak dimulai dari hal-hal yang
terlihat rohani, tetapi dari ketaatan kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah budaya yang semakin menjunjung tinggi kebebasan pribadi, otoritas
sering kali dipandang sebagai sesuatu yang membatasi, bahkan nasihat orang tua
dianggap tidak lagi relevan. Namun, firman Tuhan mengajarkan bahwa menghormati
orang tua merupakan wujud penghormatan kepada Allah yang menetapkan otoritas
tersebut. Ketika kita belajar menghormati, mendengarkan, dan memperlakukan
orang tua dengan kasih, kita sedang membangun kehidupan yang mencerminkan
kekudusan Allah. Sebab, kekudusan bukan hanya terlihat di tempat ibadah, tetapi
pertama-tama harus nyata di dalam rumah. Melalui Kristus kita diangkat menjadi
anak-anak Allah. Karena itu, kehidupan keluarga orang percaya dipanggil
mencerminkan relasi kasih dan ketaatan yang berasal dari identitas baru sebagai
keluarga Allah.
Saudara, apakah sikap kita kepada orang tua dan otoritas yang Allah tetapkan mencerminkan ketaatan kita kepada Tuhan? Marilah kita membangun kehidupan yang kudus dengan terlebih dahulu menghormati Allah melalui ketaatan dalam keluarga. (RT)

Komentar
Posting Komentar