Kasih Allah di Balik Setiap Ketetapan-Nya
Kasih Allah di Balik Setiap Ketetapan-Nya
Kematian Nadab dan Abihu menjadi latar belakang yang
penting dalam pembukaan Imamat 16. Mereka mati karena datang ke hadapan TUHAN
dengan cara yang tidak benar (bdk. Im. 10:1-2). Peristiwa ini tentu
meninggalkan duka sekaligus ketakutan, terutama bagi Harun. Namun, Allah tidak
membiarkan Harun hidup dalam kebingungan atau kekhawatiran. Setelah
mengingatkan kembali tragedi tersebut. Allah kemudian menetapkan tata cara Hari
Pendamaian, termasuk kapan dan bagaimana Imam Besar boleh memasuki Ruang
Mahakudus. Ketetapan ini diberikan agar Harun dapat datang ke hadirat Allah
dengan cara yang benar dan tidak mengalami kematian seperti Nadab dan Abihu.
Di balik aturan yang tampak begitu rinci, tersimpan
kasih Allah yang ingin menjaga umat-Nya ketika mereka datang mendekat
kepada-Nya. Tetapi ketetapan-ketetapan ini lahir bukan hanya karena kasih
Allah, tetapi juga karena kekudusan-Nya. Kasih dan kekudusan Allah berjalan
bersama; Allah mengasihi umat-Nya, tetapi Ia juga tetap kudus sehingga manusia
harus datang kepada-Nya sesuai dengan kehendak-Nya.
Melalui bagian ini, kita melihat bahwa
perintah-perintah Allah bukanlah sekadar kumpulan aturan yang membatasi
kebebasan manusia. Justru sebaliknya, ketetapan Allah merupakan ungkapan kasih
dan pemeliharaan-Nya. Allah yang kudus mengetahui bahwa manusia yang berdosa
tidak dapat mendekati-Nya dengan sembarangan. Oleh sebab itu, Ia sendiri
menyediakan jalan yang benar agar manusia dapat tetap menikmati hadirat-Nya
tanpa binasa. Dengan kata lain, batas-batas yang Allah tetapkan bukan
dimaksudkan untuk menjauhkan manusia dari diri-Nya, tetapi untuk menjaga
manusia tetap hidup di dalam persekutuan dengan-Nya.
Prinsip yang sama juga berlaku bagi kehidupan orang
percaya pada masa kini. Tidak jarang kita memandang firman Tuhan sebagai
serangkaian larangan yang mengurangi kebebasan atau kesenangan hidup. Padahal,
setiap ketetapan-Nya merupakan pagar kasih karunia yang melindungi kita dari
kehancuran akibat dosa. Seperti pagar yang dipasang di tepi jurang bukan untuk
menghalangi orang berjalan, melainkan agar mereka tidak terjatuh, demikian pula
firman Tuhan menjaga langkah hidup kita. Karena itu, marilah kita belajar
melihat setiap perintah Tuhan bukan sebagai beban, tetapi sebagai bukti bahwa
Ia mengasihi dan ingin memelihara kita agar tetap hidup dekat dengan-Nya.
Saudara, apakah kita masih memandang perintah
Tuhan sebagai bentuk kasih dan perlindungan-Nya, atau justru sebagai beban yang
membatasi hidup kita? Ingatlah, setiap ketetapan yang Allah berikan bukan untuk
menjauhkan kita dari-Nya, melainkan untuk menjaga kita tetap hidup dalam
persekutuan dengan-Nya. (RT)

Komentar
Posting Komentar