Jangan Terburu-buru Menikmati Berkat

Jumat, 31 Juli 2026
Jangan Terburu-buru Menikmati Berkat 
Bacaan Alkitab : Imamat 19:23–25

Ketika membaca bagian ini, kita mungkin bertanya, mengapa Tuhan meminta bangsa Israel menunggu begitu lama untuk menikmati hasil dari pohon yang mereka tanam? Bukankah mereka telah bekerja keras membuka tanah, menanam, menyiram, dan merawatnya? Secara logika manusia, mereka berhak menikmati buahnya begitu pohon itu mulai berbuah. Namun Tuhan justru memerintahkan agar selama tiga tahun buah itu tidak dimakan. Pada tahun keempat seluruh hasilnya dipersembahkan sebagai pujian kepada Tuhan, dan baru pada tahun kelima mereka boleh menikmatinya. Perintah ini bukan sekadar aturan pertanian, melainkan tetapi juga mengajarkan Israel untuk mengakui bahwa hasil tanah yang mereka nikmati berasal dari Allah. Melalui perintah ini, Israel diajar untuk mengakui Allah sebagai sumber dari hasil tanah yang mereka nikmati. Pohon yang bertumbuh adalah anugerah-Nya. Buah yang dihasilkan pun berasal dari pemeliharaan-Nya. Dengan demikian, mereka bukanlah pemilik, melainkan pengelola yang dipercayakan untuk mengusahakan apa yang menjadi milik Tuhan. Mereka hidup dari kemurahan Allah, bukan dari hak mereka sendiri.

Melalui penantian itu, Tuhan juga membentuk hati umat-Nya. Tidak semua yang kita terima dari Tuhan  harus dipandang semata-mata sebagai sesuatu untuk kita nikmati. Berkat Tuhan seharusnya membawa kita untuk terlebih dahulu mengingat dan menghormati Sang Pemberi. Ketaatan kepada Tuhan terkadang menuntut kita untuk tidak menjadikan kenikmatan pribadi sebagai yang utama.  Sebab seseorang yang belum siap secara rohani bisa saja menyalahgunakan berkat yang diterimanya. Prinsip ini tetap relevan bagi kehidupan kita sekarang. Kita sering ingin segala sesuatu terjadi dengan cepat: promosi yang segera datang, usaha yang langsung berhasil, pelayanan yang segera berkembang, atau hubungan yang segera mencapai tujuan. Ketika kesempatan terbuka, kita tergoda untuk segera mengambilnya tanpa terlebih dahulu mencari kehendak Tuhan. Padahal, tidak semua kesempatan adalah waktu Tuhan. Ada kalanya ketaatan kepada Tuhan menuntut kita untuk menahan keinginan menikmati sesuatu dan belajar mendahulukan Dia.  Menunggu memang tidak mudah. Namun justru di dalam masa penantian itulah iman diuji. Kesabaran menunjukkan bahwa kita lebih percaya kepada Allah daripada kepada hasil yang ingin kita capai. Orang yang mengenal Tuhan tidak akan panik ketika harus menunggu, karena ia percaya bahwa Sang Pemilik mengetahui waktu terbaik untuk memberikan apa yang dibutuhkan oleh pengelola-Nya.

Saudara, apakah saya sudah belajar menunggu waktu Tuhan dengan sabar? Biarlah kiranya kita belajar menghormati Allah sebagai Pemilik atas seluruh hidup kita. Jangan terburu-buru mengejar atau menikmati berkat sebelum waktunya. Marilah kita setia mengelola setiap kepercayaan yang Tuhan berikan sambil menantikan waktu-Nya dengan penuh iman. Sebab berkat yang diterima pada waktu Tuhan bukan hanya membawa sukacita, tetapi juga menghadirkan damai sejahtera, karena kita tahu semuanya berasal dari tangan-Nya yang sempurna. (FS)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Gaung Kekudusan Hidup

Garam dan Terang Dunia