Jangan Terburu-buru Menikmati Berkat
Jangan Terburu-buru Menikmati Berkat
Ketika membaca bagian ini, kita mungkin bertanya, mengapa
Tuhan meminta bangsa Israel menunggu begitu lama untuk menikmati hasil dari
pohon yang mereka tanam? Bukankah mereka telah bekerja keras membuka tanah,
menanam, menyiram, dan merawatnya? Secara logika manusia, mereka berhak
menikmati buahnya begitu pohon itu mulai berbuah. Namun Tuhan justru
memerintahkan agar selama tiga tahun buah itu tidak dimakan. Pada tahun keempat
seluruh hasilnya dipersembahkan sebagai pujian kepada Tuhan, dan baru pada
tahun kelima mereka boleh menikmatinya. Perintah ini bukan sekadar aturan
pertanian, melainkan tetapi juga mengajarkan Israel untuk mengakui bahwa hasil
tanah yang mereka nikmati berasal dari Allah. Melalui perintah ini, Israel diajar untuk mengakui Allah
sebagai sumber dari hasil tanah yang mereka nikmati. Pohon yang bertumbuh
adalah anugerah-Nya. Buah yang dihasilkan pun berasal dari pemeliharaan-Nya.
Dengan demikian, mereka bukanlah pemilik, melainkan pengelola yang dipercayakan
untuk mengusahakan apa yang menjadi milik Tuhan. Mereka hidup dari kemurahan
Allah, bukan dari hak mereka sendiri.
Melalui penantian itu, Tuhan juga membentuk hati
umat-Nya. Tidak semua yang kita terima dari Tuhan harus dipandang semata-mata sebagai sesuatu
untuk kita nikmati. Berkat Tuhan seharusnya membawa kita untuk terlebih dahulu
mengingat dan menghormati Sang Pemberi. Ketaatan kepada Tuhan terkadang
menuntut kita untuk tidak menjadikan kenikmatan pribadi sebagai yang
utama. Sebab seseorang yang belum siap
secara rohani bisa saja menyalahgunakan berkat yang diterimanya. Prinsip ini
tetap relevan bagi kehidupan kita sekarang. Kita sering ingin segala sesuatu
terjadi dengan cepat: promosi yang segera datang, usaha yang langsung berhasil,
pelayanan yang segera berkembang, atau hubungan yang segera mencapai tujuan.
Ketika kesempatan terbuka, kita tergoda untuk segera mengambilnya tanpa
terlebih dahulu mencari kehendak Tuhan. Padahal, tidak semua kesempatan adalah waktu
Tuhan. Ada kalanya ketaatan kepada Tuhan menuntut kita untuk menahan keinginan
menikmati sesuatu dan belajar mendahulukan Dia.
Menunggu memang tidak mudah. Namun justru di dalam masa penantian itulah
iman diuji. Kesabaran menunjukkan bahwa kita lebih percaya kepada Allah
daripada kepada hasil yang ingin kita capai. Orang yang mengenal Tuhan tidak
akan panik ketika harus menunggu, karena ia percaya bahwa Sang Pemilik
mengetahui waktu terbaik untuk memberikan apa yang dibutuhkan oleh
pengelola-Nya.
Saudara,
apakah saya sudah belajar menunggu waktu Tuhan
dengan sabar? Biarlah
kiranya kita belajar menghormati Allah sebagai
Pemilik atas seluruh hidup kita. Jangan terburu-buru mengejar atau menikmati
berkat sebelum waktunya. Marilah kita setia mengelola setiap kepercayaan yang
Tuhan berikan sambil menantikan waktu-Nya dengan penuh iman. Sebab berkat yang
diterima pada waktu Tuhan bukan hanya membawa sukacita, tetapi juga
menghadirkan damai sejahtera, karena kita tahu semuanya berasal dari tangan-Nya
yang sempurna. (FS)

Komentar
Posting Komentar