Jangan Menahan Berkat

Selasa, 28 Juli 2026
Jangan Menahan Berkat 
Bacaan Alkitab : Imamat 19:11–14

Imamat 19:11–14 menunjukkan bahwa kekudusan tidak hanya terlihat dalam ibadah, tetapi juga dalam cara kita memperlakukan sesama. Di bagian ini Allah melarang umat-Nya mencuri, berdusta, menipu, memeras, mengutuki orang tuli, dan meletakkan batu sandungan di depan orang buta. Di tengah rangkaian perintah itu, Tuhan berkata, "Upah orang harian janganlah tinggal padamu semalam suntuk sampai pagi" (ay. 13). Perintah ini menunjukkan  bahwa kekudusan menuntut umat Allah berlaku adil terutama terhadap mereka yang berada dalam posisi rentan.  Pada zaman Israel, seorang buruh harian bergantung pada upah yang diterimanya setiap hari untuk menghidupi keluarganya. Menunda pembayaran bukan sekadar persoalan administrasi, melainkan dapat membuat keluarganya tidak memiliki makanan pada hari itu. Karena itu, menahan hak orang lain adalah bentuk penyalahgunaan kuasa. Seseorang yang memiliki posisi, kekayaan, atau wewenang dapat dengan mudah bertindak sewenang-wenang, Allah menghendaki umat-Nya tidak menggunakan posisi atau kekuatan yang mereka miliki untuk mengambil keuntungan dari kelemahan sesama.

Prinsip ini tetap relevan pada masa kini. Tidak semua bentuk ketidakadilan berkaitan dengan uang.  Kita dapat menahan hak orang lain dengan menunda pembayaran utang, tidak memenuhi kewajiban yang telah disepakati, tidak memberikan penghargaan atas kerja keras seseorang, mengingkari janji, bahkan enggan mengucapkan terima kasih kepada mereka yang telah menolong kita. Ketika sesuatu yang menjadi hak seseorang sengaja kita tahan, kita bukan sekadar menunda sebuah kewajiban, tetapi dapat menempatkan orang tersebut dalam kesulitan. Karena itu, Allah memanggil umat-Nya untuk menghormati hak sesama dan tidak menggunakan kekuatan yang mereka miliki untuk merugikan orang lain. Karena itu, Allah memanggil setiap orang percaya untuk mengelola setiap berkat yang dipercayakan-Nya dengan benar. Baik harta, jabatan, waktu, maupun pengaruh bukanlah milik kita sepenuhnya, melainkan titipan Tuhan yang harus digunakan untuk memberkati sesama. Orang yang hidup dalam kekudusan tidak memakai wewenangnya untuk menekan orang lain, tetapi menjadi saluran kasih Allah dengan memberikan setiap hak pada waktunya. Sebagaimana Tuhan tidak pernah menahan kasih karunia-Nya kepada kita, demikian pula kita dipanggil untuk tidak menahan kebaikan yang menjadi hak sesama.

Saudara, apakah ada hak, penghargaan, atau kebaikan yang seharusnya saya berikan kepada seseorang, tetapi selama ini saya sengaja menundanya? Biarlah kiranya Tuhan menolong kita memiliki hati yang takut akan Dia dalam setiap aspek kehidupan. Kiranya kita tidak menjadi orang yang menyalahgunakan kuasa, jabatan, harta, atau kesempatan yang Tuhan percayakan kepada kita untuk kepentingan diri sendiri. Sebaliknya, mampukanlah kita menjadi pribadi yang mengelola setiap berkat dengan penuh tanggung jawab, memberikan apa yang menjadi hak sesama tanpa menunda-nundanya, serta peka terhadap kebutuhan orang-orang di sekitar kita. Biarlah hidup kita dikenal bukan karena sikap yang sewenang-wenang, tetapi karena keadilan, kemurahan hati, dan kasih yang nyata. Sebab melalui tindakan-tindakan kecil yang dilakukan dengan setia, nama Tuhan dimuliakan dan orang lain dapat merasakan bahwa Allah kita adalah Allah yang adil, penuh kasih, dan tidak pernah menahan kebaikan bagi umat-Nya. (FS)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Gaung Kekudusan Hidup

Kesiapan dalam Kesucian