Jangan Memperlakukan yang Kudus Menjadi Biasa

Sabtu, 25 Juli 2026
Jangan Memperlakukan yang Kudus Menjadi Biasa
Bacaan Alkitab : Imamat 19: 5-8

        Dalam Imamat 19:5–8, Tuhan memberikan ketetapan mengenai korban keselamatan (peace offering). Korban ini harus dimakan pada hari persembahan atau paling lambat pada hari berikutnya. Jika masih dimakan pada hari ketiga, korban itu tidak lagi diterima dan orang yang melakukannya harus menanggung kesalahannya. Tuhan menjelaskan alasannya dengan sangat tegas, "Karena ia telah menajiskan apa yang kudus bagi TUHAN" (ay. 8). Dengan demikian, persoalan utamanya bukan terletak pada daging yang dimakan pada hari ketiga, melainkan pada sikap hati yang meremehkan kekudusan Tuhan. Apa yang telah Allah tetapkan sebagai kudus diperlakukan seperti sesuatu yang biasa sehingga kehilangan penghormatan yang seharusnya diberikan kepada-Nya. Allah menetapkan batas waktu bukan karena daging menjadi najis secara biologis, tetapi karena Ia sendiri yang menentukan bagaimana sesuatu yang kudus harus diperlakukan. Melanggar ketetapan itu berarti menempatkan kehendak manusia di atas kehendak Allah.

        Ketetapan ini mengajarkan bahwa Allah bukan hanya memperhatikan persembahan yang dibawa umat-Nya, tetapi juga sikap hati ketika mereka beribadah kepada-Nya.. Korban keselamatan adalah korban yang melambangkan persekutuan antara Allah dan umat-Nya. Sebagian dipersembahkan kepada Tuhan, sebagian menjadi bagian imam, dan sebagian lagi dimakan oleh orang yang mempersembahkannya sebagai tanda menikmati damai dan persekutuan dengan Allah. Korban keselamatan adalah bagian dari ibadah dan persekutuan dengan Tuhan. Karena itu, korban tersebut harus diperlakukan sesuai dengan ketetapan Allah, bukan menurut keinginan manusia. Mengabaikan ketetapan itu berarti mengabaikan kekudusan Allah sendiri. Tuhan menghendaki umat-Nya bukan hanya melakukan ibadah, tetapi juga menghormati Dia melalui ketaatan kepada firman-Nya. Prinsip yang sama berlaku bagi kehidupan orang percaya pada masa kini. Memang kita tidak lagi mempersembahkan korban binatang, tetapi masih ada banyak hal yang telah Allah kuduskan. Firman Tuhan adalah firman yang hidup dan berotoritas, bukan sekadar bacaan harian. Doa adalah kesempatan untuk bersekutu dengan Allah, bukan hanya rutinitas yang diucapkan tanpa kesungguhan. Ibadah adalah perjumpaan dengan Allah yang kudus, bukan sekadar menghadiri sebuah acara. Demikian juga pelayanan adalah sebuah kehormatan untuk mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan, bukan sekadar menjalankan tugas.

        Sering kali tanpa disadari, hal-hal yang kudus itu berubah menjadi rutinitas. Kita membaca Firman tanpa lagi rindu mendengar suara Tuhan. Kita berdoa hanya karena kebiasaan. Kita hadir dalam ibadah, tetapi hati dan pikiran tidak tertuju kepada-Nya. Kita melayani, tetapi kehilangan sukacita dan rasa hormat kepada Tuhan. Ketika hal-hal yang kudus diperlakukan sebagai sesuatu yang biasa, kita sedang berada dalam bahaya yang sama seperti yang diperingatkan dalam Imamat 19:8, yaitu meremehkan apa yang telah Allah kuduskan.

        Saudara, apakah saya masih datang kepada Tuhan dengan hati yang penuh hormat, atau ibadah, doa, dan pelayanan telah menjadi rutinitas yang kehilangan makna? Biarlah kiranya Roh Kudus senantiasa menjaga hati kita agar tidak pernah kehilangan rasa hormat kepada Tuhan. Kiranya Firman tetap kita hargai sebagai suara Allah, doa menjadi perjumpaan yang hidup dengan Bapa, ibadah menjadi ungkapan penyembahan yang tulus, dan pelayanan menjadi respons kasih kepada Kristus. Dengan demikian, kita tidak hanya aktif dalam kegiatan rohani, tetapi juga memiliki hati yang terus menghormati Allah dan memperlakukan setiap hal yang telah Ia kuduskan dengan penuh hormat dan ketaatan. (FS)

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Gaung Kekudusan Hidup

Kesiapan dalam Kesucian