Jangan Kembali, Jangan Menyerupai
Jangan Kembali, Jangan Menyerupai
Imamat 18:1–5 menjadi pengantar penting bagi berbagai
larangan yang Allah sampaikan sesudahnya. Israel telah dibebaskan dari Mesir,
tempat mereka hidup sebagai budak dan mengenal pola kehidupan yang tidak sesuai
dengan kehendak Allah. Namun, perjalanan mereka tidak berhenti di padang gurun.
Mereka akan memasuki tanah Kanaan, sebuah lingkungan baru yang juga memiliki
kebiasaan, nilai, dan praktik yang dapat menyeret mereka menjauh dari
kekudusan. Karena itu, Allah memberi peringatan yang jelas: mereka tidak boleh
hidup menurut kebiasaan Mesir yang telah ditinggalkan, dan tidak boleh
mengikuti kebiasaan Kanaan yang akan mereka masuki. Di antara masa lalu dan
masa depan itu, Allah kembali menegaskan identitas mereka: “Akulah TUHAN,
Allahmu.”
Pesan utama teks ini adalah bahwa umat Allah tidak boleh
menjadikan masa lalu maupun lingkungan sekitar sebagai ukuran tertinggi bagi
hidup mereka. Mesir dan Kanaan bukan hanya nama tempat, tetapi gambaran dua
pengaruh yang dapat membentuk hati manusia: pola hidup lama yang mudah
dirindukan kembali dan tekanan budaya baru yang mudah ditiru. Allah tidak
memanggil Israel sekadar untuk berbeda demi keunikan, melainkan agar mereka
mencerminkan kekudusan-Nya. Ia memanggil mereka untuk hidup menurut peraturan
dan ketetapan-Nya, sebab kehendak-Nya adalah dasar kehidupan umat-Nya. Ketika
Allah berkata, “Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya,” Ia menunjukkan
bahwa perintah-Nya bukan beban yang merampas kebebasan, melainkan jalan yang
memelihara, mengarahkan, dan membawa umat kepada kehidupan yang benar.
Hari ini, orang percaya juga hidup di antara “Mesir” dan
“Kanaan.” Ada pola hidup lama yang mungkin masih menggoda kita untuk kembali:
cara berpikir, kebiasaan, dosa, atau nilai yang dahulu menguasai kita. Di sisi
lain, ada lingkungan sekitar yang terus menawarkan standar hidup yang berbeda
dari firman Tuhan. Kita dapat dengan mudah membiarkan arus budaya, penerimaan
orang lain, ambisi, atau nilai dunia menentukan pilihan kita. Namun, Imamat 18
mengingatkan bahwa identitas kita sebagai umat Allah harus lebih kuat daripada
masa lalu dan tekanan budaya di sekitar. Kita tidak dipanggil untuk kembali
kepada hidup lama, juga tidak dipanggil untuk meniru dunia. Kita dipanggil
untuk hidup menurut firman Tuhan, sebab di dalam jalan-Nya terdapat kehidupan.
Pertanyaan Refleksi: Apakah saya masih membiarkan pola hidup lama atau nilai-nilai di sekitar saya menentukan cara saya hidup, ataukah firman Tuhan sungguh menjadi ukuran utama dalam setiap pilihan saya? Jalan Tuhan mungkin tidak selalu sama dengan jalan dunia, tetapi hanya jalan-Nya yang membawa kita kepada kehidupan. (RT)

Komentar
Posting Komentar