Hidup Menurut Standar Allah
Hidup Menurut Standar Allah
Imamat 18 merupakan
bagian dari panggilan Allah agar Israel hidup berbeda dari bangsa Mesir dan
Kanaan (Im. 18:3). Setelah melarang berbagai bentuk hubungan seksual yang
menyimpang dari kehendak-Nya, ayat 19–23 menutup bagian ini dengan beberapa
praktik yang umum dilakukan oleh bangsa-bangsa di sekitar Israel, seperti
perzinahan, mempersembahkan anak kepada Molok, hubungan sesama jenis, dan
hubungan dengan binatang. Larangan -larangan tersebut menunjukkan bahwa Allah
menetapkan batas-batas yang melindungi kekudusan hidup umat-Nya. Setiap bentuk
penyimpangan, baik dalam penyembahan maupun seksualitas, merupakan penolakan
terhadap tatanan yang telah Allah tetapkan. Melalui bagian ini, Allah
menunjukkan bahwa kehidupan umat perjanjian harus mencerminkan karakter-Nya dan
menghormati tatanan yang telah Ia tetapkan sejak semula.
Secara umum, Imamat
18:19–23 mengajarkan bahwa Allah sebagai Pencipta memiliki otoritas untuk
menetapkan batas-batas bagi kehidupan manusia. Salah satu larangan yang
dinyatakan dengan tegas adalah, "Janganlah engkau tidur dengan laki-laki
secara orang bersetubuh dengan perempuan; karena itu suatu kekejian" (ay.
22). Para penafsir seperti Gordon J. Wenham, Jacob Milgrom, dan Keil &
Delitzsch menjelaskan bahwa larangan ini berakar pada tatanan penciptaan Allah,
di mana relasi seksual dirancang bagi laki-laki dan perempuan dalam ikatan yang
telah ditetapkan-Nya. Dengan demikian, ayat ini bukan sekadar berbicara tentang
budaya atau adat istiadat Israel, tetapi menegaskan bahwa kekudusan juga
mencakup cara manusia menjalani seksualitas sesuai dengan rancangan Sang
Pencipta. Homoseksualitas disebut bersama dosa-dosa lain dalam bagian ini
sebagai contoh tindakan yang menyimpang dari kehendak Allah dan karena itu
tidak mencerminkan kehidupan kudus yang Ia kehendaki bagi umat-Nya.
Bagi orang percaya masa
kini, bagian ini mengingatkan bahwa standar kebenaran tidak berubah sekalipun
budaya terus berubah. Di zaman sekarang, seksualitas sering dipandang sebagai
hak pribadi dan bentuk kebebasan untuk mengekspresikan identitas diri.
Akibatnya, banyak orang menilai bahwa setiap orang bebas menentukan standar
moralnya sendiri. Namun, firman Tuhan mengajarkan bahwa kebebasan sejati
bukanlah hidup tanpa batas, melainkan hidup di dalam rancangan Allah yang baik.
Karena itu, orang percaya dipanggil untuk tetap setia kepada firman Tuhan
sekalipun pandangan tersebut berbeda dengan arus budaya. Di dalam Kristus,
Allah bukan hanya memberikan standar hidup yang kudus, tetapi juga memberikan
Roh Kudus yang memampukan kita hidup menurut kehendak-Nya.
Apakah saya menjadikan
firman Tuhan sebagai standar hidup, atau lebih sering mengikuti nilai-nilai
yang sedang populer di sekitar saya? Marilah kita tetap setia pada rancangan
Allah, karena di dalam kehendak-Nya terdapat kekudusan, kebenaran, dan kehidupan
yang sejati." (RT)

Komentar
Posting Komentar