Hidup di Dalam Batas yang Membebaskan
Hidup di Dalam Batas yang Membebaskan
Sekilas,
Imamat 19:19–22 berisi hukum-hukum yang tampaknya tidak saling berkaitan.
Namun, di balik semua ketentuan itu terdapat satu prinsip besar: Allah yang
kudus menghendaki umat-Nya hidup sesuai dengan tatanan yang telah Ia tetapkan.
Kekudusan bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang menghormati
batas-batas yang Allah tetapkan dalam seluruh aspek kehidupan.
Pada
ayat 19, Allah melarang Israel mengawinkan hewan yang berbeda jenis, menabur
benih campuran, dan memakai pakaian dari dua jenis bahan. Menurut penafsir
seperti C. F. Keil dan Victor P. Hamilton, larangan-larangan ini dapat dipahami
bukan sekadar aturan pertanian atau pakaian, melainkan pengingat bahwa Allah
adalah Pencipta yang menciptakan dunia dengan keteraturan. Dalam Kejadian 1,
Allah memisahkan terang dari gelap, daratan dari lautan, dan menciptakan setiap
makhluk hidup "menurut jenisnya". Keteraturan itu mencerminkan hikmat
dan kedaulatan-Nya. Karena itu, Israel dipanggil untuk menghormati tatanan
Allah dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan pekerjaan di ladang, cara memelihara
ternak, dan pakaian yang dikenakan menjadi pengingat bahwa mereka adalah umat
yang telah dipisahkan bagi Allah. Dengan demikian, kekudusan tidak hanya
diwujudkan di tempat ibadah, tetapi juga dalam seluruh kehidupan. Walaupun umat
Allah dalam Perjanjian Baru tidak berada di bawah ketentuan khusus yang
diberikan kepada Israel ini (bdk. Markus 7:19; Kisah Para Rasul 10), namun
panggilan untuk hidup kudus dan tunduk kepada kehendak Allah tetap
berlaku. Prinsip yang tetap penting bagi kita adalah bahwa umat Allah tidak
menentukan sendiri bagaimana mereka harus hidup, tetapi belajar menata
kehidupan dalam ketaatan kepada kehendak-Nya.
Prinsip
hidup yang tertata di bawah kehendak Allah dapat menolong kita merefleksikan
kehidupan modern. Salah satu tantangan masa kini adalah kecenderungan hidup
tanpa batas yang sehat. Filsuf Byung-Chul Han dalam bukunya berjudul The
Burnout Society menggambarkan manusia modern sebagai masyarakat yang
kehilangan batas. Teknologi membuat kita selalu terhubung, sehingga bekerja,
beristirahat, dan menikmati hiburan seolah tidak lagi memiliki pemisah. Media
sosial bahkan dirancang agar kita terus scroll tanpa henti, sementara
perhatian manusia menjadi komoditas yang diperdagangkan. Sebaliknya, Allah
menciptakan manusia dengan ritme: ada waktu untuk bekerja, beristirahat,
berdiam diri, dan beribadah. Karena itu, menetapkan batas penggunaan gawai,
menyediakan waktu teduh, menghormati hari istirahat, dan menjaga keseimbangan
antara pekerjaan dan keluarga merupakan wujud ketaatan kepada tatanan Allah. Kekudusan
sering kali dimulai dari keberanian berkata, "cukup." Ketika dunia
mendorong kita untuk terus bekerja, terus melihat layar, dan terus mengejar
pengakuan, Allah mengingatkan, "Berhentilah dan ketahuilah bahwa
Akulah Allah" (Mazmur 46:11). Orang percaya dipanggil bukan sekadar hidup
sibuk, melainkan hidup tertata di bawah pemerintahan Allah.
Saudara batas apa
yang selama ini Allah ingin bangun dalam hidup saya, tetapi justru saya anggap
sebagai penghalang kebebasan? Mari berdoa dan mintalah Roh Kudus agar
senantiasa mengingatkan kita untuk mengevaluasi diri mengenai perilaku,
perkataan, keputusan-keputusan agar senantiasa ada dalam batasan dan tatanan
yang telah Ia tetapkan bagi umat-Nya. (TH)
Komentar
Posting Komentar