Hati yang Setia Kepada Allah

Kamis, 16 Juli 2026
Hati yang Setia Kepada Allah
Bacaan Alkitab : Imamat 17:6-9



                Dalam Imamat 17:6–9 Allah memerintahkan agar setiap korban dipersembahkan hanya di pintu Kemah Pertemuan melalui imam. Mereka yang mengabaikan ketetapan ini akan menerima hukuman yang berat. Bahkan pada ayat 7 Allah melarang umat Israel mempersembahkan korban kepada "siluman-siluman kambing" (se'irim). Mengapa Allah memberikan larangan yang begitu tegas? Sebab persoalannya bukan sekadar tempat mempersembahkan korban, melainkan kepada siapa hati umat benar-benar setia. Gordon J. Wenham -Teolog PL- menjelaskan bahwa istilah se'irim menunjuk pada makhluk yang dalam kepercayaan masyarakat Timur Dekat Kuno dikaitkan dengan padang gurun. Para ahli Perjanjian Lama memahami bahwa bangsa-bangsa di sekitar Israel mengaitkan se'irim dengan makhluk padang gurun yang dipercaya memiliki kuasa tertentu. Sehingga makhluk tersebut yang harus dihormati agar mereka memperoleh perlindungan, kesuburan, atau keselamatan. Kemungkinan besar sebagian orang Israel masih membawa pola pikir yang mereka kenal selama tinggal di Mesir. Ketika memasuki suatu wilayah, mereka merasa perlu menghormati "penguasa" wilayah tersebut agar hidup mereka tetap aman. Latar belakang inilah yang menjelaskan ketegasan Allah. Melalui ketetapan ini Allah sedang mengajar umat-Nya bahwa hanya Dialah satu-satunya Pribadi yang layak menerima penyembahan dan kepercayaan penuh. Tidak ada ilah padang gurun, ilah gunung, ataupun ilah lembah yang dapat menandingi kuasa-Nya. TUHAN bukan Allah yang dibatasi oleh wilayah geografis sebagaimana dipahami bangsa-bangsa di sekeliling Israel. Dialah Pencipta langit dan bumi yang memerintah atas seluruh ciptaan. Ke mana pun umat pergi, mereka tetap berada di bawah pemerintahan Allah yang sama.

            Renungan ini membawa kita melihat bahwa persoalan terbesar bukanlah penyembahan kepada se'irim, melainkan hati yang mudah mendua. Hingga hari ini, mungkin kita tidak lagi mempersembahkan korban kepada roh-roh padang gurun, tetapi kita dapat memiliki pola hati yang sama. Ketika menghadapi ketidakpastian, kepada siapa kita mencari rasa aman? Apakah kita sungguh percaya kepada Allah, atau justru lebih mengandalkan kekuatan diri, kekayaan, jabatan, relasi, ramalan, jimat, atau berbagai cara lain yang dianggap dapat memberikan perlindungan? Semua itu dapat menjadi "jaminan cadangan" yang perlahan-lahan menggantikan posisi Allah di dalam hati kita. Alkitab memang mengakui adanya realitas rohani, tetapi Imamat 17 tidak mengajak kita sibuk memikirkan atau bahkan takut kepada kuasa-kuasa tersebut. Fokus firman Tuhan adalah mengarahkan umat kepada kedaulatan Allah. Allah tidak sedang bersaing dengan kuasa-kuasa lain, sebab tidak ada kuasa yang sebanding dengan-Nya. Ia hanya menuntut kesetiaan penuh dari umat perjanjian-Nya.  Kesetiaan itu terlihat ketika umat tidak lagi membagi kepercayaan mereka kepada siapa pun selain Allah.

Pertanyaan : Adakah "jaminan cadangan" yang tanpa saya sadari telah menggantikan kepercayaan saya kepada Allah? Allah memanggil umat-Nya untuk memiliki hati yang utuh. Ia tidak menghendaki penyembahan yang terbagi, melainkan kesetiaan yang lahir dari keyakinan bahwa hanya Dialah Tuhan atas seluruh bumi, Tuhan atas setiap tempat, setiap keadaan, dan setiap musim kehidupan. Kesetiaan kepada Allah bukan hanya berarti mengakui bahwa hanya ada satu Allah, tetapi juga mempercayakan seluruh hidup hanya kepada-Nya. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Gaung Kekudusan Hidup

Kesiapan dalam Kesucian