Dosa yang Ditoleransi akan Menjadi Budaya
Dosa yang Ditoleransi akan Menjadi Budaya
Bacaan Alkitab : Imamat 18:24-30
Imamat 18:24–30 menjadi penutup dari berbagai larangan
yang Tuhan berikan kepada bangsa Israel. Tuhan memperingatkan mereka agar tidak
meniru kehidupan bangsa-bangsa yang mendiami tanah Kanaan. Bangsa Kanaan telah
melakukan berbagai kekejian, mulai dari penyembahan berhala, percabulan, hingga
praktik-praktik yang merusak tatanan hidup yang Allah tetapkan. Karena itulah
negeri itu menjadi najis dan akhirnya Allah menghukum mereka. Hukuman tersebut
bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan setelah dosa terus dilakukan dan
dibiarkan selama bertahun-tahun.
Bagian ini mengajarkan bahwa dosa yang ditoleransi akan menjadi budaya. Tidak ada budaya yang terbentuk dalam
satu hari. Budaya lahir dari kebiasaan yang dilakukan berulang kali hingga
dianggap sebagai sesuatu yang normal. Demikian pula dengan dosa. Kompromi kecil
yang terus dipelihara akan membentuk kebiasaan, kebiasaan akan membentuk
karakter, dan akhirnya karakter akan menciptakan budaya. Ketika dosa telah
menjadi budaya, hati manusia kehilangan kepekaan terhadap suara Tuhan. Inilah
yang terjadi pada bangsa Kanaan. Mereka tidak lagi melihat perbuatan mereka
sebagai pelanggaran terhadap Allah. Dosa telah menjadi bagian dari cara hidup mereka. Akibatnya, Tuhan berkata
bahwa negeri itu menjadi najis dan "memuntahkan" penduduknya (ay. 25,
28). Gambaran ini menunjukkan bahwa dosa membawa akibat yang sangat serius.
Tanah yang seharusnya menjadi tempat berkat tidak lagi dapat
"bersahabat" dengan mereka. Mereka kehilangan hak untuk menikmati dan
mengelola negeri yang Tuhan berikan karena kenajisan telah memenuhi kehidupan
mereka. Peringatan ini tetap relevan bagi orang percaya pada masa kini. Banyak
hal yang dahulu dipandang sebagai dosa kini mulai dinormalisasi oleh
masyarakat. Kebohongan dianggap hal biasa, ketidakmurnian dianggap kebebasan,
dan penyimpangan moral dipandang sebagai pilihan hidup yang harus diterima.
Namun firman Tuhan mengingatkan bahwa sesuatu yang dinormalisasi belum
tentu benar.
Kebenaran tidak ditentukan oleh suara mayoritas atau budaya yang berkembang,
melainkan oleh firman Allah yang tidak pernah berubah. Karena itu, Tuhan
memanggil umat-Nya untuk hidup berbeda. Israel tidak boleh mengikuti kebiasaan
bangsa Kanaan, tetapi harus hidup kudus sebagai umat pilihan Allah (ay. 29–30).
Demikian pula kita dipanggil untuk menjaga hati dari setiap kompromi sekecil
apa pun. Di dalam Kristus, kita telah dikuduskan dan dipanggil menjadi umat
yang kudus (1Ptr. 1:15–16). Roh Kudus memampukan kita hidup berbeda dari dunia,
bukan dengan kekuatan sendiri, tetapi melalui hidup baru yang kita terima di
dalam Kristus. Karena itu, Jangan biarkan dosa bertumbuh menjadi kebiasaan,
lalu berubah menjadi budaya dalam hidup, keluarga, atau gereja kita. Hiduplah
dalam ketaatan kepada firman Tuhan, sebab hanya kehidupan yang kudus yang
membawa berkat dan mencerminkan karakter Allah di tengah dunia.
Saudara, apakah ada dosa yang
selama ini saya anggap "biasa" hanya karena sering saya lakukan atau
banyak orang melakukannya? Biarlah kiranya Tuhan menolong kita untuk
tetap peka terhadap setiap dosa dan tidak membiarkan kompromi sekecil apa pun
menguasai hati kita. Kiranya firman Tuhan menjadi standar hidup kita, bukan
budaya dunia, sehingga melalui setiap kebiasaan yang kita bangun, hidup kita
semakin mencerminkan kekudusan Kristus dan menjadi kesaksian yang memuliakan
nama-Nya. (FS)
Komentar
Posting Komentar