Dipulihkan untuk Kembali Bersekutu dengan Allah
Dipulihkan untuk Kembali Bersekutu dengan Allah
Bacaan Alkitab : Imamat 15:25-30
Dalam bagian
ini, Allah memberikan perintah mengenai seorang perempuan yang mengalami
lelehan darah di luar masa haidnya dan berlangsung selama berhari-hari (Im.
15:25-30). Kondisi tersebut menyebabkan perempuan itu berada dalam keadaan
najis secara ritual. Akibatnya, segala sesuatu yang disentuhnya—seperti tempat
tidur atau barang yang didudukinya—juga menjadi najis. Bahkan, orang yang
menyentuh benda-benda tersebut turut menjadi najis dan harus mencuci
pakaiannya, membasuh tubuhnya dengan air, serta menunggu hingga matahari
terbenam untuk kembali tahir. Setelah perempuan itu sembuh dan dinyatakan
tahir, ia harus mempersembahkan dua ekor burung tekukur atau merpati kepada
TUHAN sebagai korban penghapus dosa dan korban bakaran.
Para ahli Perjanjian Lama memahami Imamat 15:25-30 sebagai aturan yang berkaitan dengan pendarahan yang terjadi di luar siklus normal atau berlangsung lebih lama dari seharusnya. Dalam konteks hukum Imamat, istilah "najis" (ṭāmēʾ) tidak menunjuk pada kesalahan moral atau dosa pribadi, melainkan suatu kondisi yang membuat seseorang tidak dapat berpartisipasi dalam ibadah dan kehidupan ritual umat Allah. Meskipun demikian, kondisi fisik yang tidak normal ini tetap mengingatkan umat bahwa dunia yang mereka hidupi telah dirusak oleh dosa. Penyakit, kelemahan tubuh, dan berbagai penderitaan manusia merupakan konsekuensi dari kejatuhan manusia ke dalam dosa. Karena itu, walaupun perempuan tersebut tidak bersalah secara pribadi, ia tetap harus mempersembahkan korban penghapus dosa. Dalam terang keseluruhan Alkitab, kondisi kenajisan ritual ini mengingatkan bahwa kehidupan manusia berada dalam dunia yang telah terdampak dosa dan karena itu membutuhkan pemulihan dari Allah. Oleh sebab itu, korban dipersembahkan agar perempuan yang telah sembuh dapat kembali menikmati persekutuan dengan Allah dan mengambil bagian dalam kehidupan ibadah umat-Nya (ay. 30). Dengan demikian, aturan ini bukanlah bentuk hukuman atau upaya Allah mempersulit orang yang sedang menderita. Sebaliknya, melalui ketetapan ini Allah menyediakan jalan pemulihan, pendamaian, dan penerimaan kembali ke dalam persekutuan dengan-Nya.
Pertanyaan : Apakah ada kecenderungan hati yang menjauh dari Allah akibat
kondisi sakit, kelemahan, penderitaan, kegagalan atau pergumulan hidup dan
membuat kita merasa tidak layak? Firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa
Allah bukanlah Pribadi yang menolak orang yang lemah, melainkan Allah yang
menyediakan jalan pemulihan. Melalui Kristus, kita tidak lagi hidup dalam
keterpisahan dari Allah. Sebaliknya, kita diundang untuk datang kepada-Nya
dengan segala keterbatasan kita dan mengalami kasih karunia yang memulihkan.
(TH)

Komentar
Posting Komentar