Dipulihkan untuk Kembali Bersekutu dengan Allah

Sabtu, 4 Juli 2026
Dipulihkan untuk Kembali Bersekutu dengan Allah
Bacaan Alkitab : Imamat 15:25-30

Dalam bagian ini, Allah memberikan perintah mengenai seorang perempuan yang mengalami lelehan darah di luar masa haidnya dan berlangsung selama berhari-hari (Im. 15:25-30). Kondisi tersebut menyebabkan perempuan itu berada dalam keadaan najis secara ritual. Akibatnya, segala sesuatu yang disentuhnya—seperti tempat tidur atau barang yang didudukinya—juga menjadi najis. Bahkan, orang yang menyentuh benda-benda tersebut turut menjadi najis dan harus mencuci pakaiannya, membasuh tubuhnya dengan air, serta menunggu hingga matahari terbenam untuk kembali tahir. Setelah perempuan itu sembuh dan dinyatakan tahir, ia harus mempersembahkan dua ekor burung tekukur atau merpati kepada TUHAN sebagai korban penghapus dosa dan korban bakaran.

Para ahli Perjanjian Lama memahami Imamat 15:25-30 sebagai aturan yang berkaitan dengan pendarahan yang terjadi di luar siklus normal atau berlangsung lebih lama dari seharusnya. Dalam konteks hukum Imamat, istilah "najis" (āmēʾ) tidak menunjuk pada kesalahan moral atau dosa pribadi, melainkan suatu kondisi yang membuat seseorang tidak dapat berpartisipasi dalam ibadah dan kehidupan ritual umat Allah. Meskipun demikian, kondisi fisik yang tidak normal ini tetap mengingatkan umat bahwa dunia yang mereka hidupi telah dirusak oleh dosa. Penyakit, kelemahan tubuh, dan berbagai penderitaan manusia merupakan konsekuensi dari kejatuhan manusia ke dalam dosa. Karena itu, walaupun perempuan tersebut tidak bersalah secara pribadi, ia tetap harus mempersembahkan korban penghapus dosa. Dalam terang keseluruhan Alkitab, kondisi kenajisan ritual ini mengingatkan bahwa kehidupan manusia berada dalam dunia yang telah terdampak dosa dan karena itu membutuhkan pemulihan dari Allah. Oleh sebab itu, korban dipersembahkan agar perempuan yang telah sembuh dapat kembali menikmati persekutuan dengan Allah dan mengambil bagian dalam kehidupan ibadah umat-Nya (ay. 30). Dengan demikian, aturan ini bukanlah bentuk hukuman atau upaya Allah mempersulit orang yang sedang menderita. Sebaliknya, melalui ketetapan ini Allah menyediakan jalan pemulihan, pendamaian, dan penerimaan kembali ke dalam persekutuan dengan-Nya.


            Saudara, bagi orang percaya masa kini, Imamat 15 mengingatkan bahwa dampak dosa asal tidak hanya terlihat dalam penyakit atau penderitaan fisik, tetapi juga dalam kecenderungan hati manusia untuk menjauh dari Allah, hidup menurut kehendaknya sendiri, dan mengandalkan kekuatannya sendiri. Kita semua membutuhkan anugerah Allah untuk dipulihkan. Syukur kepada Tuhan, apa yang dahulu digambarkan melalui korban-korban dalam Perjanjian Lama telah digenapi secara sempurna di dalam pengorbanan Yesus Kristus. Karena itu, ketika kita menghadapi kelemahan, sakit penyakit, pergumulan hidup, atau bahkan menyadari kecenderungan hati yang menjauh dari Tuhan, janganlah menjauh dari-Nya. Datanglah kepada Kristus yang telah membuka jalan pendamaian bagi kita. Di dalam Dia, kita memperoleh pengampunan, pemulihan, dan kemampuan untuk terus hidup dalam persekutuan yang erat dengan Allah setiap hari.

Pertanyaan : Apakah ada kecenderungan hati yang menjauh dari Allah akibat

kondisi sakit, kelemahan, penderitaan, kegagalan atau pergumulan hidup dan

membuat kita merasa tidak layak? Firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa

Allah bukanlah Pribadi yang menolak orang yang lemah, melainkan Allah yang

menyediakan jalan pemulihan. Melalui Kristus, kita tidak lagi hidup dalam

keterpisahan dari Allah. Sebaliknya, kita diundang untuk datang kepada-Nya

dengan segala keterbatasan kita dan mengalami kasih karunia yang memulihkan.

 (TH)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Gaung Kekudusan Hidup

Kesiapan dalam Kesucian