Damai Sepenuhnya Dengan Allah
Damai Sepenuhnya Dengan Allah
Bacaan Alkitab : Imamat 16: 23-28
Imamat 16 merupakan pasal yang menjelaskan tentang Hari Pendamaian (Yom Kippur), hari raya yang paling kudus dalam kalender ibadah bangsa Israel yang dirayakan satu kali setiap tahun sebagai sarana pendamaian antara Allah dan umat-Nya. Pada hari itu, imam besar masuk ke Ruang Mahakudus untuk mengadakan pendamaian bagi dirinya sendiri dan seluruh umat Israel. Namun setelah tugas itu selesai, proses ibadah belum berakhir. Dalam ayat 23–24 kita melihat Harun harus kembali ke Kemah Pertemuan, menanggalkan pakaian linen yang dikenakannya, mandi, lalu mengenakan kembali pakaian kebesarannya sebelum mempersembahkan korban bakaran. Semua ini menunjukkan bahwa Allah adalah Allah yang kudus. Bahkan setelah menyelesaikan pelayanan pendamaian, imam besar tetap harus mengikuti seluruh tata cara penyucian yang telah ditetapkan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa kekudusan Allah menuntut ketaatan yang sempurna terhadap setiap ketetapan-Nya. Kekudusan bukan hanya soal apa yang kita lakukan untuk Tuhan, tetapi juga tentang bagaimana hati dan hidup kita dipersiapkan di hadapan-Nya.
Dalam ayat 25–28 dijelaskan bahwa lemak korban dibakar di atas mezbah, sedangkan kulit, daging, dan isi perut korban dibawa keluar perkemahan untuk dibakar habis. Korban itu telah memikul dosa umat, sehingga harus dipisahkan dari tempat kediaman mereka. Bahkan orang yang membakar korban tersebut harus mencuci pakaian dan mandi sebelum kembali ke perkemahan, sebagai tanda bahwa dosa membawa kenajisan yang memerlukan penyucian. Seluruh rangkaian ini menjadi bayangan yang digenapi dengan sempurna di dalam Yesus Kristus. Seperti korban yang dibawa keluar perkemahan, Kristus juga menderita di luar kota Yerusalem untuk menanggung dosa manusia. Bedanya, korban dalam Perjanjian Lama harus dipersembahkan berulang kali setiap tahun, sedangkan pengorbanan Kristus dilakukan satu kali untuk selama-lamanya dan cukup untuk menyelamatkan setiap orang yang percaya kepada-Nya.
Melalui bagian Firman Tuhan ini, kita diingatkan bahwa dosa bukanlah sesuatu yang dapat dianggap ringan, tetapi juga bahwa kasih karunia Allah jauh lebih besar daripada dosa kita. Di dalam Kristus, kita telah menerima pendamaian yang sempurna dan akses untuk datang kepada Allah tanpa rasa takut. Karena itu, marilah kita tidak menyia-nyiakan anugerah tersebut. Datanglah kepada Tuhan dengan hati yang bertobat, tinggalkan dosa yang masih kita pelihara, dan hiduplah dalam kekudusan setiap hari. Jangan hanya bersyukur karena dosa kita telah diampuni, tetapi biarlah hidup kita menjadi persembahan yang menyenangkan hati Tuhan. Sebab Allah yang telah menyucikan kita juga memanggil kita untuk hidup sebagai umat yang kudus, memancarkan kasih dan kemuliaan-Nya di tengah dunia. (SH)

Komentar
Posting Komentar