Bukan Sekedar Diampuni
Bukan Sekedar Diampuni
Hari Pendamaian (Yom Kippur) merupakan
salah satu perayaan terpenting dalam kehidupan Israel. Dalam bacaan hari ini,
Allah memerintahkan Harun untuk mengambil dua ekor kambing jantan dan
menempatkannya di hadapan TUHAN. Setelah membuang undi, satu kambing
dipersembahkan sebagai korban penghapus dosa bagi TUHAN, sedangkan kambing yang
lain tetap hidup untuk Azazel dan kemudian dilepaskan ke padang gurun.
Teolog
Perjanjian Lama, Jacob Milgrom, menjelaskan bahwa kedua kambing tersebut
bukanlah dua korban yang berbeda, melainkan satu korban penghapus dosa
(ḥaṭṭā’t)
yang terdiri dari dua tindakan yang saling melengkapi. Hal ini terlihat karena
kedua kambing dipilih secara bersamaan, harus memiliki kualitas yang sama, dan
ditentukan melalui undi. Bahkan sebelum undi dibuang, Imamat telah menyebut
keduanya sebagai satu korban penghapus dosa. Melalui kedua kambing tersebut
Allah memperlihatkan dua aspek penting pendamaian. Darah korban menyatakan
bahwa dosa harus diadili di hadapan Allah, sedangkan kambing yang dilepaskan
menggambarkan bahwa dosa umat benar-benar disingkirkan dari tengah mereka.
Dengan demikian Allah bukan hanya mengampuni, tetapi juga memulihkan
hubungan-Nya dengan umat. Setelah proses penyucian selesai, imam besar mengaku
segala dosa bangsa Israel di atas kepala kambing yang masih hidup (Im. 16:21).
Kambing itu kemudian dilepaskan ke padang gurun sebagai lambang bahwa dosa
telah disingkirkan dari tengah umat. Dengan demikian, Hari Pendamaian bukan
hanya berbicara tentang pendamaian antara Allah dan umat-Nya, tetapi juga
tentang penghapusan dosa dari komunitas umat Allah.
Saudara
bagi orang percaya, seluruh rangkaian Hari Pendamaian ini menemukan
penggenapannya di dalam karya Yesus Kristus (lih. Ibr. 9–10). Melalui
kematian-Nya di kayu salib, Kristus menjadi korban pendamaian yang sempurna
sehingga setiap orang yang percaya memperoleh pengampunan dosa (Yoh. 3:16).
Namun, karya keselamatan Kristus tidak berhenti pada pengampunan. Allah juga
memanggil setiap orang percaya untuk meninggalkan kehidupan yang dikuasai dosa
dan terus dibentuk menjadi semakin kudus. Karena itu, rasul Paulus menegaskan,
"Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu" (1Tes. 4:3).
Pengudusan merupakan proses yang berlangsung sepanjang hidup. Allah memakai firman-Nya, karya Roh Kudus, bahkan berbagai pengalaman hidup untuk membentuk karakter kita agar semakin serupa dengan Kristus (Rm. 8:29). Ketika menghadapi sakit yang berkepanjangan, kesulitan ekonomi, kegagalan, atau berbagai pergumulan lainnya, kita diperhadapkan pada pilihan: apakah kita akan terus bersungut-sungut dan menjauh dari Tuhan, atau tetap percaya bahwa Allah sedang mengerjakan sesuatu yang baik melalui setiap proses tersebut? Keselamatan bukan hanya tentang diampuni dari hukuman dosa, tetapi juga tentang hidup yang terus diperbarui setiap hari. Orang yang telah diperdamaikan dengan Allah dipanggil untuk hidup dalam kekudusan hingga semakin mencerminkan karakter Kristus. Inilah karya Allah yang terus berlangsung dalam kehidupan setiap orang percaya sampai pada akhirnya kita menjadi serupa dengan Anak-Nya.
Pertanyaan
: Apakah kita memandang
keselamatan hanya sebagai pengampunan dosa, atau juga sebagai panggilan untuk
hidup dalam pengudusan? Kiranya melalui perenungan Firman Tuhan hari ini, kita
semakin memahami bahwa keselamatan yang Allah anugerahkan di dalam Kristus
bukan hanya membebaskan kita dari hukuman dosa, tetapi juga mengundang kita
untuk menjalani kehidupan yang terus diperbarui. Marilah kita membuka hati
terhadap setiap proses pembentukan yang Allah izinkan dalam hidup kita.
Sekalipun tidak selalu mudah, kita dapat yakin bahwa Roh Kudus sedang bekerja
membentuk karakter kita agar semakin mencerminkan Kristus. (TH)

Komentar
Posting Komentar