Bukan Sekedar Diampuni

Rabu, 8 Juli 2026
Bukan Sekedar Diampuni 
Bacaan Alkitab : Imamat 16: 6-10


Hari Pendamaian (Yom Kippur) merupakan salah satu perayaan terpenting dalam kehidupan Israel. Dalam bacaan hari ini, Allah memerintahkan Harun untuk mengambil dua ekor kambing jantan dan menempatkannya di hadapan TUHAN. Setelah membuang undi, satu kambing dipersembahkan sebagai korban penghapus dosa bagi TUHAN, sedangkan kambing yang lain tetap hidup untuk Azazel dan kemudian dilepaskan ke padang gurun.

Teolog Perjanjian Lama, Jacob Milgrom, menjelaskan bahwa kedua kambing tersebut bukanlah dua korban yang berbeda, melainkan satu korban penghapus dosa (aṭṭā’t) yang terdiri dari dua tindakan yang saling melengkapi. Hal ini terlihat karena kedua kambing dipilih secara bersamaan, harus memiliki kualitas yang sama, dan ditentukan melalui undi. Bahkan sebelum undi dibuang, Imamat telah menyebut keduanya sebagai satu korban penghapus dosa. Melalui kedua kambing tersebut Allah memperlihatkan dua aspek penting pendamaian. Darah korban menyatakan bahwa dosa harus diadili di hadapan Allah, sedangkan kambing yang dilepaskan menggambarkan bahwa dosa umat benar-benar disingkirkan dari tengah mereka. Dengan demikian Allah bukan hanya mengampuni, tetapi juga memulihkan hubungan-Nya dengan umat. Setelah proses penyucian selesai, imam besar mengaku segala dosa bangsa Israel di atas kepala kambing yang masih hidup (Im. 16:21). Kambing itu kemudian dilepaskan ke padang gurun sebagai lambang bahwa dosa telah disingkirkan dari tengah umat. Dengan demikian, Hari Pendamaian bukan hanya berbicara tentang pendamaian antara Allah dan umat-Nya, tetapi juga tentang penghapusan dosa dari komunitas umat Allah.

Saudara bagi orang percaya, seluruh rangkaian Hari Pendamaian ini menemukan penggenapannya di dalam karya Yesus Kristus (lih. Ibr. 9–10). Melalui kematian-Nya di kayu salib, Kristus menjadi korban pendamaian yang sempurna sehingga setiap orang yang percaya memperoleh pengampunan dosa (Yoh. 3:16). Namun, karya keselamatan Kristus tidak berhenti pada pengampunan. Allah juga memanggil setiap orang percaya untuk meninggalkan kehidupan yang dikuasai dosa dan terus dibentuk menjadi semakin kudus. Karena itu, rasul Paulus menegaskan, "Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu" (1Tes. 4:3).

Pengudusan merupakan proses yang berlangsung sepanjang hidup. Allah memakai firman-Nya, karya Roh Kudus, bahkan berbagai pengalaman hidup untuk membentuk karakter kita agar semakin serupa dengan Kristus (Rm. 8:29). Ketika menghadapi sakit yang berkepanjangan, kesulitan ekonomi, kegagalan, atau berbagai pergumulan lainnya, kita diperhadapkan pada pilihan: apakah kita akan terus bersungut-sungut dan menjauh dari Tuhan, atau tetap percaya bahwa Allah sedang mengerjakan sesuatu yang baik melalui setiap proses tersebut? Keselamatan bukan hanya tentang diampuni dari hukuman dosa, tetapi juga tentang hidup yang terus diperbarui setiap hari. Orang yang telah diperdamaikan dengan Allah dipanggil untuk hidup dalam kekudusan hingga semakin mencerminkan karakter Kristus. Inilah karya Allah yang terus berlangsung dalam kehidupan setiap orang percaya sampai pada akhirnya kita menjadi serupa dengan Anak-Nya.

Pertanyaan : Apakah kita memandang keselamatan hanya sebagai pengampunan dosa, atau juga sebagai panggilan untuk hidup dalam pengudusan? Kiranya melalui perenungan Firman Tuhan hari ini, kita semakin memahami bahwa keselamatan yang Allah anugerahkan di dalam Kristus bukan hanya membebaskan kita dari hukuman dosa, tetapi juga mengundang kita untuk menjalani kehidupan yang terus diperbarui. Marilah kita membuka hati terhadap setiap proses pembentukan yang Allah izinkan dalam hidup kita. Sekalipun tidak selalu mudah, kita dapat yakin bahwa Roh Kudus sedang bekerja membentuk karakter kita agar semakin mencerminkan Kristus. (TH)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Gaung Kekudusan Hidup

Kesiapan dalam Kesucian