Berelasi dengan Sang Mahasuci

Senin, 6 Juli 2026
Berelasi dengan Sang Mahasuci

Bacaan Alkitab : Imamat 15 : 31-33



Penutup Imamat 15 menegaskan alasan mengapa Allah memberikan berbagai ketentuan mengenai kenajisan. Tujuannya bukan sekadar mengatur kehidupan sehari-hari bangsa Israel, melainkan menjaga agar umat yang hidup di tengah hadirat Allah tidak menajiskan Kemah Suci dan mengalami hukuman. Ketentuan ini berhubungan dengan syarat kekudusan yang harus dipenuhi ketika umat datang dan beribadah di Kemah Suci Tuhan. Pada masa itu, bangsa-bangsa di kawasan Timur Dekat Kuno sering melakukan praktik percabulan di kuil-kuil sebagai bagian dari ritual korban dan penyembahan kepada dewa-dewa mereka. Latar belakang inilah yang membantu menjelaskan mengapa Allah menetapkan aturan mengenai kekudusan dan kenajisan bagi umat-Nya ketika mereka berada di hadapan-Nya di Kemah Suci.  Melalui ketetapan mengenai kenajisan ini, Allah mengajarkan bahwa umat-Nya tidak dapat menghampiri-Nya dengan sembarangan. Allah yang kudus berdiam di tengah-tengah Israel, sehingga kehidupan umat harus mencerminkan kekudusan-Nya. Oleh karena itu, berbagai ketentuan mengenai tahir dan najis bukan dimaksudkan untuk mempersulit kehidupan umat, melainkan untuk menjaga agar mereka tetap hidup dalam persekutuan dengan Allah yang kudus.

Kenajisan dipahami sebagai sesuatu yang menghalangi relasi antara umat dengan Allah. Melalui simbol-simbol kenajisan tersebut, Allah mengajarkan prinsip penting tentang bagaimana umat harus berelasi dengan-Nya. Allah sendiri menetapkan cara, syarat, dan ketentuan perjumpaan dengan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Karena itu, meskipun haid dan keluarnya air mani merupakan proses biologis yang wajar dan normal, Allah tetap menetapkannya dalam kategori tertentu dalam konteks ibadah dan kekudusan. Hal ini menunjukkan bahwa kekudusan Allah tidak dapat diatur menurut keinginan manusia, melainkan harus dihampiri sesuai dengan ketetapan-Nya. Melalui berbagai simbol ini, Allah mendidik bangsa Israel untuk membangun relasi yang benar dengan diri-Nya.

Dalam konteks kekristenan masa kini, orang percaya sering kali mengabaikan kekudusan Allah ketika berelasi dengan-Nya. Kesadaran bahwa hidup berada di bawah kasih karunia terkadang membuat sebagian orang kehilangan sikap hormat dan gentar saat menghampiri Allah. Tentu, yang dimaksud bukanlah rasa takut karena ancaman atau teror, melainkan kesadaran bahwa Allah yang kita hampiri adalah Sang Pencipta yang Mahakuasa, Mahaadil, dan Mahakudus. Kekudusan-Nya begitu agung dan seperti api yang menghanguskan, tidak dapat dipandang ringan. Oleh sebab itu, kasih, hormat, dan takut akan Tuhan seharusnya senantiasa menjadi sikap kita ketika datang menghampiri-Nya. (TM)

 

Refleksi : Apakah kasih, hormat, dan takut akan Tuhan senantiasa menjadi sikap saudara saat datang menghampiri-Nya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Gaung Kekudusan Hidup

Kesiapan dalam Kesucian