Berelasi dengan Sang Mahasuci
Berelasi dengan Sang Mahasuci
Bacaan Alkitab : Imamat 15 : 31-33
Penutup Imamat 15 menegaskan alasan mengapa Allah memberikan berbagai
ketentuan mengenai kenajisan. Tujuannya bukan sekadar mengatur kehidupan
sehari-hari bangsa Israel, melainkan menjaga agar umat yang hidup di tengah
hadirat Allah tidak menajiskan Kemah Suci dan mengalami hukuman. Ketentuan ini
berhubungan dengan syarat kekudusan yang harus dipenuhi ketika umat datang dan
beribadah di Kemah Suci Tuhan. Pada masa itu, bangsa-bangsa di kawasan Timur
Dekat Kuno sering melakukan praktik percabulan di kuil-kuil sebagai bagian dari
ritual korban dan penyembahan kepada dewa-dewa mereka. Latar belakang inilah
yang membantu menjelaskan mengapa Allah menetapkan aturan mengenai kekudusan
dan kenajisan bagi umat-Nya ketika mereka berada di hadapan-Nya di Kemah Suci. Melalui ketetapan mengenai kenajisan ini,
Allah mengajarkan bahwa umat-Nya tidak dapat menghampiri-Nya dengan
sembarangan. Allah yang kudus berdiam di tengah-tengah Israel, sehingga
kehidupan umat harus mencerminkan kekudusan-Nya. Oleh karena itu, berbagai
ketentuan mengenai tahir dan najis bukan dimaksudkan untuk mempersulit
kehidupan umat, melainkan untuk menjaga agar mereka tetap hidup dalam
persekutuan dengan Allah yang kudus.
Kenajisan dipahami sebagai sesuatu yang menghalangi relasi antara umat
dengan Allah. Melalui simbol-simbol kenajisan tersebut, Allah mengajarkan
prinsip penting tentang bagaimana umat harus berelasi dengan-Nya. Allah sendiri
menetapkan cara, syarat, dan ketentuan perjumpaan dengan-Nya sesuai dengan
kehendak-Nya. Karena itu, meskipun haid dan keluarnya air mani merupakan proses
biologis yang wajar dan normal, Allah tetap menetapkannya dalam kategori
tertentu dalam konteks ibadah dan kekudusan. Hal ini menunjukkan bahwa
kekudusan Allah tidak dapat diatur menurut keinginan manusia, melainkan harus
dihampiri sesuai dengan ketetapan-Nya. Melalui berbagai simbol ini, Allah
mendidik bangsa Israel untuk membangun relasi yang benar dengan diri-Nya.
Dalam konteks kekristenan masa kini, orang percaya sering kali
mengabaikan kekudusan Allah ketika berelasi dengan-Nya. Kesadaran bahwa hidup
berada di bawah kasih karunia terkadang membuat sebagian orang kehilangan sikap
hormat dan gentar saat menghampiri Allah. Tentu, yang dimaksud bukanlah rasa
takut karena ancaman atau teror, melainkan kesadaran bahwa Allah yang kita
hampiri adalah Sang Pencipta yang Mahakuasa, Mahaadil, dan Mahakudus.
Kekudusan-Nya begitu agung dan seperti api yang menghanguskan, tidak dapat
dipandang ringan. Oleh sebab itu, kasih, hormat, dan takut akan Tuhan
seharusnya senantiasa menjadi sikap kita ketika datang menghampiri-Nya. (TM)
Refleksi : Apakah kasih, hormat, dan takut akan Tuhan senantiasa
menjadi sikap saudara saat datang menghampiri-Nya.

Komentar
Posting Komentar