Allah adalah Pusat Ibadah
Allah adalah Pusat Ibadah
Imamat 17 menjadi pembuka dari
bagian Kitab Imamat yang sering disebut sebagai Hukum Kekudusan (Im.
17–26). Melalui bagian ini, Allah menegaskan bahwa kekudusan bukan hanya
menjadi tanggung jawab para imam, tetapi merupakan panggilan bagi seluruh umat
Israel. Karena itu, firman Tuhan disampaikan kepada Harun, anak-anaknya, dan
seluruh umat Israel (ay. 1-2). Allah menghendaki agar seluruh kehidupan
umat-Nya, termasuk cara mereka beribadah, mencerminkan kekudusan-Nya. Dalam
Imamat 17:3-5, Allah memerintahkan agar setiap orang Israel yang hendak
mempersembahkan korban dari lembu, domba, atau kambing membawanya ke pintu
Kemah Pertemuan.
Korban itu harus dibawa ke pintu
Kemah Pertemuan untuk dipersembahkan melalui imam di hadapan TUHAN. Siapa pun
yang mengabaikan perintah ini dianggap bersalah dan harus menerima hukuman yang
berat.
Sekilas, perintah ini tampak hanya
mengatur tempat penyembahan. Namun, sesungguhnya Allah sedang mengajarkan
prinsip yang jauh lebih dalam. Allah ingin seluruh ibadah Israel berpusat hanya
kepada-Nya. Pada masa itu, ada kecenderungan umat mempersembahkan korban di
tempat-tempat terbuka. Karena itu, Allah memusatkan seluruh korban di Kemah
Pertemuan untuk menjaga kemurnian ibadah umat dan mencegah mereka
mempersembahkan korban menurut cara bangsa-bangsa di sekitarnya. Gordon J. Wenham -Teolog PL- menjelaskan bahwa
ketentuan ini merupakan panggilan komunal. Seluruh umat dipanggil untuk menaati
cara Allah dalam beribadah. Melalui imam, seluruh proses korban diawasi
sehingga ibadah tetap murni dan sesuai dengan kehendak Tuhan.
Dari sini kita belajar bahwa Allah bukan hanya menentukan siapa yang disembah, tetapi juga bagaimana Ia harus disembah. Ibadah tidak boleh dibentuk menurut keinginan manusia, melainkan harus tunduk kepada firman Tuhan. Korban yang dipersembahkan bukan sekadar ritual, tetapi ungkapan ketaatan, penyerahan diri, dan pengakuan bahwa Allah adalah Tuhan atas seluruh kehidupan. Sayangnya, tantangan ibadah masa kini sering kali berbeda bentuk, tetapi memiliki akar yang sama. Tanpa disadari, pusat ibadah dapat bergeser dari Allah kepada manusia. Ada yang datang ke gereja hanya untuk menikmati musik, mengagumi pengkhotbah, mencari suasana yang nyaman, bertemu teman, atau sekadar memenuhi kewajiban. Semua itu dapat menjadi baik, tetapi bukan tujuan utama ibadah. Lebih jauh lagi, ibadah tidak berhenti ketika kebaktian selesai. Rasul Paulus mengingatkan agar orang percaya mempersembahkan tubuhnya sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah (Rm. 12:2). Artinya, ketika Allah menjadi pusat maka pekerjaan akan dilakukan dengan jujur, keluarga dibangun dalam kasih, pelayanan dilakukan dengan tulus, serta kehidupan yang berintegritas akan menjadi gaya hidup sehari-hari.
Pertanyaan : Apakah Allah sungguh menjadi pusat ibadah kita? Ataukah tanpa sadar kita telah menjadikan kenyamanan, tradisi, pelayanan, bahkan diri sendiri sebagai pusat perhatian? Allah yang kudus tetap mencari penyembah-penyembah yang datang kepada-Nya dengan hati yang tulus dan taat. Marilah kita belajar menjadikan Allah sebagai pusat seluruh hidup kita. Ketika Allah menjadi pusat, maka ibadah kita tidak hanya berlangsung di gereja pada hari Minggu, tetapi juga terpancar dalam setiap perkataan, keputusan, pekerjaan, dan relasi kita setiap hari. Inilah ibadah yang sejati: hidup yang terus-menerus memuliakan Allah. (TH)

Komentar
Posting Komentar