Telinga, Tangan, dan Kaki yang Dipulihkan
Telinga, Tangan, dan Kaki yang Dipulihkan
Carl Friedrich Keil -ahli
perjanjian lama- menyatakan bahwa Imamat 14:10–20 menjelaskan tahap
kedua dan puncak dari pentahiran seorang penderita ṣāraʿat (sering diterjemahkan
"kusta") setelah ia dinyatakan sembuh. Jika Imamat 14:1–9 berbicara
tentang penerimaan kembali ke dalam perkemahan, maka ayat 10–20 berbicara
tentang pemulihan penuh ke dalam persekutuan dengan Allah melalui korban-korban
di hadapan TUHAN. Korban tersebut adalah persembahan unjukkan, korban penebus
salah, korban penebus dosa, kurban bakaran dan kurban sajian sebagai pendamaian
Saudara,
urutan korban di sini agak unik. Biasanya korban penghapus dosa didahulukan,
tetapi dalam bagian ini korban penebus salah mendapat penekanan khusus dan
didahulukan. Dalam Imamat 13–14, orang yang terkena kusta harus diasingkan dari
perkemahan umat Allah. Ia kehilangan akses terhadap kehidupan ibadah dan
persekutuan umat. Ketika sembuh, masalah utamanya bukan sekadar dosa pribadi
yang harus diampuni, melainkan pemulihan statusnya sebagai anggota umat perjanjian.
Karena itu, korban penebus salah didahulukan sebagai tanda pemulihan dan
penerimaan kembali. Biasanya korban penebus salah berkaitan dengan pelanggaran
yang menimbulkan kerugian dan memerlukan restitusi (Im. 5–6). Namun dalam
Imamat 14 tidak ada unsur ganti rugi. Karena itu banyak ahli PL melihat bahwa
fungsi korban penebus salah di sini diperluas menjadi korban pemulihan status
kudus yang hilang. Orang kusta tidak bersalah secara
moral karena penyakitnya, tetapi ia kehilangan akses terhadap kekudusan dan
ibadah umat. Korban ini menandai pemulihan hak tersebut. Darah korban penebus
salah dioleskan pada: cuping telinga
kanan, ibu jari tangan kanan, ibu jari kaki kanan. Ritual ini identik dengan
pentahbisan imam dalam Im. 8. Ritual ini mengingatkan pada pentahbisan
imam dan melambangkan bahwa seluruh hidupnya kembali didedikasikan bagi Allah.
Saudara, arti dari "ditahbiskan kembali" adalah ia mengalami suatu bentuk penahbisan ulang ke dalam kehidupan kudus umat Allah. Simbolismenya mencakup: telinga yaitu mendengar dan menaati firman Allah, tangan yaitu tindakan dan pelayanan serta kaki yaitu perjalanan hidup dan perilaku. Dengan kata lain, seluruh hidup orang tersebut dipersembahkan kembali kepada Tuhan. Melalui Imamat 14:10–20, Tuhan mengingatkan bahwa Ia tidak hanya mengampuni, tetapi juga memulihkan. Ia tidak hanya memulihkan, tetapi juga menguduskan. Ia tidak hanya menguduskan, tetapi juga mengutus kita untuk hidup bagi kemuliaan-Nya. Oleh karena itu, setelah mengalami kegagalan, jatuh dalam dosa, sakit yang berkepanjangan, konflik keluarga, atau masa-masa jauh dari Tuhan. Seseorang dapat merasa tidak layak lagi melayani dan bersekutu dengan Allah. Namun melalui pentahiran orang yang sembuh dari kusta dalam Imamat 14:10–20, Tuhan menunjukkan bahwa pemulihan-Nya tidak berhenti pada pengampunan. Ia juga memulihkan tujuan hidup kita agar kembali hidup bagi-Nya. Dengan demikian, mari mendengarkan firman-Nya setiap hari, melayani Allah kembali dalam anugerah-Nya, dan hiduplah dalam kekudusan senantiasa.
Pertanyaan :
Bagian mana dari hidup
kita yang perlu dipersembahkan kembali kepada Tuhan hari ini: telinga yang
perlu lebih taat mendengar firman-Nya, tangan yang perlu kembali melayani, atau
kaki yang perlu kembali berjalan dalam kekudusan? Mari, ketika Tuhan memulihkan
kita jangan kembali hidup seperti sebelumnya. Serahkan kembali telinga untuk
mendengar firman-Nya, tangan untuk melayani-Nya, dan kaki untuk mengikuti
jalan-Nya. Pemulihan sejati bukan hanya membuat kita kembali berdiri, tetapi
membuat kita kembali hidup bagi kemuliaan Allah. (TH)

Komentar
Posting Komentar