Menjaga Kekudusan di Tengah Dunia yang berdosa
Menjaga Kekudusan di Tengah Dunia yang berdosa
Kisah ini terjadi ketika Allah memberikan hukum-hukum yang membedakan Israel sebagai umat-Nya yang Kudus . Hal ini
dianggap penting karena selama 400 tahun Bangsa Israel diperbudak oleh Bangsa
Mesir dan penting bagi Bangsa Israel mengetahui peraturan moral yang Allah
kehendaki sebagai pembeda dan kontras dramatis dari hal-hal yang selama ini
mereka anggap ebnar atau tidak perhatikan. Khususnya dalam ayat-ayat ini, Allah
mengatur larangan keras terhadap konsumsi segala jenis binatang merayap dan
berkeriapan di atas bumi. Larangan ini dipercaya bukan hanya sebagai aturan higienitas kuno tetapi
sebuah panggilan spiritual yang mendalam agar umat Israel menjaga diri mereka
agar tetap murni. Secara simbolik, larangan mengonsumsi binatang yang merayap
dan berkeriapan di atas bumi dalam Imamat 11:41-43 membawa pesan teologis yang
mendalam mengenai integritas ciptaan dan batas-batas rohani. Binatang yang
merayap dengan perutnya atau memiliki kaki yang sangat banyak di atas tanah
sering kali diasosiasikan dengan debu tanah, kutukan, dan kekacauan, sebagaimana
ular dalam kisah kejatuhan manusia.
Binatang yang merayap
dipandang sebagai makhluk yang termasuk kategori dilarang untuk dimakan menurut
ketetapan Allah, sehingga menjadi simbol pemisahan antara yang kudus dan yang
tidak kudus. Dengan menolak untuk memakan atau bersentuhan dengan kejijikan
tersebut, umat Israel secara simbolik diajar untuk menolak segala sesuatu yang
merusak tatanan kudus yang telah Allah tetapkan. Makanan bukan lagi sekadar
pemenuh kebutuhan biologis, melainkan sebuah ritual harian yang terus-menerus
mengingatkan mereka akan pentingnya menjaga kemurnian hati, pikiran, dan
tindakan agar tidak terseret ke dalam cara hidup yang cemar dan menjauhkan diri
dari hadirat-Nya.
Bagi jemaat Tuhan masa
kini, perintah ini tidak lagi mengikat secara hukum tentang makanan , melainkan
bertransformasi menjadi panggilan moral dan spiritual yang radikal untuk hidup
kudus di tengah dunia yang semakin tua dan jatuh, dimana "binatang
merayap" bagi orang percaya saat ini melambangkan rupa-rupa dosa,
kedagingan, dan kompromi moral yang sering kali menyusup secara perlahan ke
dalam kehidupan sehari-hari Bagaimana dengan kita saat ini? Apakah
kita masih sering mentoleransi hal-hal yang
dapat menjauhkan kita dari Allah? Saudara melalui renungan ini kita
diingatkan bahwa kenajisan atau berdosa tidak bisa bersatu dengan kekudusan.
Tuhan tidak mau kita terjatuh dalam kejijikan duniawi walau terkadang terasa
sangat menyenangkan jiwa. (SH)

Komentar
Posting Komentar