Keterbukaan Membawa Pemulihan
Keterbukaan Membawa Pemulihan
Sering kali manusia lebih suka menyembunyikan
kelemahannya daripada mengakuinya. Kita berusaha terlihat baik-baik saja,
padahal di dalam hati ada pergumulan, dosa, kepahitan, atau luka yang belum
diselesaikan. Kita takut diketahui orang lain dan bahkan terkadang berusaha
menutupi kondisi rohani kita di hadapan Tuhan. Namun Imamat 13:9-17 mengajarkan
sebuah prinsip penting: pemulihan
dimulai. Ketika kita bersedia mengakui kondisi kita yang sebenarnya. Dalam
bagian ini, seseorang yang memiliki gejala penyakit kusta harus datang kepada
imam untuk diperiksa. Ia tidak boleh menentukan sendiri keadaannya, apalagi
menyembunyikannya. Imam akan memeriksa dengan teliti untuk memastikan apakah
penyakit itu masih aktif atau sudah sembuh. Menariknya, ayat 12-13 menunjukkan
bahwa ketika penyakit itu telah menyebar ke seluruh tubuh dan tidak lagi
menunjukkan tanda-tanda infeksi yang aktif, imam dapat menyatakannya tahir.
Sebaliknya, apabila masih ada bagian yang menunjukkan tanda penyakit yang
hidup, orang itu tetap dinyatakan tidak tahir.
Dari sini kita melihat bahwa pemulihan tidak
terjadi tanpa pemeriksaan. Imam harus menganalisis seluruh kondisi orang
tersebut sebelum menyatakan bahwa ia telah sembuh. Tidak ada keputusan yang
terburu-buru atau hanya berdasarkan penampilan luar. Semua harus diperiksa
secara menyeluruh. Gambaran ini mengingatkan kita bahwa Tuhan juga melihat
hidup kita secara utuh. Ia tidak hanya melihat apa yang tampak di luar, tetapi
juga apa yang tersembunyi di dalam hati. Karena itu pemulihan sejati tidak
dimulai ketika kita berhasil menutupi masalah, melainkan ketika kita bersedia
membiarkan Tuhan memeriksa seluruh hidup kita. Hal lain yang penting adalah
kesediaan orang itu untuk datang kepada imam. Orang yang mengalami penyakit itu
harus menjalani pemeriksaan oleh imam agar statusnya dapat ditentukan dengan
benar, dan hal tersebut membutuhkan kesediaan untuk terbuka. Inilah tindakan keterbukaan yang menjadi awal
dari pemulihan. Jika ia memilih menyembunyikan kelemahannya, Maka ia tidak akan
pernah menerima kepastian mengenai keadaannya dan tidak akan pernah mengalami
pemulihan yang dinyatakan secara resmi. Demikian pula dalam kehidupan rohani.
Banyak orang ingin dipulihkan, tetapi tidak semua orang mau datang kepada Tuhan
dengan hati yang terbuka. Padahal pengakuan yang jujur adalah pintu masuk bagi
kasih karunia Tuhan. Secara metaforis, bagian ini juga berbicara tentang
hal-hal dalam hidup kita yang perlu diselesaikan terlebih dahulu. Kita datang
kepada Tuhan sebagai orang yang tidak layak karena dosa. Namun Tuhan tidak
menghendaki kita terus hidup dalam keadaan itu. Ia mengundang kita untuk
membawa segala sesuatu kepada-Nya agar dibereskan. Dosa yang disimpan,
kepahitan yang dipelihara, hubungan yang rusak, atau ketidaktaatan yang terus
dipertahankan tidak akan membawa kita kepada pemulihan. Semua itu harus
diserahkan kepada Tuhan dan diselesaikan di hadapan-Nya. Ketika seseorang jujur
mengakui kondisinya, Tuhan mulai bekerja memulihkan hidupnya.
Saudara, apakah ada area dalam hidup saya yang masih saya sembunyikan dari Tuhan? Biarlah kiranya kita memiliki keberanian untuk datang kepada Tuhan apa adanya, tanpa topeng dan tanpa kepura-puraan. Kiranya Roh Kudus menolong kita untuk jujur melihat kondisi diri kita, menyerahkan setiap pergumulan kepada-Nya, dan membiarkan Tuhan menyelesaikan apa yang perlu diselesaikan, sehingga kita mengalami pemulihan yang sempurna di dalam kasih karunia-Nya. (FS)

Komentar
Posting Komentar