Gaya Hidup Kudus
Gaya Hidup Kudus
Dalam bagian firman yang baru saja kita baca, kita melihat
bahwa Allah menyatakan diri-Nya sebagai Allah Israel yang membawa mereka keluar
dari tanah Mesir. “Akulah Tuhan Allahmu”
merupakan dasar kekudusan dalam hukum tentang binatang yang boleh
dimakan dan yang tidak boleh di makan. Hukum tersebut juga yang membedakan
antara yang najis dengan yang tahir.
Imamat 11 : 44-47 dipahami sebagai puncak teologis dari
seluruh hukum tentang makanan tahir dan najis. Fokus utamanya bukan pada
kesehatan semata, melainkan pada panggilan Israel untuk hidup kudus sebagai
umat milik Allah. Melalui pernyataan “Jadilah kamu kudus sebab Aku ini kudus”
kita dapat melihat bahwa Allah sedang melakukan suatu pemisahan antara umat-Nya
dengan bangsa lainnya. Allah juga sedang membentuk umat-Nya menjadi komunitas
yang berbeda dan mencerminkan karakter-Nya yang kudus. Dalam terang Perjanjian
Baru, panggilan untuk hidup kudus dipahami melalui karya Kristus dan Roh Kudus
dalam kehidupan orang percaya. Ketika seseorang bertobat dan percaya kepada
Kristus, Allah membenarkannya dan memulai karya pengudusan dalam hidupnya. Pengudusan
ini bukan hanya perubahan status di hadapan Allah, tetapi juga proses pembaruan
hidup yang terus berlangsung oleh pekerjaan Roh Kudus. Melalui proses tersebut,
orang percaya semakin dibentuk untuk mencerminkan karakter Kristus dalam
pikiran, perkataan, dan perbuatannya. Dengan demikian, kekudusan bukan sekadar
identitas yang diterima, melainkan kehidupan yang terus bertumbuh dalam kasih
dan ketaatan kepada Allah.
Saudara, walaupun
orang percaya tidak lagi terikat pada hukum makanan tahir dan najis, panggilan
untuk hidup kudus tetap berlaku karena Allah yang memanggil kita adalah Allah
yang kudus. Panggilan untuk hidup kudus merupakan bagian dari perjalanan iman
setiap orang percaya. Perjalanan ini dimulai ketika seseorang bertobat dan
menerima hidup baru di dalam Kristus, sehingga hubungannya dengan Allah
dipulihkan. Sejak saat itu, Roh Kudus terus bekerja membentuk karakter Kristus
dalam dirinya melalui proses pertumbuhan rohani yang berlangsung sepanjang
hidup. Melalui proses tersebut, orang percaya semakin dibentuk untuk hidup
dalam kasih, ketaatan, dan kekudusan yang mencerminkan kehendak Allah. Saat ini
mungkin banyak dari kita yang bergumul dengan: pengaruh media sosial, gaya
hidup konsumtif, kemurnian perkataan, integritas dalam pekerjaan serta kebiasaan
digital yang tidak sehat. Kekudusan pada masa kini bukan lagi tentang
membedakan makanan yang boleh atau tidak boleh dimakan, tetapi tentang
bagaimana kita memisahkan diri dari pola hidup dunia yang bertentangan dengan
kehendak Allah dan menyatu dalam kekudusan-Nya setiap hari. Kekudusan sebagai
gaya hidup dapat terlihat dalam cara kita menggunakan media sosial, menjaga
integritas di tempat kerja, memperlakukan sesama, serta memilih apa yang kita
konsumsi melalui pikiran dan hati kita setiap hari.
Saudara, mari sejenak kita merenungkan
firman yang baru saja kita dengar. Saudara, apakah kekudusan sudah menjadi gaya
hidup kita sehari-hari? Mari mintalah pertolongan pada Allah untuk senantiasa
menolong kita menjalani kehidupan yang berkenan kepada-Nya. (TH)

Komentar
Posting Komentar