“Datanglah Kepada-Ku dan Minum!”
“Datanglah Kepada-Ku dan Minum!”
Dalam bagian
Firman Tuhan yang baru saja kita baca dari Kitab Imamat 11:32–38, kita melihat
bahwa kenajisan bersifat menyebar. Ketika bangkai binatang najis jatuh ke atas
benda-benda tertentu, benda tersebut menjadi najis. Barang-barang yang
digunakan untuk pekerjaan, belanga tanah, air minum dalam belanga, bahkan
makanan yang terkena air itu turut menjadi najis sehingga belanga tanah harus
dipecahkan. Demikian juga pembakaran roti harus diruntuhkan apabila terkena
bangkai. Orang yang menyentuh bangkai pun menjadi najis. Semua ini menunjukkan
bahwa kenajisan dengan mudah menyebar kepada apa saja yang disentuhnya. Pada hukum
tentang kenajisan itu terdapat sebuah pengecualian yang menarik. Firman Tuhan
berkata, “...mata air atau sumur yang menampung air tetap tahir...” (ay. 36a).
Meskipun ada bangkai yang masuk ke dalamnya, mata air tetap dianggap tahir.
Dalam
budaya Timur Dekat kuno, air yang mengalir dipandang sebagai lambang kehidupan
dan pemurnian. Karena itu, dalam Perjanjian Lama
air hidup menjadi simbol penyucian, pembaruan, dan kehidupan yang berasal dari
Allah. Nabi Yeremia menyebut Allah sebagai
“sumber air yang hidup” (Yeremia 2:13), menunjukkan bahwa hanya Allah yang
menjadi sumber kehidupan yang murni di tengah dunia yang penuh dosa dan
kenajisan. Simbol ini mencapai penggenapannya dalam Yesus Kristus. Dalam Injil Yohanes 4:14, Yesus menyatakan diri-Nya
sebagai sumber air hidup yang memberi hidup kekal. Dalam pelayanan-Nya, kuasa
kehidupan dan kekudusan Kristus terbukti lebih besar daripada kenajisan. Ketika
Ia menyentuh orang mati, orang itu bangkit; ketika Ia menjamah orang kusta,
orang itu menjadi tahir (Markus 5:41–42; Markus 1:40–42). Semua ini menunjukkan
bahwa Kristus adalah sumber kehidupan yang mengalahkan dosa, kenajisan, dan
kematian.
Saudara-saudara,
pada masa kini manusia tetap mengalami “kehausan” rohani. Banyak orang hidup
dalam kekosongan, kelelahan batin, kecemasan, rasa tidak puas, dan kehilangan
arah. Dunia menawarkan banyak hal untuk
mengisi kekosongan itu—uang, hiburan, relasi, popularitas, pekerjaan, maupun
pencapaian—tetapi semuanya terbatas dan tidak mampu memuaskan hati manusia
sepenuhnya. Karena itu, Yesus berkata, “Barangsiapa haus, baiklah ia datang
kepada-Ku dan minum.” Undangan ini mengajarkan kita untuk datang kepada Tuhan
setiap hari: mencari Dia lebih dahulu, membawa pergumulan dalam doa, membaca
firman-Nya, dan menjadikan hubungan dengan Allah sebagai kebutuhan utama dalam
hidup kita. Dosa, kepahitan, dan beban kehidupan sering kali membuat hati
manusia menjadi kering dan tercemar, tetapi Kristus tetap menjadi sumber air
hidup yang tidak pernah berhenti mengalir.
Pertanyaan: Jika Kristus adalah sumber air hidup, apakah kita sedang tinggal dekat dengan sumber itu atau justru menjauh darinya? Jika kita sedang menjauh maka mari kepada Kristus yang adalah sumber mata air kehidupan dan Ia akan memenuhi hati kita dengan damai, kasih, pengharapan, dan sukacita yang tidak pernah habis. (TH)

Komentar
Posting Komentar