“Datanglah Kepada-Ku dan Minum!”

Jumat, 5 Juni 2026
“Datanglah Kepada-Ku dan Minum!” 
Bacaan Alkitab : Imamat 11 : 32-38



Dalam bagian Firman Tuhan yang baru saja kita baca dari Kitab Imamat 11:32–38, kita melihat bahwa kenajisan bersifat menyebar. Ketika bangkai binatang najis jatuh ke atas benda-benda tertentu, benda tersebut menjadi najis. Barang-barang yang digunakan untuk pekerjaan, belanga tanah, air minum dalam belanga, bahkan makanan yang terkena air itu turut menjadi najis sehingga belanga tanah harus dipecahkan. Demikian juga pembakaran roti harus diruntuhkan apabila terkena bangkai. Orang yang menyentuh bangkai pun menjadi najis. Semua ini menunjukkan bahwa kenajisan dengan mudah menyebar kepada apa saja yang disentuhnya. Pada hukum tentang kenajisan itu terdapat sebuah pengecualian yang menarik. Firman Tuhan berkata, “...mata air atau sumur yang menampung air tetap tahir...” (ay. 36a). Meskipun ada bangkai yang masuk ke dalamnya, mata air tetap dianggap tahir.

Dalam budaya Timur Dekat kuno, air yang mengalir dipandang sebagai lambang kehidupan dan pemurnian. Karena itu, dalam Perjanjian Lama air hidup menjadi simbol penyucian, pembaruan, dan kehidupan yang berasal dari Allah. Nabi Yeremia menyebut Allah sebagai “sumber air yang hidup” (Yeremia 2:13), menunjukkan bahwa hanya Allah yang menjadi sumber kehidupan yang murni di tengah dunia yang penuh dosa dan kenajisan. Simbol ini mencapai penggenapannya dalam Yesus Kristus. Dalam Injil Yohanes 4:14, Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber air hidup yang memberi hidup kekal. Dalam pelayanan-Nya, kuasa kehidupan dan kekudusan Kristus terbukti lebih besar daripada kenajisan. Ketika Ia menyentuh orang mati, orang itu bangkit; ketika Ia menjamah orang kusta, orang itu menjadi tahir (Markus 5:41–42; Markus 1:40–42). Semua ini menunjukkan bahwa Kristus adalah sumber kehidupan yang mengalahkan dosa, kenajisan, dan kematian.

Saudara-saudara, pada masa kini manusia tetap mengalami “kehausan” rohani. Banyak orang hidup dalam kekosongan, kelelahan batin, kecemasan, rasa tidak puas, dan kehilangan arah. Dunia menawarkan  banyak hal untuk mengisi kekosongan itu—uang, hiburan, relasi, popularitas, pekerjaan, maupun pencapaian—tetapi semuanya terbatas dan tidak mampu memuaskan hati manusia sepenuhnya. Karena itu, Yesus berkata, “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum.” Undangan ini mengajarkan kita untuk datang kepada Tuhan setiap hari: mencari Dia lebih dahulu, membawa pergumulan dalam doa, membaca firman-Nya, dan menjadikan hubungan dengan Allah sebagai kebutuhan utama dalam hidup kita. Dosa, kepahitan, dan beban kehidupan sering kali membuat hati manusia menjadi kering dan tercemar, tetapi Kristus tetap menjadi sumber air hidup yang tidak pernah berhenti mengalir.

Pertanyaan: Jika Kristus adalah sumber air hidup, apakah kita sedang tinggal dekat dengan sumber itu atau justru menjauh darinya? Jika kita sedang menjauh maka mari kepada Kristus yang adalah sumber mata air kehidupan dan Ia akan memenuhi hati kita dengan damai, kasih, pengharapan, dan sukacita yang tidak pernah habis. (TH)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Gaung Kekudusan Hidup

Yesus Disalibkan