Anugerah-Nya Menjangkau Semua Orang
Anugerah-Nya Menjangkau Semua Orang
Bacaan Alkitab : Imamat 14 : 21-32
Dalam bagian Firman Tuhan ini, Allah memberikan
ketentuan khusus bagi seorang penderita kusta yang telah sembuh tetapi
tergolong miskin. Jika orang yang mampu harus mempersembahkan beberapa jenis
korban, maka orang miskin diperbolehkan membawa persembahan yang lebih
sederhana sesuai dengan kemampuannya, yaitu seekor domba jantan, tepung terbaik
yang diolah dengan minyak, serta dua ekor burung tekukur atau dua ekor burung
merpati (ay. 21-22). Meskipun jenis dan jumlah korban berbeda, proses
pentahiran dan hasil akhirnya tetap sama. Orang miskin maupun orang kaya
sama-sama dipulihkan, diterima kembali dalam persekutuan umat Allah, dan
memperoleh akses yang sama untuk beribadah kepada-Nya. Hal ini menunjukkan
bahwa Allah menyediakan jalan pentahiran yang dapat dijangkau oleh setiap
orang, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi
Pada zaman Israel, kekayaan umumnya diukur dari
kepemilikan tanah, ternak, dan hasil pertanian. Namun Allah tidak menilai
manusia berdasarkan banyaknya harta yang dimiliki. Di hadapan-Nya, setiap orang
sama-sama diciptakan menurut gambar Allah, sama-sama membutuhkan anugerah-Nya,
dan sama-sama berharga di mata-Nya. Peraturan ini juga memperlihatkan karakter
Allah yang penuh belas kasihan. Allah tidak menurunkan standar kekudusan-Nya,
tetapi Ia menyediakan jalan agar orang yang lemah dan berkekurangan tetap dapat
datang kepada-Nya. Dengan demikian, hukum tentang korban bagi orang miskin
bukan sekadar aturan sosial, melainkan pernyataan tentang hati Allah yang
memperhatikan mereka yang rentan dan tidak ingin seorang pun terhalang untuk
bersekutu dengan-Nya.
Saudara, pada masa kini kita sering tanpa sadar
menilai orang berdasarkan pendidikan, pekerjaan, penampilan, jabatan, atau
kemampuan ekonomi. Bahkan dalam kehidupan bergereja, kita dapat memberi
perhatian lebih kepada mereka yang dianggap berhasil daripada kepada mereka
yang sederhana. Firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa Allah tidak memandang
manusia seperti dunia memandangnya. Karena itu, gereja dipanggil untuk menerima
setiap orang dengan hormat, menyediakan pelayanan yang dapat diakses oleh semua
kalangan, serta menolong mereka yang membutuhkan tanpa merendahkan martabatnya.
Kiranya melalui bagian ini kita belajar melihat sesama dengan cara pandang
Allah. Sebagaimana Allah membuka jalan pemulihan bagi setiap orang, demikian
pula kita dipanggil menjadi komunitas yang menghadirkan kasih, penerimaan, dan
belas kasihan-Nya kepada semua orang.
Pertanyaan : Bagaimana saya dapat menunjukkan kasih dan penerimaan
Allah kepada mereka yang sering diabaikan atau dipandang rendah oleh
masyarakat? Ingatlah bahwa korban yang dipersembahkan memang berbeda sesuai
kemampuan masing-masing, tetapi pemulihan yang diberikan Allah sama. Hal ini
menunjukkan bahwa kasih karunia Allah tidak diukur dari besarnya persembahan
seseorang, melainkan dari anugerah Allah yang menerima mereka. (TH)

Komentar
Posting Komentar