Pengudusan Progresif
Pengudusan Progresif
Bagian berikutnya dalam pasal tentang “korban penghapus dosa” berisi tentang ketentuan Imam untuk memakan korban di pelataran kemah suci. Setiap orang yang bersentuhan dengan korban menjadi kudus namun jika ada darah terpercik pada pakaian maka ia harus mencuci pakaian di suatu tempat yang kudus. Sedangkan untuk peralatan yang digunakan untuk memasak maka harus digosok dengan air dan dibasuh dengan air. Dan, darah korban harus dibakar dengan api.
Salah satu hal yang menarik dari bagian Firman Tuhan ini yaitu “Setiap orang yang bersentuhan dengan daging kurban itu menjadi kudus.” (ayat 27). Artinya, pendamaian bukan sekedar menghapus dosa tetapi mengubah status seseorang yaitu orang berdosa menjadi orang yang diampuni. Sehingga, mereka yang mempersembahkan korban dan menumpangkan tangan atasnya serta para imam yang memakan korban menjadi kudus. Jika kita perhatikan dalam hukum Taurat pola yang berlaku adalah yang najis menyentuh yang kudus maka yang kudus akan menjadi najis. Namun dalam bagian ini, terjadi pembalikan pola yang mengejutkan yaitu yang kudus justru “menular”. Hal ini sebabkan karena korban penghapus dosa itu disebut maha kudus, siapa pun yang bersentuhan dengannya ikut menjadi kudus. Bahkan jika darahnya memercik ke pakaian maka pakaian itu harus dicuci di tempat kudus, bukan karena najis, tetapi karena darah itu terlalu kudus untuk dibawa sembarangan. Dalam PB, melalui kisah tentang perempuan Samaria yang sakit pendarahan selama 12 tahun (Mrk. 5: 25-34), menurut hukum Taurat perempuan itu najis. Ia menyentuh jubah Yesus. Secara hukum, seharusnya Kristus menjadi najis. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Kenajisannya tidak menular kepada Yesus tetapi kekudusan Kristus menular kepadanya melalui peristiwa bahwa perempuan tersebut disembuhkan.
Dalam kehidupan iman saat ini, keselamatan dalam Kristus membawa kita pada status dan kehidupan yang baru dalam pengudusan untuk menjadi semakin serupa dengan-Nya. Pengudusan ini bersifat progresif sebab merupakan perjalanan seumur hidup artinya bukan berarti tanpa dosa tetapi respons kita terhadap dosa berubah. Ada pergumulan, pertobatan serta keinginan untuk berubah. Jika ditarik dalam kehidupan sehari-hari maka jika sebelumnya mudah marah maka akan belajar menguasai diri, jika sebelumnya egois maka akan bertumbuh dalam kasih, jika sebelumnya hidup menurut daging maka akan memiliki keinginan dipimpin Roh dan menjadi peka terhadap kehendak Allah. Pengudusan progresif adalah bukti nyata bahwa keselamatan itu hidup dan aktif di dalam diri seseorang. Jika tidak ada pertumbuhan, tidak ada pergumulan, tidak ada perubahan itulah bahaya rohani. Dengan demikian, meskipun dosa dapat merusak, namun kekudusan Allah akan memulihkan, menyembuhkan dan mengubah kehidupan kita.
Oleh karena itu, mari hidup dalam ketaatan kepada
firman-Nya dan menjadi semakin peka terhadap pimpinan Roh Kudus yang menolong
kita bertumbuh dalam pengudusan-Nya. Dalam perenungan kita bersama, apakah kita
telah menundukkan diri dalam proses pengudusan Allah dalam kehidupan kita?
Mintalah Roh Kudus menolong kita untuk senantiasa hidup dalam ketaatan kepada
firman-Nya. (TH)

Komentar
Posting Komentar