Pengudusan Mendahului Pelayanan
Pengudusan Mendahului Pelayanan
Dalam bagian ini digambarkan tahap awal penahbisan Harun
dan anak-anaknya sebagai imam. Fokus pertama adalah tindakan Allah yang lebih
dahulu menguduskan tempat, sarana dan kemudian baru orang-orang yang akan
melayaninya. Musa, atas perintah Tuhan mengurapi Kemah Suci, perabotannya,
mezbah dan bejana pembasuhan dengan minyak urapan. Ia memercikkan minyak pada
mezbah sebanyak tujuh kali sebagai tanda pengudusan yang sempurna. Musa juga
mengurapi Harun dengan minyak, mengenakan pakaian imam kepada anak-anak Harun
dan mempersembahkan korban penghapus dosa berupa lembu jantan, di mana Harun
dan anak-anaknya menumpangkan tangan di atas kepala korban. Darah korban
dibubuhkan pada tanduk mezbah, sedangkan kulit dan kotorannya dibakar di luar
perkemahan.
Saudara,
bagian ini merinci urutan pengudusan dengan tujuan pola ilahi yang tegas yaitu
Allah menguduskan, mendamaikan dan barulah manusia melayani. Beberapa ahli
perjanjian lama melihat dua jenis pengudusan yaitu : pertama, pengudusan tempat
atau pengudusan sarana ibadah seperti kemah suci,
perabotan dan mezbah. Hal ini menunjukkan bahwa tempat pertemuan dengan Allah
harus lebih dahulu dikuduskan oleh Allah sendiri. Kedua, pengudusan para
imam yang dilakukan terhadap pribadi imam melalui penumpangan tangan
pada korban penghapus dosa, darah yang dibubuhkan pada mezbah serta sisa korban
yang dibakar di luar perkemahan. Hal ini menunjukkan bahwa imam datang sebagai
orang berdosa yang harus dibereskan lebih dahulu sebelum menjadi perantara bagi
umat. Melalui dua jenis pengudusan di atas kita dapat melihat bahwa pengudusan
bukan hasil perasaan, moralitas, atau pengalaman manusia. Seseorang atau
sesuatu menjadi kudus karena Allah yang menetapkannya demikian melalui tindakan
nyata: pengurapan, darah korban, dan penetapan ilahi. Dengan kata lain
kekudusan adalah status yang Allah berikan, bukan prestasi yang manusia capai.
Saudara, bagian ini berbicara
sangat kuat bagi gereja dan pelayan Tuhan hari ini. Sering kali yang terjadi
adalah kebalikan orang ingin melayani dulu, baru berharap hidupnya dikuduskan
kemudian. Talenta didahulukan, karakter menyusul serta mimbar lebih menarik
daripada mezbah. Oleh karena itu, pelayan Tuhan mengalami kelelahan rohani,
skandal moral, serta pelayanan tanpa urapan. Jika pengudusan terjadi sebelum
melayani sebagai pengajar, berkhotbah atau melayani maka yang terlihat adalah
kehidupan doa pribadi yang nyata, pertobatan terus menerus, integritas,
kesiapan untuk taat serta takut akan Tuhan lebih daripada keinginan untuk
dipakai oleh Tuhan. Ini bukan syarat kesempurnaan tetapi bukti proses
pengudusan telah terjadi. Dengan demikian, kita mengetahui suatu pola Allah
dengan jelas yaitu pelayanan tidak pernah membuat seseorang kudus. Orang yang
sudah dikuduskan Allah-lah yang melayani. Dengan demikian, mari kita sadari
sebelum dipakai Allah maka Ia akan mengerjakan pengudusan dalam diri kita
sehingga kita tidak hanya melayani tetapi menyenangkan hati-Nya serta menjadi
berkat bagi sesama.
Pertanyaan : Apakah pelayanan saya
mengalir dari kehidupan yang dibereskan, atau hanya dari kemampuan? Ingatlah
bawa Allah akan menguduskan kita terlebih dahulu melalui ketaatan terhadap
perintah-perintah-Nya sebelum membawa kita pada pelayanan yang sesuai dengan talenta
kita. (TH)

Komentar
Posting Komentar