Pengudusan Mendahului Pelayanan

Rabu, 13 Mei 2026
Pengudusan Mendahului Pelayanan 
Bacaan Alkitab : Im. 8: 10-17

          Dalam bagian ini digambarkan tahap awal penahbisan Harun dan anak-anaknya sebagai imam. Fokus pertama adalah tindakan Allah yang lebih dahulu menguduskan tempat, sarana dan kemudian baru orang-orang yang akan melayaninya. Musa, atas perintah Tuhan mengurapi Kemah Suci, perabotannya, mezbah dan bejana pembasuhan dengan minyak urapan. Ia memercikkan minyak pada mezbah sebanyak tujuh kali sebagai tanda pengudusan yang sempurna. Musa juga mengurapi Harun dengan minyak, mengenakan pakaian imam kepada anak-anak Harun dan mempersembahkan korban penghapus dosa berupa lembu jantan, di mana Harun dan anak-anaknya menumpangkan tangan di atas kepala korban. Darah korban dibubuhkan pada tanduk mezbah, sedangkan kulit dan kotorannya dibakar di luar perkemahan.

Saudara, bagian ini merinci urutan pengudusan dengan tujuan pola ilahi yang tegas yaitu Allah menguduskan, mendamaikan dan barulah manusia melayani. Beberapa ahli perjanjian lama melihat dua jenis pengudusan yaitu : pertama, pengudusan tempat atau pengudusan sarana ibadah seperti kemah suci, perabotan dan mezbah. Hal ini menunjukkan bahwa tempat pertemuan dengan Allah harus lebih dahulu dikuduskan oleh Allah sendiri. Kedua, pengudusan para imam yang dilakukan terhadap pribadi imam melalui penumpangan tangan pada korban penghapus dosa, darah yang dibubuhkan pada mezbah serta sisa korban yang dibakar di luar perkemahan. Hal ini menunjukkan bahwa imam datang sebagai orang berdosa yang harus dibereskan lebih dahulu sebelum menjadi perantara bagi umat. Melalui dua jenis pengudusan di atas kita dapat melihat bahwa pengudusan bukan hasil perasaan, moralitas, atau pengalaman manusia. Seseorang atau sesuatu menjadi kudus karena Allah yang menetapkannya demikian melalui tindakan nyata: pengurapan, darah korban, dan penetapan ilahi. Dengan kata lain kekudusan adalah status yang Allah berikan, bukan prestasi yang manusia capai.
          Saudara, bagian ini berbicara sangat kuat bagi gereja dan pelayan Tuhan hari ini. Sering kali yang terjadi adalah kebalikan orang ingin melayani dulu, baru berharap hidupnya dikuduskan kemudian. Talenta didahulukan, karakter menyusul serta mimbar lebih menarik daripada mezbah. Oleh karena itu, pelayan Tuhan mengalami kelelahan rohani, skandal moral, serta pelayanan tanpa urapan. Jika pengudusan terjadi sebelum melayani sebagai pengajar, berkhotbah atau melayani maka yang terlihat adalah kehidupan doa pribadi yang nyata, pertobatan terus menerus, integritas, kesiapan untuk taat serta takut akan Tuhan lebih daripada keinginan untuk dipakai oleh Tuhan. Ini bukan syarat kesempurnaan tetapi bukti proses pengudusan telah terjadi. Dengan demikian, kita mengetahui suatu pola Allah dengan jelas yaitu pelayanan tidak pernah membuat seseorang kudus. Orang yang sudah dikuduskan Allah-lah yang melayani. Dengan demikian, mari kita sadari sebelum dipakai Allah maka Ia akan mengerjakan pengudusan dalam diri kita sehingga kita tidak hanya melayani tetapi menyenangkan hati-Nya serta menjadi berkat bagi sesama.

Pertanyaan : Apakah pelayanan saya mengalir dari kehidupan yang dibereskan, atau hanya dari kemampuan? Ingatlah bawa Allah akan menguduskan kita terlebih dahulu melalui ketaatan terhadap perintah-perintah-Nya sebelum membawa kita pada pelayanan yang sesuai dengan talenta kita. (TH)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Yesus Disalibkan

Kesaksian Paulus dalam Penjara