Pendamaian yang Membuka Hadirat Allah
Pendamaian yang Membuka Hadirat Allah
Dalam
Imamat 9:1–7, Allah memberikan dua kelompok perintah: pertama,
kepada Harun dan anak-anaknya. Mereka harus mempersembahkan korban penghapus
dosa yaitu seekor lembu muda dan seekor domba jantan yang tidak bercela. Kedua,
kepada bangsa Israel. Mereka harus mempersembahkan seekor kambing jantan
(korban penghapus dosa) dan seekor lembu serta domba berumur setahun (korban
bakaran). Selain itu mereka juga harus mempersembahkan seekor lembu dan domba
jantan (korban keselamatan) serta korban sajian yang diolah dengan minyak. Dua
kali tujuan perintah-perintah ini ditegaskan yaitu pada ayat 4, “... sebab pada
hari ini TUHAN akan menampakkan diri kepadamu.” Serta pada ayat 6, “... agar
kemuliaan TUHAN tampak kepadamu.” Artinya, seluruh rangkaian korban ini
bukanlah tujuan akhir, melainkan persiapan menuju pernyataan kemuliaan Allah. Bahkan
jika kita membaca sampai ayat 23–24, kita melihat klimaksnya: kemuliaan Tuhan
benar-benar tampak dan api Tuhan turun menghanguskan korban.
Teks ini menunjukkan bahwa
pendamaian bukan cara manusia memaksa Allah hadir, melainkan jalan yang Allah
sendiri sediakan supaya umat yang berdosa dapat kembali mendekat
kepada-Nya. Mengapa? Karena Allah itu
kudus, dosa menciptakan jarak antara Allah dan manusia, pendamaian memulihkan
relasi dan setelah itu barulah kemuliaan Allah dinyatakan.
Saudara,
sering kali kita lebih fokus pada kesiapan lahiriah ibadah: tempat yang nyaman,
pakaian yang rapi serta persembahan yang dipersiapkan. Namun, firman hari ini
mengingatkan bahwa pengakuan dosa bukan usaha membuat diri layak di hadapan
Allah, melainkan respons kerendahan hati orang yang rindu hidup dekat
dengan-Nya. Sebelum kita rindu mengalami hadirat Tuhan dalam ibadah, kita perlu
terlebih dahulu membereskan hati. Hal ini dapat dilakukan dengan cara luangkan
waktu sebelum ibadah untuk berdoa, mengingat kembali perjalanan hidup selama
seminggu, meminta Roh Kudus menunjukkan dosa yang mungkin kita abaikan,
mengakuinya di hadapan Tuhan dan berkomitmen meninggalkannya. Sikap senantiasa
mengaku dosa sebagai persiapan ibadah tidak menjadi kering, karena kita datang
dengan hati yang telah dipulihkan.
Dengan demikian, Imamat 9 mengajarkan bahwa ibadah sejati bukan hanya
tentang aktivitas lahiriah, tetapi tentang umat yang datang dengan hati yang
rindu berdamai dan hidup dekat dengan Allah.
Pertanyaan : Saudara,
mari sejenak kita merenungkan firman yang baru saja kita dengar. Saudara,
apakah selama ini saya lebih sibuk mempersiapkan hal-hal lahiriah sebelum
ibadah daripada mempersiapkan hati saya di hadapan Tuhan? Mari tumbuhkan sikap
membereskan hati melalui pengakuan dosa sebagai langkah menuju pemulihan dengan
Allah. (TH)

Komentar
Posting Komentar