Pendamaian yang Membuka Hadirat Allah

Selasa, 19 Mei 2026
Pendamaian yang Membuka Hadirat Allah
Bacaan Alkitab : Im. 9:1-7


     Dalam Imamat 9:1–7, Allah memberikan dua kelompok perintah: pertama, kepada Harun dan anak-anaknya. Mereka harus mempersembahkan korban penghapus dosa yaitu seekor lembu muda dan seekor domba jantan yang tidak bercela. Kedua, kepada bangsa Israel. Mereka harus mempersembahkan seekor kambing jantan (korban penghapus dosa) dan seekor lembu serta domba berumur setahun (korban bakaran). Selain itu mereka juga harus mempersembahkan seekor lembu dan domba jantan (korban keselamatan) serta korban sajian yang diolah dengan minyak. Dua kali tujuan perintah-perintah ini ditegaskan yaitu pada ayat 4, “... sebab pada hari ini TUHAN akan menampakkan diri kepadamu.” Serta pada ayat 6, “... agar kemuliaan TUHAN tampak kepadamu.” Artinya, seluruh rangkaian korban ini bukanlah tujuan akhir, melainkan persiapan menuju pernyataan kemuliaan Allah. Bahkan jika kita membaca sampai ayat 23–24, kita melihat klimaksnya: kemuliaan Tuhan benar-benar tampak dan api Tuhan turun menghanguskan korban.

Teks ini menunjukkan bahwa pendamaian bukan cara manusia memaksa Allah hadir, melainkan jalan yang Allah sendiri sediakan supaya umat yang berdosa dapat kembali mendekat kepada-Nya.  Mengapa? Karena Allah itu kudus, dosa menciptakan jarak antara Allah dan manusia, pendamaian memulihkan relasi dan setelah itu barulah kemuliaan Allah dinyatakan.

Saudara, sering kali kita lebih fokus pada kesiapan lahiriah ibadah: tempat yang nyaman, pakaian yang rapi serta persembahan yang dipersiapkan. Namun, firman hari ini mengingatkan bahwa pengakuan dosa bukan usaha membuat diri layak di hadapan Allah, melainkan respons kerendahan hati orang yang rindu hidup dekat dengan-Nya. Sebelum kita rindu mengalami hadirat Tuhan dalam ibadah, kita perlu terlebih dahulu membereskan hati. Hal ini dapat dilakukan dengan cara luangkan waktu sebelum ibadah untuk berdoa, mengingat kembali perjalanan hidup selama seminggu, meminta Roh Kudus menunjukkan dosa yang mungkin kita abaikan, mengakuinya di hadapan Tuhan dan berkomitmen meninggalkannya. Sikap senantiasa mengaku dosa sebagai persiapan ibadah tidak menjadi kering, karena kita datang dengan hati yang telah dipulihkan.  Dengan demikian, Imamat 9 mengajarkan bahwa ibadah sejati bukan hanya tentang aktivitas lahiriah, tetapi tentang umat yang datang dengan hati yang rindu berdamai dan hidup dekat dengan Allah.  

Pertanyaan : Saudara, mari sejenak kita merenungkan firman yang baru saja kita dengar. Saudara, apakah selama ini saya lebih sibuk mempersiapkan hal-hal lahiriah sebelum ibadah daripada mempersiapkan hati saya di hadapan Tuhan? Mari tumbuhkan sikap membereskan hati melalui pengakuan dosa sebagai langkah menuju pemulihan dengan Allah. (TH)

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Gaung Kekudusan Hidup

Yesus Disalibkan