Pelayanan Bukan Pengganti Pertobatan
Pelayanan Bukan Pengganti Pertobatan
Dalam Imamat 9:8-14, kita melihat momen ketika Harun mulai menjalankan pelayanan sebagai imam besar Israel setelah proses penahbisan dalam pasal sebelumnya. Namun hal yang menarik adalah: sebelum ia melayani umat, ia terlebih dahulu datang kepada Allah sebagai seorang berdosa yang membutuhkan pendamaian. Harun menyembelih korban itu, lalu darahnya dibubuhkan pada tanduk-tanduk mezbah dan dicurahkan ke dasar mezbah sesuai perintah Tuhan kepada Musa. Setelah korban penghapus dosa dipersembahkan, barulah ia melanjutkan dengan korban bakaran. Seluruh proses ini dilakukan secara teratur sebagai bagian dari ibadah yang telah ditetapkan Tuhan bagi Israel. Harun membutuhkan korban penghapus dosa sebelum menjalankan pelayanan kudusnya.
Bagian ini mengajarkan bahwa, inti dari pelayanan bukan pertama-tama tentang jabatan, kemampuan, atau kehormatan rohani, melainkan tentang hubungan yang benar dengan Allah. Bahkan seorang imam besar tetap membutuhkan pendamaian di hadapan Tuhan yang kudus. Pelayanan dimulai bukan dari kemuliaan manusia, tetapi dari pengakuan bahwa manusia adalah orang berdosa yang membutuhkan anugerah Allah. Pelayanan tidak pernah dapat menggantikan pertobatan. Harun tidak dapat berdiri begitu saja di hadapan Allah hanya karena ia telah dipilih menjadi imam. Ia tetap harus datang dengan korban penghapus dosa. Darah yang dibubuhkan pada tanduk mezbah menunjukkan bahwa dosa itu serius dan pendamaian itu mahal.
Hari ini banyak orang aktif dalam pelayanan, tetapi perlahan kehilangan kehidupan pertobatan. Pertobatan bukan hanya merasa bersalah atas dosa, tetapi kembali hidup bergantung kepada Tuhan, membuka hati untuk dibentuk-Nya, dan terus berjalan dalam anugerah-Nya. Kita bisa sibuk melayani di gereja, memimpin kegiatan rohani, bahkan berbicara tentang Tuhan, tetapi hati sebenarnya sedang jauh dari-Nya. Bagian ini mengingatkan bahwa Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita kerjakan, tetapi juga siapa kita di hadapan-Nya. Pelayanan yang benar lahir dari hati yang terus bertobat dan hidup dalam anugerah Tuhan. Sebab pada akhirnya, Tuhan tidak mencari manusia yang terlihat paling rohani, tetapi hati yang rendah, mau dibentuk, dan sungguh hidup dekat dengan-Nya.
Saudara, pernahkah kita merasa “cukup rohani” hanya karena aktif melayani? Aktif melayani tidak selalu berarti hidup kita dekat dengan Tuhan. Sebab Tuhan tidak hanya melihat kesibukan tangan kita, tetapi juga keadaan hati kita di hadapan-Nya. (RT)

Komentar
Posting Komentar