Kehidupan yang Berkenan

Kamis, 21 Mei 2026
Kehidupan yang Berkenan 
Bacaan Alkitab : Imamat 9:15–21


Imamat 9:15–21 menceritakan tentang bahwa setelah Harun yang mempersembahkan korban bagi dirinya sendiri. Kini ia mempersembahkan korban bagi umat Israel. Seluruh proses dilakukan dengan sangat teliti sesuai perintah Tuhan. Tidak ada bagian yang boleh dilakukan sembarangan. Melalui semua ritual ini, Tuhan sedang mengajarkan bahwa mendekati Allah bukan perkara biasa. Kekudusan berarti hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Dalam bagian ini terlihat bahwa setiap korban dipersembahkan sesuai dengan ketetapan Tuhan. Tidak ada bagian yang dilakukan sembarangan. Semua diatur dengan detail: bagaimana darah dipercikkan, bagian lemak dibakar, dan persembahan diangkat di hadapan Tuhan. 

Korban-korban ini bukan sekadar ritual lahiriah. Semua itu menggambarkan bahwa hidup manusia seharusnya dipersembahkan kepada Tuhan dengan hormat, ketaatan, dan penyerahan diri. Bagi pembaca modern, bagian ini mungkin terlihat seperti ritual yang rumit dan jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun sesungguhnya, Tuhan sedang menyampaikan prinsip rohani yang sangat penting, yaitu tentang kekudusan. Banyak orang berpikir bahwa kekudusan hanya berbicara mengenai moralitas: tidak mabuk, tidak berkata kasar, tidak melakukan dosa tertentu. Memang moralitas penting, tetapi Imamat menunjukkan bahwa kekudusan tidak berhenti pada perilaku lahiriah saja. Kekudusan berkaitan dengan bagaimana manusia hidup sesuai dengan kehendak Allah dan mempersembahkan hidup yang berkenan di hadapan-Nya.

Hal pertama yang dapat direnungkan adalah bahwa kekudusan itu bukan hanya moralitas, tetapi kehendak. Harun tidak mempersembahkan korban menurut caranya sendiri. Ia melakukan semuanya sesuai dengan apa yang Tuhan perintahkan. Ini menunjukkan bahwa inti kekudusan adalah ketaatan kepada kehendak Allah. Sering kali manusia lebih nyaman membangun standar kekudusan versinya sendiri. Ada yang merasa sudah kudus karena aktif melayani, rajin ke gereja, atau menjaga perilaku tertentu. Namun di saat yang sama, hati mereka tetap keras terhadap kehendak Tuhan. Mereka sulit mengampuni, sulit taat, sulit merendahkan diri, dan masih hidup mengikuti keinginan pribadi. Tuhan tidak hanya melihat tindakan luar, tetapi hati yang mau tunduk kepada-Nya. Kekudusan sejati terjadi ketika seseorang berkata, “Tuhan, aku mau hidup sesuai kehendak-Mu, bukan kehendakku.” Itulah sebabnya Yesus sendiri berkata, “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang jadi.” Kekudusan selalu berhubungan dengan penyerahan diri kepada Allah. Hal kedua, kekudusan bukan soal standar tertentu, tetapi soal hidup yang berkenan kepada Tuhan. Dalam kehidupan rohani, manusia sering terjebak membandingkan diri dengan orang lain. Ada yang merasa lebih rohani karena penampilan, pelayanan, atau disiplin tertentu. Akibatnya, kekudusan berubah menjadi pencitraan rohani. Namun Imamat mengajarkan bahwa fokus utama dari ibadah dan korban adalah Tuhan sendiri. Korban dipersembahkan bukan untuk dipuji manusia, tetapi agar berkenan kepada Allah. Dengan kata lain, ukuran kekudusan bukanlah seberapa kagum manusia kepada kita, melainkan apakah Tuhan berkenan atas hidup kita. Saudara, apakah hati kita sungguh-sungguh taat kepada-Nya? Apakah kita hidup untuk mencari kehendak Tuhan, atau hanya mempertahankan citra rohani di depan orang lain?

Biarlah melalui firman ini kita belajar bahwa kekudusan sejati bukan tentang menjadi paling sempurna, tetapi tentang memiliki hati yang mau dibentuk dan dipimpin oleh Tuhan setiap hari. (FS)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Gaung Kekudusan Hidup

Yesus Disalibkan