Kehidupan yang Berkenan
Kehidupan yang Berkenan
Imamat
9:15–21 menceritakan tentang bahwa setelah Harun yang mempersembahkan korban
bagi dirinya sendiri. Kini ia mempersembahkan korban bagi umat Israel. Seluruh
proses dilakukan dengan sangat teliti sesuai perintah Tuhan. Tidak ada bagian
yang boleh dilakukan sembarangan. Melalui semua ritual ini, Tuhan sedang
mengajarkan bahwa mendekati Allah bukan perkara biasa. Kekudusan berarti hidup
sesuai dengan kehendak-Nya. Dalam bagian ini terlihat bahwa setiap korban
dipersembahkan sesuai dengan ketetapan Tuhan. Tidak ada bagian yang dilakukan
sembarangan. Semua diatur dengan detail: bagaimana darah dipercikkan, bagian
lemak dibakar, dan persembahan diangkat di hadapan Tuhan.
Korban-korban
ini bukan sekadar ritual lahiriah. Semua itu menggambarkan bahwa hidup manusia
seharusnya dipersembahkan kepada Tuhan dengan hormat, ketaatan, dan penyerahan
diri. Bagi pembaca modern, bagian ini mungkin terlihat seperti ritual yang
rumit dan jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun sesungguhnya, Tuhan sedang
menyampaikan prinsip rohani yang sangat penting, yaitu tentang kekudusan.
Banyak orang berpikir bahwa kekudusan hanya berbicara mengenai moralitas: tidak
mabuk, tidak berkata kasar, tidak melakukan dosa tertentu. Memang moralitas
penting, tetapi Imamat menunjukkan bahwa kekudusan tidak berhenti pada perilaku
lahiriah saja. Kekudusan berkaitan dengan bagaimana manusia hidup sesuai dengan
kehendak Allah dan mempersembahkan hidup yang berkenan di hadapan-Nya.
Hal
pertama yang dapat direnungkan adalah bahwa kekudusan itu bukan hanya moralitas, tetapi kehendak. Harun tidak
mempersembahkan korban menurut caranya sendiri. Ia melakukan semuanya sesuai
dengan apa yang Tuhan perintahkan. Ini menunjukkan bahwa inti kekudusan adalah
ketaatan kepada kehendak Allah. Sering kali manusia lebih nyaman membangun
standar kekudusan versinya sendiri. Ada yang merasa sudah kudus karena aktif
melayani, rajin ke gereja, atau menjaga perilaku tertentu. Namun di saat yang
sama, hati mereka tetap keras terhadap kehendak Tuhan. Mereka sulit mengampuni,
sulit taat, sulit merendahkan diri, dan masih hidup mengikuti keinginan
pribadi. Tuhan tidak hanya melihat tindakan luar, tetapi hati yang mau tunduk
kepada-Nya. Kekudusan sejati terjadi ketika seseorang berkata, “Tuhan, aku mau
hidup sesuai kehendak-Mu, bukan kehendakku.” Itulah sebabnya Yesus sendiri
berkata, “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang jadi.” Kekudusan selalu
berhubungan dengan penyerahan diri kepada Allah. Hal kedua, kekudusan bukan soal standar tertentu, tetapi
soal hidup yang berkenan kepada Tuhan. Dalam kehidupan rohani, manusia
sering terjebak membandingkan diri dengan orang lain. Ada yang merasa lebih
rohani karena penampilan, pelayanan, atau disiplin tertentu. Akibatnya,
kekudusan berubah menjadi pencitraan rohani. Namun Imamat mengajarkan bahwa
fokus utama dari ibadah dan korban adalah Tuhan sendiri. Korban dipersembahkan
bukan untuk dipuji manusia, tetapi agar berkenan kepada Allah. Dengan kata
lain, ukuran kekudusan bukanlah seberapa kagum manusia kepada kita, melainkan
apakah Tuhan berkenan atas hidup kita. Saudara,
apakah hati kita sungguh-sungguh taat kepada-Nya? Apakah kita hidup untuk
mencari kehendak Tuhan, atau hanya mempertahankan citra rohani di depan orang
lain?
Biarlah
melalui firman ini kita belajar bahwa kekudusan sejati bukan tentang menjadi
paling sempurna, tetapi tentang memiliki hati yang mau dibentuk dan dipimpin
oleh Tuhan setiap hari. (FS)

Komentar
Posting Komentar