Kehadiran Penyembah dalam Persekutuan-Nya

Jumat, 8 Mei 2026
Kehadiran Penyembah dalam Persekutuan-Nya
Bacaan Alkitab : Im. 7: 28-34


          Dalam bagian pertama dalam perikop tentang, “imam dari segala kurban keselamatan” Allah kembali memerintahkan agar umat-Nya membawa persembahan tersebut dengan tangannya sendiri. Mereka akan membawa lemak, dada dan paha kurban untuk diunjukkan kepada Allah oleh imam. Lemak kurban akan dibakar dengan api, dada dan paha akan menjadi bagian Imam Harun dan anak-anaknya. Perintah ini akan menjadi ketetapan selamanya bagi Imam Harun dan anak-anaknya.

          Salah satu hal yang menarik dari bagian ini adalah, “Dengan tangannya sendiri ia harus membawa segala kurban api bagi Tuhan” (ayat 29 ). Perintah ini menunjukkan bahwa korban keselamatan karena nazar melibatkan pribadi yang bernazar, menuntut keterlibatan pribadi dari orang yang mempersembahkannya dan tidak dapat sepenuhnya diwakilkan oleh imam. Korban keselamatan melambangkan persekutuan dengan Allah yang dinyatakan dengan dimakan bersama. Bagian untuk Allah akan dibakar, lalu ada bagian masing-masing untuk Imam dan umat. Ini merupakan gambaran meja persekutuan dengan Allah, yang tidak mungkin terjadi jika orangnya tidak hadir secara pribadi. Dengan demikian, Allah menghendaki keterlibatan hati, bukan ritual  yang kosong. Tetapi ketika orang yang mempersembahkan korban membawa dengan tangannya maka ada kesadaran pribadi, ingatan akan pertolongan Tuhan. Dengan kata lain, tangan yang membawa menggambarkan hati yang terlibat.

          Saudara, melalui pembacaan Firman Tuhan di atas kita dapat melihat bahwa Allah menghendaki agar umat-Nya hadir secara pribadi, sadar, dan penuh syukur dalam relasi dengan-Nya. Ibadah bukan hanya tentang membayar persembahan, memberi perpuluhan, berdoa dan membaca Alkitab secara rutin. Sebab, semua itu dapat dilakukan tanpa hati hadir. Allah menghendaki kehadiran pribadi dalam persekutuan dengan-Nya. Oleh karena itu datanglah secara fisik ke gereja. Lalu, ketika hadir maka jangan datang hanya karena kewajiban tetapi datanglah dengan kesadaran : “Saya mau bertemu Tuhan” dan melibatkan hati saat menyanyi, berdoa dan mendengar Firman Tuhan. Dalam memberi persembahan : bukan sekedar transfer atau memasukkan amplop tetapi mengingat alasan mengapa kita memberi yaitu ungkapan syukur kepada Tuhan. Dalam melakukan doa pribadi maka bukan hanya sekedar menaikkan daftar permintaan tetapi hadirlah sungguh di hadapan Tuhan dan rasakan persekutuan bukan sekedar kewajiban atau rutinitas. Oleh karena itu, mari hadir secara utuh (fisik) serta dalam kesadaran yang penuh saat beribadah untuk menikmati persekutuan dengan Allah setiap minggu.

Pertanyaan : Saudara, mari sejenak kita merenungkan Firman yang baru saja kita dengar. Saudara, apakah diri kita benar-benar hadir saat beribadah? Korban keselamatan mengajarkan satu hal penting yaitu persekutuan dengan Allah menuntut kehadiran pribadi. Tangan yang membawa korban adalah gambaran hati yang hadir. Allah rindu umat-Nya datang sendiri, sadar, penuh syukur, dan menikmati persekutuan dengan-Nya. (TH)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Yesus Disalibkan

Kesaksian Paulus dalam Penjara