Kehadiran Penyembah dalam Persekutuan-Nya
Kehadiran Penyembah dalam Persekutuan-Nya
Bacaan Alkitab : Im. 7: 28-34
Dalam bagian pertama dalam perikop tentang, “imam dari
segala kurban keselamatan” Allah kembali memerintahkan agar umat-Nya membawa
persembahan tersebut dengan tangannya sendiri. Mereka akan membawa lemak, dada
dan paha kurban untuk diunjukkan kepada Allah oleh imam. Lemak kurban akan
dibakar dengan api, dada dan paha akan menjadi bagian Imam Harun dan
anak-anaknya. Perintah ini akan menjadi ketetapan selamanya bagi Imam Harun dan
anak-anaknya.
Salah satu hal yang menarik dari bagian ini adalah, “Dengan
tangannya sendiri ia harus membawa segala kurban api bagi Tuhan” (ayat 29 ).
Perintah ini menunjukkan bahwa korban keselamatan karena nazar melibatkan
pribadi yang bernazar, menuntut keterlibatan pribadi dari orang yang
mempersembahkannya dan tidak dapat sepenuhnya diwakilkan oleh imam. Korban
keselamatan melambangkan persekutuan dengan Allah yang dinyatakan dengan dimakan
bersama. Bagian untuk Allah akan dibakar, lalu ada bagian masing-masing untuk
Imam dan umat. Ini merupakan gambaran meja persekutuan dengan Allah, yang tidak
mungkin terjadi jika orangnya tidak hadir secara pribadi. Dengan demikian,
Allah menghendaki keterlibatan hati, bukan ritual yang kosong. Tetapi ketika orang yang
mempersembahkan korban membawa dengan tangannya maka ada kesadaran pribadi,
ingatan akan pertolongan Tuhan. Dengan kata lain, tangan yang membawa
menggambarkan hati yang terlibat.
Saudara, melalui pembacaan Firman Tuhan di atas kita dapat
melihat bahwa Allah menghendaki agar umat-Nya hadir secara pribadi, sadar, dan
penuh syukur dalam relasi dengan-Nya. Ibadah bukan hanya tentang membayar
persembahan, memberi perpuluhan, berdoa dan membaca Alkitab secara rutin.
Sebab, semua itu dapat dilakukan tanpa hati hadir. Allah menghendaki kehadiran
pribadi dalam persekutuan dengan-Nya. Oleh karena itu datanglah secara fisik ke
gereja. Lalu, ketika hadir maka jangan datang hanya karena kewajiban tetapi
datanglah dengan kesadaran : “Saya mau bertemu Tuhan” dan melibatkan hati saat
menyanyi, berdoa dan mendengar Firman Tuhan. Dalam memberi persembahan : bukan
sekedar transfer atau memasukkan amplop tetapi mengingat alasan mengapa kita
memberi yaitu ungkapan syukur kepada Tuhan. Dalam melakukan doa pribadi maka
bukan hanya sekedar menaikkan daftar permintaan tetapi hadirlah sungguh di
hadapan Tuhan dan rasakan persekutuan bukan sekedar kewajiban atau rutinitas.
Oleh karena itu, mari hadir secara utuh (fisik) serta dalam kesadaran yang
penuh saat beribadah untuk menikmati persekutuan dengan Allah setiap minggu.
Pertanyaan : Saudara, mari sejenak kita merenungkan Firman yang baru
saja kita dengar. Saudara, apakah diri kita benar-benar hadir saat beribadah?
Korban keselamatan mengajarkan satu hal penting yaitu persekutuan dengan Allah
menuntut kehadiran pribadi. Tangan yang membawa korban adalah gambaran hati
yang hadir. Allah rindu umat-Nya datang sendiri, sadar, penuh syukur, dan
menikmati persekutuan dengan-Nya. (TH)

Komentar
Posting Komentar